Kerinci, Eksisjambi.cpm – Di sebuah sudut Desa Batang Merangin, Kabupaten Kerinci, terdapat kisah pilu seorang bocah bernama Sinta Nuraini. Usianya baru 12 tahun, namun masa kecilnya tidak sama seperti anak-anak lain seusianya. Sejak lahir,
Sinta mengalami kelumpuhan fisik yang membuatnya tak berdaya, hanya bisa terkulai lemah di kursi roda tua yang sudah usang.
Setiap hari, Sinta duduk diam dengan tatapan sayu, Sementara teman-temannya berlari riang di halaman, ia hanya bisa menyaksikan dari kejauhan. Kursi roda yang selama ini menemaninya pun sudah rapuh, nyaris tak layak dipakai.
Yang lebih menyayat hati, sejak bertahun-tahun lalu orang tua Sinta telah berulang kali mengajukan permohonan bantuan kursi roda baru kepada pemerintah desa saat mereka masih tinggal di Desa Lubuk Paku, maupun setelah pindah ke Batang Merangin, harapan itu tak juga mendapat jawaban.
“Sudah berkali-kali kami ajukan permohonan, tapi tak pernah ada tanggapan. Padahal anak kami sangat membutuhkan kursi roda yang layak,” tutur ayah Sinta dengan mata berkaca-kaca.
Keluarga sederhana ini memang tidak mampu membeli kursi roda baru, Penghasilan yang pas-pasan hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, mereka hanya bisa berharap pada uluran tangan pemerintah maupun para dermawan.
Kini, di usianya yang beranjak remaja, Sinta masih bertahan dengan segala keterbatasannya,Tubuh ringkihnya terus menanti perhatian.
Harapan terbesar keluarga ini sederhana: ada kepedulian dari pemerintah, khususnya Dinas Sosial Kabupaten Kerinci, untuk memberikan kursi roda yang layak bagi putri mereka.
Sinta hanyalah satu dari banyak anak bangsa yang membutuhkan perhatian. Kisahnya menjadi pengingat bahwa masih ada wajah-wajah polos yang menunggu uluran tangan dan kepedulian.
Di balik senyumnya yang tulus, tersimpan doa tanpa henti, berharap suatu hari akan datang jawaban.(*)







