Artikel – Namanya Cena, seekor anjing Labrador hitam yang bukan sekadar hewan peliharaan, melainkan pahlawan tempur sejati. Dalam hidupnya.
Cena telah mengabdi sebagai anjing pelacak bom milik Marinir Amerika Serikat, dengan tiga kali penugasan di Afghanistan. Ia menyelamatkan banyak nyawa termasuk nyawa pawang sekaligus sahabat karibnya, Lance Cpl. Jeff DeYoung.
Usai masa tugas berakhir, Cena tidak benar-benar “pensiun.” Ia tetap menjadi penjaga setia bagi DeYoung, kali ini bukan di medan perang, melainkan dalam perjuangan melawan trauma pascaperang (PTSD) yang menghantui sang Marinir setiap hari. Bagi DeYoung, Cena bukan sekadar anjing; ia adalah rekan seperjuangan yang selalu ada di saat gelap dan terang hidupnya.
Namun pada Juli 2017, kabar duka datang. Cena di diagnosis kanker tulang stadium akhir. Meski fisiknya melemah, semangatnya tetap teguh sebagaimana masa-masa ia bertugas di garis depan. Untuk menghormati pengabdian dan cintanya, DeYoung menyiapkan perpisahan yang layak untuk seorang pahlawan.
Cena mendapatkan satu permintaan terakhir: menikmati perjalanan dengan Jeep kesayangannya, yang di hias dengan tulisan “Cancer Response Team.” Apa yang semula di rencanakan sebagai momen perpisahan pribadi, berubah menjadi prosesi kehormatan yang mengharukan.
Ratusan veteran, petugas, dan warga lokal berbaris di sepanjang jalan di Muskegon, Michigan, memberi hormat kepada Cena yang mengenakan rompi Marinir kecilnya dengan gagah. Mereka mengiringi langkah terakhir sang anjing pahlawan menuju kapal museum Perang Dunia II, USS LST 393.
Di atas kapal bersejarah itu, suasana menjadi penuh haru. DeYoung memeluk Cena erat untuk terakhir kalinya.
Dalam keheningan yang di hormati, upacara penghormatan dilaksanakan tiga tembakan salvo, lagu “Taps”, dan tepuk tangan meriah dari mereka yang hadir.
Dengan penuh kasih, Cena di suntik secara damai, dibalut bendera Amerika Serikat, lalu di gendong oleh DeYoung yang mengenakan seragam dress blues-nya. Sang Marinir berjalan tegak, membawa sahabatnya yang telah berjuang bersamanya melewati medan perang dan luka batin.
Perpisahan itu menjadi simbol persahabatan sejati antara manusia dan hewan, antara seorang Marinir dan anjingnya yang pernah menantang maut bersama.
Cena mungkin telah tiada, namun kisahnya tetap hidup sebagai pengingat akan kesetiaan, keberanian, dan cinta yang melampaui kata-kata.
“Dia bukan sekadar anjing,” kata DeYoung dengan mata berkaca. “Dia adalah keluarga saya. Kami sudah melewati neraka bersama, dan sekarang… dia akhirnya pulang.”(*)







