Home / Artikel / Daerah / Internasional / Nasional / News

Selasa, 24 Maret 2026 - 13:12 WIB

Bukti Sains: Terlalu Baik ke Semua Orang Bisa Hancurkan Dirimu Sendiri

Bukti Sains

Bukti Sains

JAMBI,http://Eksisjambi.com  – Menjadi pribadi yang selalu membantu, mengalah, dan berkata “ya” demi menyenangkan orang lain sering di anggap sebagai tanda kebaikan. Namun di balik niat mulia itu, banyak orang justru mengalami kelelahan emosional, hubungan yang tidak seimbang, hingga kehilangan jati diri. Sejumlah penelitian dalam bidang psikologi dan neurosains menunjukkan bahwa kebaikan tanpa batas justru bisa berdampak negatif bagi kesehatan mental dan fisik.

Fenomena ini kerap di alami oleh individu yang ingin selalu di terima dan menghindari konflik. Mereka berharap sikap baiknya akan di balas dengan penghargaan atau hubungan yang harmonis. Namun realitasnya, kondisi tersebut sering berujung pada kelelahan, kemarahan terpendam, dan rasa hampa.

Berikut sejumlah temuan ilmiah yang menjelaskan dampak dari sikap “terlalu baik” serta cara menyikapinya secara sehat:

1. Otak Mengalami Kelelahan Emosional

Dalam kajian psikologi, kondisi ini di kenal sebagai compassion fatigue atau kelelahan empati. Saat seseorang terus memberi tanpa batas, tubuh akan mengalami stres kronis yang memicu peningkatan hormon kortisol. Dampaknya, individu menjadi mudah lelah, cemas, dan kehilangan energi.

Para ahli menekankan bahwa kebaikan bukanlah kewajiban tanpa batas. Menentukan kapan dan kepada siapa bantuan di berikan merupakan bagian dari menjaga kesehatan mental.

Baca Juga :  Fenomena Awan Mirip Sepasang Mata Usai Gempa Padang 2009 Kembali Jadi Perbincangan

2. Menurunnya Rasa Hormat dari Orang Lain

Penelitian menunjukkan bahwa individu yang selalu mengalah atau terlalu mudah menyetujui permintaan orang lain cenderung kurang di hargai. Hal ini terjadi karena tidak adanya batasan yang jelas, sehingga orang lain melihatnya sebagai sosok yang mudah di manfaatkan.

Sebaliknya, kemampuan menetapkan batasan justru meningkatkan rasa hormat, karena menunjukkan adanya harga diri dan ketegasan.

3. Hubungan Menjadi Tidak Seimbang

Hubungan yang sehat seharusnya berjalan dua arah. Namun pada orang yang terlalu baik, sering terjadi ketimpangan memberi lebih banyak tanpa menerima balasan yang setara. Dalam jangka panjang, kondisi ini memicu emotional burnout dan rasa kesal yang terpendam.

Para pakar hubungan menyarankan pentingnya evaluasi relasi secara berkala untuk memastikan adanya keseimbangan.

4. Mengabaikan Kebutuhan Diri Sendiri

Kebiasaan memprioritaskan orang lain sering membuat seseorang mengabaikan kebutuhan dasar, baik secara fisik maupun emosional. Studi tentang self-neglect menunjukkan bahwa perilaku ini berkaitan dengan meningkatnya risiko depresi, gangguan kecemasan, hingga penurunan sistem imun.

Menjaga diri sendiri bukanlah bentuk egoisme, melainkan fondasi untuk bisa membantu orang lain secara berkelanjutan.

Baca Juga :  Dokter Tifa Akhiri Keterlibatan Aktif dalam Polemik Ijazah Jokowi

5. Terjebak Rasa Bersalah Saat Menolak

Banyak individu merasa bersalah ketika mengatakan “tidak”. Pola ini biasanya terbentuk sejak lama, terutama karena ketakutan akan penolakan atau kehilangan penerimaan sosial.

Padahal, kemampuan menolak adalah bagian dari keterampilan komunikasi yang sehat. Orang yang memahami batasan akan lebih mampu membangun relasi yang jujur dan saling menghargai.

6. Risiko Gangguan Kesehatan Mental

Studi longitudinal dalam psikologi menunjukkan bahwa perilaku people-pleasing berkaitan dengan peningkatan risiko depresi dan gangguan kecemasan. Tanpa batasan yang jelas, individu rentan mengalami tekanan mental berkepanjangan.

Latihan sederhana seperti menolak permintaan secara tegas tanpa penjelasan berlebihan dapat membantu mengurangi beban psikologis secara bertahap.

Para ahli sepakat, solusi bukanlah berhenti menjadi orang baik, melainkan belajar menjadi baik dengan bijak. Menetapkan batasan, menghargai diri sendiri, serta menjaga keseimbangan dalam hubungan adalah kunci utama.

Kebaikan yang sehat bukanlah yang mengorbankan diri secara total, melainkan yang lahir dari kondisi diri yang utuh dan stabil. Dengan demikian, seseorang tetap dapat membantu orang lain tanpa harus kehilangan kesejahteraan pribadinya.**

Share :

Baca Juga

Advertorial

Ketua Pansus IV Fadli Sudria : Dinas Pendidikan Perlu kajian Mendalam agar programnya bisa tercapai

Advertorial

Pemkot Sungai Penuh Gelar Upacara Peringatan HUT RI Ke-79
fenomena ini usai berbuka puasa

Daerah

Gerhana Bulan Total Terjadi 3 Maret 2026 dan Bisa Disaksikan di Seluruh Indonesia
Curanmor

Daerah

Aksi Curanmor di Masjid Raya Sebukar Digagalkan Warga, Pelaku Terekam CCTV

Bangko

Teng..!, Banteng Liar Liar Gaspol Untuk Menawan

Advertorial

Gubernur Alharis Lepas Secara Resmi Peserta Kerintji Mountain Bike gran fondo 2022

Advertorial

DPRD Kota Sungai Penuh laksanakan Kunjungan Kerja Komisi

Daerah

Patroli Gabungan PoldaPastikan Kota Jambi Aman dan Kondusif