Religi,http://Eksisjambi.com – Ramadhan selalu menghadirkan pemandangan yang berbeda di berbagai penjuru negeri. Masjid-masjid yang sebelumnya lengang, kini dipenuhi jamaah. Shaf salat tarawih memanjang hingga ke pelataran, suara lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema lebih syahdu dari biasanya.
Namun di tengah keramaian itu, tak jarang muncul pertanyaan bernada sinis: “Kemana saja orang-orang ini selama ini? Kenapa baru datang saat Ramadhan?”
Pertanyaan tersebut sejatinya mengandung kegelisahan. Akan tetapi, ada jawaban yang lebih menenangkan untuk direnungkan bersama.
Ramadhan Adalah Undangan Terbuka
Ramadhan bukan milik segelintir orang. Ia adalah undangan terbuka dari Allah SWT untuk seluruh hamba-Nya.
Jika seseorang baru melangkahkan kaki ke masjid sekarang, itu bukan tanda kemunafikan. Justru bisa jadi itu pertanda bahwa imannya belum mati. Ada getaran di hati yang kembali hidup. Ada rindu yang akhirnya menemukan jalannya.
Lebih baik menjadi “hamba musiman” yang mencoba kembali, daripada tidak datang sama sekali.
Jangan Menjadi “Penjaga Pintu Surga”
Tugas setiap muslim adalah beribadah dan memperbaiki diri, bukan mengaudit iman orang lain.
Ada bahaya kesombongan ketika seseorang merasa lebih suci hanya karena lebih rutin datang ke masjid. Bisa jadi satu sujud penuh rasa malu dan tangis dari mereka yang baru kembali, lebih dicintai Allah dibanding seribu rakaat yang dikerjakan dengan hati yang merasa paling benar.
Kesalehan bukan untuk dipamerkan, apalagi dijadikan alat menghakimi.
Sambut Dengan Ramah, Bukan Dengan Sindiran
Bagi yang sudah menjadi “penduduk tetap” masjid, Ramadhan adalah momen untuk menyambut saudara-saudara yang baru kembali.
Senyum, sapaan hangat, dan rasa persaudaraan bisa menjadi sebab mereka bertahan setelah Ramadhan usai. Sebaliknya, pandangan sinis dan bisikan cibiran bisa membuat mereka tak pernah kembali lagi setelah Idulfitri.
Buatlah mereka nyaman agar betah di rumah Allah Azza wa Jalla.
Hidayah Butuh Pemicu
Tidak semua orang mudah melangkah menuju kebaikan. Ada yang hatinya berat, ada yang masih berjuang dengan dosa dan kebiasaan lama.
Ramadhan menghadirkan suasana kolektif yang memudahkan orang untuk mulai berubah. Lingkungan yang mendukung, suasana ibadah yang kuat, dan semangat kebersamaan menjadi pemicu lahirnya taubat.
Lebih baik masjid penuh oleh orang-orang yang sedang mencoba bertaubat, daripada kosong oleh mereka yang merasa tak butuh kepada Allah.
Janji Allah untuk Hamba-Nya
Dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad ﷺ bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman:
“Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku.
Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku pun mengingatnya dalam diri-Ku.
Jika ia mengingat-Ku dalam suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya dalam kumpulan yang lebih baik dari mereka.
Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta.
Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa.
Dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku datang kepadanya dengan berlari.”
Hadis ini menjadi pengingat bahwa setiap langkah kecil menuju Allah tidak pernah sia-sia.
Marhaban Ya Ramadhan
Ramadhan adalah bulan rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Ia adalah kesempatan kedua, bahkan kesempatan yang mungkin tak datang dua kali.
Mari rayakan ramainya masjid dengan hati yang lapang. Bukan dengan penghakiman, melainkan dengan doa agar semua yang datang tetap istiqamah setelah Ramadhan berlalu.
Marhaban ya Ramadhan. Semoga Allah mengampuni kita semua. Aamiin Allahumma Aamiin.**







