Home / Daerah / Internasional / Nasional / News / Religi

Jumat, 16 Januari 2026 - 21:08 WIB

Masa Tua, Warisan Karya Tulis, dan Akhir Hayat Sang Ideolog Muhammadiyah

Oplus_131072

Oplus_131072

JAKARTA, http://Eksisjambi.com –  Di masa tuanya, Buya Sutan Mansur tetap menjadi figur sentral dalam perjalanan pemikiran dan gerakan Muhammadiyah. Meski telah memasuki usia senja, semangat dakwah dan pengabdiannya kepada umat Islam tidak pernah surut. Buya memilih menetap di Jakarta dan menjalani hari-harinya sebagai penasihat organisasi Muhammadiyah, sekaligus rujukan spiritual bagi banyak tokoh bangsa.

Kediamannya di kawasan Tanah Abang di kenal tidak pernah sepi dari kunjungan. Sejumlah tokoh nasional seperti Mohammad Natsir dan Kasman Singodimedjo kerap datang untuk berdiskusi dan meminta nasihat keagamaan.

Di kalangan Muhammadiyah, beliau akrab di sapa sebagai “Buya Tuo”, sosok sepuh yang di hormati karena keteguhan prinsip dan kejernihan pemikiran.

Meski tidak lagi aktif di struktur kepemimpinan, Buya Sutan Mansur tetap menunjukkan keberanian sikap. Pada tahun 1977, beliau secara terbuka menyatakan dukungan politiknya kepada partai yang membawa aspirasi Islam.

Baca Juga :  Ringkasan Ilmu Tauhid Sifat 20, Pondasi Akidah Umat Islam

Sikap tersebut bukan di landasi kepentingan pribadi, melainkan panggilan hati nurani sebagai seorang ulama yang meyakini pentingnya nilai-nilai Islam hadir dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Selain dakwah lisan, Buya Sutan Mansur meninggalkan warisan intelektual yang sangat berharga melalui karya tulisnya. Sejumlah buku penting lahir dari tangan beliau, di antaranya Pokok-Pokok Pergerakan Muhammadiyah, Tauhid Membentuk Pribadi Muslim, dan Ruh Jihad.

Karya-karya tersebut hingga kini menjadi rujukan utama warga Muhammadiyah dalam memahami aqidah, ideologi gerakan, serta semangat perjuangan Islam.

Pemikiran Buya menegaskan bahwa tauhid bukan sekadar konsep teologis, melainkan kekuatan penggerak yang harus melahirkan amal nyata di tengah masyarakat. Tauhid, menurut beliau, menuntut keberanian melawan ketidakadilan, membela kebenaran, dan menumbuhkan etos perjuangan demi kemaslahatan umat.

Baca Juga :  Kerinci Kembali Mencuri Perhatian Dunia Lewat Event Internasional Kerinci 100

Perjalanan panjang Sang Bintang Barat ini akhirnya berakhir pada 25 Maret 1985. Buya Sutan Mansur wafat dalam usia 89 tahun setelah sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Islam Jakarta.

Jenazah beliau di makamkan di TPU Tanah Kusir dan di iringi penghormatan luas dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh agama, aktivis Muhammadiyah, hingga pejabat negara dan menteri.

Hingga kini, nama Buya Sutan Mansur terus di kenang. Sejumlah gedung universitas dan auditorium di abadikan dengan namanya sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan pengabdiannya.

Warisan pemikiran beliau, termasuk semangat “Khitah Palembang”, tetap hidup dan menjadi fondasi penting bagi arah perjuangan Muhammadiyah serta kemajuan umat Islam di Indonesia.**

Share :

Baca Juga

Advertorial

Letkol Inf Suyono Zoom Meeting Dengan Gubernur Jambi dan Danrem 042/Gapu, Serta Mengikuti Penanaman Padi Serentak

Daerah

Ahmadi Zubir Mohon Maaf Atas Kemacetan Lalin, Saat Daftar Ke KPU

News

Demokrat Kota Sungai Penuh Siap Menjemput Kemenangan di Pileg Tahun 2024

Advertorial

Rapat Paripurna IV Masa Persidangan I DPRD Kota Sungai Penuh

Daerah

BMKG Rilis Update Prediksi Musim Kemarau 2026
Berebut tiket Grand Finals dengan total hadiah US$3 juta atau sekitar Rp49 miliar.

Daerah

PUBG Mobile World Cup 2026 Perebutkan Hadiah Rp49 Miliar dan Tiket ke Grand Finals

Advertorial

DPRD Hardizal Hadiri Perpanjang Jabatan Kades, BPD,Ketua TP.PKK Desa dan Bunda Paud

Daerah

DPD PJS Jambi Bentuk DPC PJS Sungai Penuh-Kerinci