Home / Daerah / Internasional / Nasional / News

Selasa, 17 Februari 2026 - 09:59 WIB

Waketum MUI: Awal Ramadan 1447 H Berpotensi Tidak Seragam, Umat Diminta Jaga Ukhuwah

Oplus_131072

Oplus_131072

JAKARTA, http://Eksisjambi.com  – Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH M Cholil Nafis menyatakan awal Ramadan 1447 Hijriah berpotensi tidak seragam di kalangan umat Islam Indonesia. Perbedaan tersebut di picu oleh perbedaan metode penetapan awal bulan hijriah yang di gunakan sejumlah pihak.

“Hampir di pastikan berpotensi berbeda, mengawali Ramadan ini kita berbeda. Karena sudah ada yang sudah menetapkan awal Ramadan pada 18 Februari ini. Karena menggunakan hisab sekaligus kalender global,” ujar Cholil Nafis, seperti di kutip dari situs resmi MUI di Jakarta, Senin (16/2/2026).

Menurut Cholil, secara astronomis posisi hilal pada saat matahari terbenam, 17 Februari 2026, di perkirakan masih berada di bawah 3 derajat. Sementara itu, ketentuan yang di sepakati dalam forum MABIMS yang melibatkan Menteri Agama dan ulama dari Malaysia, Indonesia, Singapura, dan Brunei Darussalam menetapkan bahwa hilal dapat di jadikan patokan awal Ramadan apabila sudah berada di atas 3 derajat saat matahari terbenam.

Baca Juga :  Pemerintah Akan Sidang Isbat Penentuan Ramadhan 1447 H 2026 

“Nah, menurut imkan rukyat kemungkinan hilal bisa di lihat ini tak mungkin dapat di amati,” jelasnya.

Dalam praktiknya, penentuan awal Ramadan di Indonesia kerap menggunakan dua pendekatan utama, yakni hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan langsung hilal). Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama biasanya mengombinasikan keduanya dalam sidang isbat untuk menetapkan awal Ramadan secara resmi.

Sementara itu, sebagian ormas Islam ada yang menggunakan metode hisab dengan kriteria tertentu, termasuk pendekatan kalender global, sehingga berpotensi menetapkan awal Ramadan lebih dahulu di banding keputusan pemerintah yang merujuk pada kriteria imkan rukyat MABIMS.

Perbedaan ini bukan hal baru dalam dinamika kehidupan keagamaan di Indonesia. Namun demikian, MUI menilai perbedaan tersebut seharusnya tidak menjadi sumber perpecahan.

Baca Juga :  Tradisi Balimau Sambut Ramadan di Sumatra Barat 

Cholil Nafis menekankan pentingnya menjaga ukhuwah Islamiyah di tengah potensi perbedaan awal puasa. Ia meminta umat Islam untuk tidak memicu gesekan yang dapat merusak persaudaraan hanya karena perbedaan metode penentuan awal Ramadan.

“Perbedaan ini hendaknya di sikapi dengan kedewasaan dan saling menghormati. Jangan sampai perbedaan awal puasa justru menimbulkan perpecahan di tengah umat,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa tujuan utama Ramadan adalah meningkatkan ketakwaan dan mempererat solidaritas sosial. Karena itu, semangat persatuan dan toleransi harus lebih di utamakan di banding perdebatan mengenai perbedaan teknis penentuan awal bulan.

Dengan adanya potensi perbedaan ini, masyarakat di imbau menunggu keputusan resmi pemerintah melalui sidang isbat, sekaligus menghormati pilihan pihak lain yang memiliki dasar metode dan keyakinan masing-masing.**

Share :

Baca Juga

Pasukan PBB

Internasional

Indonesia dan Sejumlah Negara lain Siap Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza 

Daerah

RSUP Dr. M. Djamil Perkuat Layanan Kesehatan Ibu dan Anak, Sinergi dengan POGI Sumbar
Lima fraksi DPRD Tanjung Jabung Timur menyoroti LKPJ Bupati 2025

Daerah

Infrastruktur Hingga SILPA Rp 80 Milar Lima Fraksi DPRD Tanjab Timur Soroti LKPJ Bupati 2025.

Daerah

Harga Kopi Arabika Melemah, Robusta Menguat Tipis

Bungo

Sukseskan Rakernas I PJS di Palembang, DPP Gelar Rapat Evaluasi dengan Panitia Pelaksana

Daerah

Capaian Kinerja Program Tahun 2021 di Dinas Ketahanan Pangan Kota Sungai Penuh
Waspada aplikasi WhatsApp palsu

Daerah

Waspada WhatsApp Palsu, Masyarakat Diminta Tingkatkan Keamanan Digital

Advertorial

DPRD Kabupaten Tanjab Barat Gelar Paripurna Ke 4