RIO DE JANEIRO, BRASIL – Suasana mencekam menyelimuti permukiman padat penduduk di Rio de Janeiro pada Selasa (28/10/2025), ketika aparat kepolisian melancarkan operasi besar-besaran untuk menggulung jaringan pengedar narkoba.
Aksi itu berubah menjadi baku tembak intens antara polisi dan anggota kartel, membuat kawasan tersebut tampak seperti medan perang.
Saksi mata melaporkan suara tembakan yang terdengar tanpa henti sejak pagi hari, di ikuti ledakan-ledakan kecil dari berbagai arah.
Warga sipil yang ketakutan berlarian mencari perlindungan, sementara toko-toko dan sekolah di sekitar lokasi terpaksa di tutup dan Jalan-jalan utama juga tampak lumpuh akibat blokade dan bentrokan bersenjata.
“Ini pertama kalinya kami melihat drone penjahat menjatuhkan bom ke arah masyarakat. Kami sangat takut,” ungkap seorang warga yang enggan di sebut namanya kepada media lokal O Globo.
Kepolisian Rio de Janeiro menyebut operasi tersebut menargetkan kelompok kriminal yang menguasai jalur distribusi narkoba dan senjata di beberapa favela (permukiman kumuh).
Dalam pernyataan resminya, pihak kepolisian mengklaim telah menewaskan sejumlah anggota kartel dan menyita senjata berat, amunisi, serta bahan peledak.
Namun, sejumlah organisasi hak asasi manusia (HAM) dan pengamat keamanan mengkritik keras pendekatan militeristik yang kerap di lakukan aparat di wilayah miskin Brasil.
Mereka menilai operasi semacam ini seringkali berujung pada korban sipil dan memperdalam siklus kekerasan tanpa menyentuh akar persoalan sosial dan ekonomi.
“Kebijakan keamanan berbasis konfrontasi seperti ini terbukti tidak efektif. Yang terjadi justru trauma bagi warga dan meningkatnya ketegangan sosial,” ujar Ana Paula Oliveira, (ISP).
Data dari lembaga tersebut mencatat, sepanjang 2025 sudah lebih dari 600 orang tewas akibat bentrokan bersenjata antara polisi dan kelompok kriminal di Rio de Janeiro angka tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Sementara itu, pemerintah negara bagian Rio de Janeiro menyatakan akan terus melanjutkan operasi “tanpa kompromi” terhadap jaringan narkoba.
Namun banyak pihak khawatir, jika pendekatan kekerasan tetap di pertahankan, maka perdamaian sejati di kawasan kumuh Rio hanya akan menjadi mimpi yang semakin jauh.(*)







