Jakarta,http://Eksisjambi.com – Tren Joy of Missing Out (JOMO) menjadi fenomena besar dalam industri pariwisata global sepanjang tahun 2025. Berbeda dengan tren sebelumnya yang menekankan destinasi viral dan ramai pengunjung, JOMO justru mengajak wisatawan untuk menikmati perjalanan secara lebih tenang, personal, dan bermakna.
JOMO menggambarkan kebahagiaan seseorang ketika tidak ikut-ikutan tren, terutama tren wisata massal yang kerap di padati turis. Dalam konsep ini, berlibur bukan lagi tentang berburu foto ikonik atau mengikuti itinerary padat, melainkan tentang menikmati momen, ketenangan, dan koneksi dengan diri sendiri maupun alam sekitar.
Tren ini berkembang seiring meningkatnya kejenuhan wisatawan terhadap destinasi yang terlalu ramai, mahal, dan penuh tekanan sosial media. Banyak pelancong kini memilih tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota, seperti desa wisata, pantai terpencil, pegunungan, hingga penginapan kecil dengan pendekatan personal.
Selain itu, JOMO juga sejalan dengan meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental. Wisata dengan konsep slow travel, digital detox, hingga retreat alam menjadi favorit karena di nilai mampu memberikan pengalaman yang lebih berkesan di bandingkan sekadar mengikuti arus wisata populer.
Industri pariwisata pun mulai menyesuaikan diri. Hotel butik, homestay lokal, dan penyedia jasa wisata berbasis komunitas semakin di minati. Paket perjalanan kini lebih fleksibel, tidak terburu-buru, serta menyesuaikan kebutuhan dan minat wisatawan secara individual.
Menurut pengamatan, tren JOMO masih sangat relevan hingga saat ini, bahkan berpotensi bertahan dalam jangka panjang. Di tengah arus digital yang semakin cepat dan kehidupan yang serba kompetitif, kebutuhan akan ketenangan justru semakin tinggi.
Wisatawan kini lebih selektif dalam memilih destinasi dan pengalaman. Mereka tidak lagi ingin liburan yang melelahkan hanya demi mengikuti tren, melainkan perjalanan yang memberikan dampak positif secara emosional dan mental. JOMO menjawab kebutuhan tersebut dengan menawarkan kebebasan, kenyamanan, dan keaslian pengalaman.
Dengan perubahan pola pikir ini, JOMO bukan sekadar tren sesaat, melainkan pergeseran gaya berwisata yang mencerminkan nilai baru: kualitas lebih penting daripada popularitas.**







