Surabaya, http://Eksisjambi.com – Arca Joko Dolog merupakan salah satu peninggalan bersejarah dari Kerajaan Singhasari yang hingga kini masih menjadi saksi perjalanan panjang sejarah Nusantara. Sebuah potret lawas tahun 1910 memperlihatkan arca tersebut masih berada di ruang terbuka sebelum akhirnya di tempatkan di lokasi yang lebih layak untuk di lestarikan.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, Arca Joko Dolog pernah hendak di angkut ke Belanda pada masa kolonial. Namun upaya tersebut di sebut gagal karena kapal yang membawanya di kabarkan tenggelam di perairan Tanjung Perak, Surabaya. Kisah ini telah lama beredar sebagai cerita rakyat, meski belum memiliki bukti sejarah yang dapat memastikannya.
Arca Joko Dolog memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi karena pada bagian alasnya terdapat Prasasti Wurare yang di tulis menggunakan bahasa Sanskerta. Prasasti tersebut terdiri atas 19 bait yang memuat sejumlah peristiwa penting dalam sejarah Jawa Kuno.
Isi prasasti antara lain menjelaskan mengenai pembagian Kerajaan Kahuripan menjadi dua wilayah, yakni Janggala dan Panjalu, serta proses penyatuan kembali kedua kerajaan tersebut pada masa Raja Wisnuwardhana. Selain itu, prasasti juga memuat penobatan Raja Kertanegara sebagai Buddha Mahaksobhya.
Arca Joko Dolog di yakini merupakan perwujudan Raja Kertanegara, penguasa terakhir Kerajaan Singhasari yang bergelar Paduka Sri Maharajadhiraja Kertanegara Wikrama Dharmmottunggadewa.
Arca ini di pahat oleh seorang seniman bernama Nada sekitar tiga tahun sebelum Kertanegara wafat akibat serangan pasukan Jayakatwang, Adipati Gelang-gelang, yang memberontak terhadap Kerajaan Singhasari.
Secara fisik, Arca Joko Dolog memiliki ukuran panjang sekitar 166 sentimeter, lebar 138 sentimeter, dan tebal 105 sentimeter.
Arca Joko Dolog di gambarkan berkepala gundul dengan posisi duduk dalam sikap Bhumisparsa Mudra, yaitu posisi tangan kanan menyentuh bumi sementara tangan kiri berada di atas pangkuan. Sikap ini melambangkan Buddha memanggil bumi sebagai saksi atas pencapaian pencerahan.
Pada Prasasti Wurare juga tercantum angka tahun 1211 Saka atau 1289 Masehi, yang di yakini sebagai tahun pembuatan arca tersebut.
Hingga kini, Arca Joko Dolog tetap menjadi salah satu peninggalan penting era Singhasari yang menyimpan nilai sejarah, budaya, dan spiritual. Keberadaannya menjadi pengingat akan kejayaan peradaban Nusantara sekaligus pentingnya menjaga warisan budaya bagi generasi mendatang.
Editor’s Note: Kisah mengenai upaya pengangkutan Arca Joko Dolog ke Belanda dan tenggelamnya kapal di perairan Tanjung Perak merupakan cerita yang berkembang di masyarakat (tradisi lisan) dan belum di dukung bukti sejarah yang kuat. Sementara informasi mengenai Prasasti Wurare, Raja Kertanegara, serta latar sejarah Singhasari di dasarkan pada kajian arkeologi dan sejarah Jawa Kuno.*







