Artikel, http://Eksisjambi.com – Dalam tradisi perhitungan waktu atau sa’ah, dikenal adanya pembagian jam-jam tertentu yang dipercaya memiliki pengaruh baik maupun kurang baik terhadap aktivitas manusia. Perhitungan ini menggunakan ukuran jam dan hari, sehingga untuk mengetahuinya seseorang perlu mencermati waktu dan hari secara bersamaan.
Adapun pembagian tanda dalam sa’ah tersebut dijelaskan sebagai berikut:
1. Tanda Titik Lima (·5)
Jam dengan tanda titik lima diyakini sebagai waktu yang baik. Pada jam ini, seseorang dianjurkan untuk bepergian mencari rezeki, menuntut ilmu, mendirikan rumah, maupun menjalani peristiwa penting seperti kelahiran anak. Tanda titik lima dianggap sebagai pertanda kebaikan dan kemudahan dalam berbagai urusan.
2. Tanda Kali (×)
Jam yang bertanda kali dipercaya sebagai waktu yang kurang baik atau berpotensi membawa celaka. Oleh karena itu, disarankan untuk menghindari bepergian, mencari rezeki, atau melakukan aktivitas penting pada jam ini. Dalam kepercayaan tersebut, jam bertanda kali sering dikaitkan dengan datangnya bahaya, seperti musibah, kecelakaan, atau peristiwa duka.
3. Tanda Nol (0)
Tanda nol dimaknai sebagai tanda kosong. Pada jam ini, sebaiknya seseorang menahan diri untuk tidak bepergian atau mencari rezeki, karena dianggap tidak membawa hasil atau manfaat yang berarti.
4. Tanda Angka Satu (1)
Jam dengan tanda angka satu diartikan sebagai tanda selamat. Aktivitas pada jam ini dinilai aman, namun diyakini kurang mendatangkan rezeki atau hasil yang maksimal. Oleh sebab itu, meskipun tidak berbahaya, jam bertanda satu dianggap kurang ideal dibandingkan jam dengan tanda titik lima.
Pada akhirnya, perhitungan sa’ah ini hanyalah bentuk ikhtiar dan usaha manusia dalam memilih waktu. Yang terpenting, manusia tetap berkewajiban untuk berusaha dan berdoa, karena hakikatnya yang memberi hasil, bekas, dan kesan atas segala usaha hanyalah Allah SWT. (*)







