Home / Internasional / Nasional / News

Jumat, 26 Desember 2025 - 05:45 WIB

Rajab, Bulan Pulang: Ketika Hati Dilunakkan dan Pintu Ampunan Dibuka

syahrullah rajab

syahrullah rajab

Religi, http://Eksisjambi.com – Pernahkah kita merasakan suasana batin yang tiba-tiba melunak, seolah ada panggilan halus untuk “pulang” kepada Sang Pencipta saat kalender Islam memasuki bulan Rajab? Fenomena spiritual ini bukanlah kebetulan semata.

Rajab hadir layaknya embun pagi yang menyejukkan jiwa, menjadi jeda penuh makna sebelum umat Islam memasuki bulan Sya’ban dan mencapai puncak ibadah di bulan Ramadan.

Sebagai salah satu dari empat bulan haram, Rajab bukan sekadar penanda waktu dalam kalender hijriah. Ia adalah momentum transisi ruhani, saat langit seakan membuka pintu ampunan seluas-luasnya bagi hamba yang ingin membersihkan diri dari debu-debu dosa.

Suasana ini kerap di rasakan umat Islam sebagai dorongan untuk lebih banyak bermuhasabah, memperbanyak istighfar, dan menata ulang hubungan dengan Allah SWT.

Istilah bulan Allah (Syahrullah) yang di sematkan pada Rajab memiliki akar filosofis yang dalam. Secara bahasa, kata Rajab berasal dari tarjib yang berarti mengagungkan atau memuliakan.

Para ulama menyebutnya sebagai bulan Allah karena pada bulan ini, kemurahan dan rahmat Allah dalam mengampuni hamba-Nya begitu dominan.

Dalam tradisi lisan para salaf di sebutkan, jika Ramadan adalah bulan umat Muhammad SAW dan Sya’ban adalah bulan Nabi, maka Rajab adalah bulan yang di nisbatkan langsung kepada Allah SWT.

Ulama besar Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menjelaskan bahwa Rajab di sebut bulan Allah karena keistimewaan ibadah di dalamnya yang bersifat rahasia dan murni antara hamba dan Tuhannya. Pada bulan ini,

Baca Juga :  Bupati Tanjab Barat Ajak ASN Buka Puasa Bersama di Masjid Al-Anwar Sambut Malam Nisfu Sya’ban

Allah melipatgandakan pahala bagi mereka yang berpuasa dan memperbanyak istighfar. Kesucian Rajab, menurut Al-Ghazali, bersifat azali dan tidak dapat di ubah, menjadikannya waktu terbaik untuk menanam benih ketaatan sebelum di sirami di bulan Sya’ban.

Penjelasan senada di sampaikan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Al-Ghunyah li Thalibi Thariqil Haqq. Ia menyebut Rajab dengan julukan Al-Ashabb, yang berarti “mengucur”.

Maksudnya, rahmat Allah mengucur deras kepada hamba-hamba-Nya yang bertaubat di bulan ini. Julukan “bulan Allah” mengisyaratkan bahwa kemuliaan Rajab sepenuhnya datang dari ketetapan Allah, termasuk larangan peperangan dan perintah menjaga kedamaian sebagai simbol ketenangan lahir dan batin.

Landasan kemuliaan Rajab secara tegas di sebutkan dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi; di antaranya empat bulan haram.” (QS. At-Taubah: 36)

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’anil ‘Adhim menjelaskan bahwa Rajab merupakan salah satu dari empat bulan haram yang berdiri sendiri, tidak berurutan dengan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram.

Ia menegaskan larangan untuk menganiaya diri sendiri di bulan-bulan tersebut. Menurutnya, meski maksiat di larang kapan pun, melakukannya di bulan Allah seperti Rajab memiliki konsekuensi dosa yang lebih berat, sebagaimana ketaatan di dalamnya memiliki pahala yang lebih besar.

Baca Juga :  Kunci Rahasia Yang Membuka Mata Hati

Sementara itu, Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an menyebut Rajab sebagai Rajab Al-Fard, bulan haram yang “menyendiri”.

Kesendirian ini, menurutnya, menunjukkan keagungan khusus agar manusia fokus pada penyucian jiwa di tengah hiruk pikuk kehidupan. Rajab menjadi momentum “gencatan senjata” batin dari dominasi hawa nafsu.

Petuah klasik yang masyhur dari Syekh Abu Bakr Al-Balkhi, sebagaimana di kutip Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Lathaif Al-Ma’arif, menggambarkan Rajab sebagai bulan menanam benih, Sya’ban sebagai bulan menyiram, dan Ramadan sebagai masa panen.

Penisbatan Rajab sebagai bulan Allah menegaskan bahwa benih amal yang di tanam hendaknya murni karena Allah, tanpa campuran riya atau kepentingan duniawi.

Memasuki bulan Rajab, umat Islam di ajak untuk sedikit melambat dari laju dunia yang kerap melelahkan. Ini bukan tentang seberapa banyak ritual yang di lakukan, melainkan seberapa tulus hati mengetuk pintu ampunan-Nya.

Rajab adalah undangan lembut untuk berhenti sejenak, mengingat Sang Pemilik Hidup, serta menanam kebaikan sekecil apa pun dengan keyakinan penuh.

Di bulan Rajab ini tak ada langkah pulang yang sia-sia, Setiap niat baik, setiap istighfar. dan setiap upaya memperbaiki diri menjadi awal perjalanan menuju pelukan rahmat Allah SWT yang tak bertepi.***

Share :

Baca Juga

Polda Jambi

Daerah

Polda Jambi Ikuti Vicon Kapolri, Pastikan Kesiapan Pengamanan Libur Idulfitri 1447 H

Advertorial

Wagub Sani : Ridho Orang Tua Kunci Sukses di Masa Depan
Polda Jambi

Daerah

Polda Jambi Ungkap 113 Sindikat Narkoba Selama Januari 2026, Amankan 44,45 Kg Barang Bukti
Update Kode Redeem Mobile legends Terbaru

Daerah

Kode Redeem Mobile Legends Terbaru 11 Maret 2026 Ada Skin

Bangko

Pemdes Pulau Aro Dukung Penuh HUT Tabir Ulu
Manfaat posisi kaki diangkat ke dinding bagi kesehatan,

Daerah

Manfaat Posisi Kaki Diangkat ke Dinding untuk Kesehatan Tubuh

Daerah

Muhammadiyah Berpotensi Idul Fitri 20 Maret, Pemerintah Tunggu Hasil Rukyat
Sunan Kalijaga

Artikel

Filosofi Jawa Ajaran Sunan Kalijaga