JAKARTA, http://Eksisjambi.com – Di masa tuanya, Buya Sutan Mansur tetap menjadi figur sentral dalam perjalanan pemikiran dan gerakan Muhammadiyah. Meski telah memasuki usia senja, semangat dakwah dan pengabdiannya kepada umat Islam tidak pernah surut. Buya memilih menetap di Jakarta dan menjalani hari-harinya sebagai penasihat organisasi Muhammadiyah, sekaligus rujukan spiritual bagi banyak tokoh bangsa.
Kediamannya di kawasan Tanah Abang di kenal tidak pernah sepi dari kunjungan. Sejumlah tokoh nasional seperti Mohammad Natsir dan Kasman Singodimedjo kerap datang untuk berdiskusi dan meminta nasihat keagamaan.
Di kalangan Muhammadiyah, beliau akrab di sapa sebagai “Buya Tuo”, sosok sepuh yang di hormati karena keteguhan prinsip dan kejernihan pemikiran.
Meski tidak lagi aktif di struktur kepemimpinan, Buya Sutan Mansur tetap menunjukkan keberanian sikap. Pada tahun 1977, beliau secara terbuka menyatakan dukungan politiknya kepada partai yang membawa aspirasi Islam.
Sikap tersebut bukan di landasi kepentingan pribadi, melainkan panggilan hati nurani sebagai seorang ulama yang meyakini pentingnya nilai-nilai Islam hadir dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Selain dakwah lisan, Buya Sutan Mansur meninggalkan warisan intelektual yang sangat berharga melalui karya tulisnya. Sejumlah buku penting lahir dari tangan beliau, di antaranya Pokok-Pokok Pergerakan Muhammadiyah, Tauhid Membentuk Pribadi Muslim, dan Ruh Jihad.
Karya-karya tersebut hingga kini menjadi rujukan utama warga Muhammadiyah dalam memahami aqidah, ideologi gerakan, serta semangat perjuangan Islam.
Pemikiran Buya menegaskan bahwa tauhid bukan sekadar konsep teologis, melainkan kekuatan penggerak yang harus melahirkan amal nyata di tengah masyarakat. Tauhid, menurut beliau, menuntut keberanian melawan ketidakadilan, membela kebenaran, dan menumbuhkan etos perjuangan demi kemaslahatan umat.
Perjalanan panjang Sang Bintang Barat ini akhirnya berakhir pada 25 Maret 1985. Buya Sutan Mansur wafat dalam usia 89 tahun setelah sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Islam Jakarta.
Jenazah beliau di makamkan di TPU Tanah Kusir dan di iringi penghormatan luas dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh agama, aktivis Muhammadiyah, hingga pejabat negara dan menteri.
Hingga kini, nama Buya Sutan Mansur terus di kenang. Sejumlah gedung universitas dan auditorium di abadikan dengan namanya sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan pengabdiannya.
Warisan pemikiran beliau, termasuk semangat “Khitah Palembang”, tetap hidup dan menjadi fondasi penting bagi arah perjuangan Muhammadiyah serta kemajuan umat Islam di Indonesia.**







