Home / Artikel / Daerah / Hukum / Internasional / Kota Sungai Penuh / Nasional / News

Minggu, 14 Desember 2025 - 08:43 WIB

Kerinci Tak Pernah Menyerah: Jejak Perlawanan Heroik yang Tercatat dalam Sejarah Nusantara

Istimewa

Istimewa

KERINCI, Jambi – Anggapan bahwa masyarakat Kerinci lemah terpatahkan oleh catatan sejarah yang panjang dan terdokumentasi. Dari abad ke-16 hingga masa revolusi kemerdekaan, tanah Kerinci dikenal sebagai wilayah yang sulit ditaklukkan dan memiliki tradisi perlawanan kuat terhadap kekuasaan asing maupun dominasi luar.

Berbagai sumber resmi, termasuk Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) Koleksi Jambi serta buku Sejarah Perjuangan Rakyat Kerinci terbitan tahun 1987, mencatat bahwa Kerinci bukan sekadar daerah dengan kekayaan budaya, melainkan juga tanah para pejuang yang berani mempertahankan martabatnya.

 Perlawanan Abad ke-16: Menggagalkan Dominasi Minangkabau

Pada abad ke-16, wilayah dataran tinggi Kerinci menjadi sasaran ekspansi Kesultanan Minangkabau. Namun, perlawanan sengit dipimpin oleh Raja Mudo, tokoh lokal Kerinci, berhasil memukul mundur pasukan penyerang.

Dengan memanfaatkan kondisi geografis berupa pegunungan, hutan lebat, dan jalur sempit, pasukan Kerinci menerapkan taktik perang gerilya. Sejumlah catatan sejarah menyebutkan ribuan pasukan musuh mengalami kebingungan di medan yang tidak mereka kuasai, hingga akhirnya terpaksa mundur dari wilayah Kerinci.

Baca Juga :  KOPIPEDE Harapkan Komisoner Bawaslu Terpilih Bekerja Secara Proposional Dan Sesuai Amanah UUD

Tahun 1792: Belanda Dipaksa Mundur

Upaya ekspansi kolonial Belanda ke wilayah Kerinci pada akhir abad ke-18 juga berakhir dengan kegagalan. Panglima Cik Tuo, tokoh perlawanan rakyat Kerinci, memimpin perlawanan yang membuat pasukan kolonial tak mampu bertahan.

Dalam arsip kolonial Belanda, Archief van het Ministerie van Koloniën (AVKC) No. 234/1793, disebutkan bahwa pasukan Belanda harus menarik diri akibat perlawanan rakyat yang masif dan kondisi medan yang dinilai “tidak mungkin ditembus”. Catatan tersebut menjadi bukti tertulis bahwa Kerinci merupakan wilayah yang sangat sulit dikuasai penjajah.

 1945–1949: Kerinci dalam Perang Kemerdekaan

Pada masa Revolusi Fisik mempertahankan kemerdekaan Indonesia, Kerinci kembali menunjukkan peran strategis. Sekitar 2.300 prajurit asal Kerinci tercatat bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan berbagai laskar rakyat.

Mereka terlibat langsung dalam upaya mempertahankan wilayah Kerinci dan sekitarnya dari upaya pendudukan kembali oleh Belanda dan kelompok kolaborator. Nama-nama pejuang yang gugur hingga kini diabadikan di Monumen Perjuangan Rakyat Kerinci di Sungai Penuh, sebagai pengingat pengorbanan generasi terdahulu.

Baca Juga :  Berdasarkan UU Jabatan ASN  Bisa Diisi PPPK

 Kekuatan yang Mengakar pada Jati Diri

Sejumlah sejarawan menilai kekuatan masyarakat Kerinci terletak pada tiga hal utama. Pertama, penguasaan medan yang menjadikan alam sebagai benteng alami. Kedua, solidaritas sosial yang tinggi, di mana seluruh dusun dan depati bersatu saat ancaman datang. Ketiga, semangat juang yang tak mudah padam, meski berhadapan dengan kekuatan yang jauh lebih besar.

 Warisan yang Tak Terhapus

Sejarah mencatat bahwa Kerinci bukanlah wilayah yang pasrah pada penindasan. Dari generasi ke generasi, semangat melawan ketidakadilan terus diwariskan sebagai bagian dari identitas kolektif masyarakatnya.

“Kerinci tak pernah menyerah. Itu bukan sekadar slogan, melainkan warisan sejarah yang tercatat dan tak terbantahkan,” tulis salah satu catatan sejarah lokal.

Dengan rekam jejak perjuangan tersebut, Kerinci menegaskan posisinya sebagai daerah yang memiliki kontribusi penting dalam sejarah perlawanan Nusantara—sebuah kebanggaan yang patut dijaga dan dikenang oleh generasi masa kini dan mendatang. (*)

Sumber : Nahkoda Arkeologi

Share :

Baca Juga

Proyek Kareta Cepat Whoosh

Internasional

Ignasius Jonan dan AHY Dipanggil ke Istana, Diduga Bahas Utang Raksasa Proyek Whoosh

Nasional

Ketua Forum Non ASN RI Kritik Penundaan Pengangkat  CPNS dan PPPK 
Ritual “uang balik” viral di media sosial

Daerah

Ritual “Uang Balik” Viral di Media Sosial, Pakar Ingatkan Masyarakat Tetap Rasional

Daerah

Veda Ega Pratama Finis P24 di FP1 Moto3 Jerez 2026, Tantangan Jadi Modal Evaluasi
Kopi Dunia

Internasional

Harga Kopi New York Menguat
Pemikiran Tan Malaka tentang ketimpangan di Deli menyoroti ironi wilayah kaya sumber daya yang justru memiskinkan rakyat akibat sistem eksploitasi kapitalis.

Daerah

Pemikiran Tan Malaka: “Surga Kapitalis, Neraka Proletar” di Tanah Kaya Sumber Daya
Foto : Teknologi & Strategi Militer

Daerah

Uji Penembakan Rudal Exocet Block 3 KRI I Gusti Ngurah Rai-332 Tunjukkan Kekuatan TNI AL
Penutupan Festival Budaya Kurintji 2025

Advertorial

Festival Budaya Kerinci 2025 Resmi Ditutup “Balik Ku Dahin” Gaungkan Semangat Pulang ke Akar Budaya