JAKARTA, Eksisjambi.com – Perdebatan mengenai hubungan Wangsa Sailendra dengan Kerajaan Mataram Kuno kembali menjadi perhatian kalangan pemerhati sejarah Nusantara. Dua prasasti peninggalan abad ke-8, yakni Prasasti Kalasan (778 M) dan Prasasti Kelurak (782 M), kerap dijadikan rujukan dalam pembahasan mengenai posisi politik Wangsa Sailendra di Jawa.
Kedua prasasti tersebut sama-sama ditulis menggunakan bahasa Sanskerta dengan aksara Prenagari dan menjadi sumber sejarah penting untuk memahami perkembangan kerajaan-kerajaan di Jawa pada masa klasik.
Prasasti Kalasan 778 M
Prasasti Kalasan memuat frasa “śailendra-vaṃśa-tilakasya” yang secara umum diterjemahkan sebagai “permata Wangsa Sailendra.”
Prasasti itu juga menyebut Maharaja Dyah Pañcapaṇa Panamkaraṇa, para guru kerajaan dari Sailendra, serta pembangunan bangunan suci yang dipersembahkan untuk Dewi Tara.
Berdasarkan isi prasasti tersebut, terdapat beberapa poin penting yang menjadi perhatian para peneliti, antara lain:
Nama Wangsa Sailendra disebut secara eksplisit.
Raja Panamkaraṇa dikaitkan dengan pembangunan bangunan suci tersebut.
Tidak terdapat kalimat yang secara langsung menyatakan bahwa Wangsa Sailendra adalah “Kerajaan Mataram.”
Sebagian penafsiran menyimpulkan bahwa pada masa pemerintahan Panamkaraṇa, Wangsa Sailendra memiliki peran penting dalam kehidupan politik dan keagamaan di Jawa.
Prasasti Kelurak 782 M
Empat tahun kemudian muncul Prasasti Kelurak yang juga menggunakan bahasa Sanskerta dan aksara Prenagari. Meski sebagian batu prasasti telah aus, isinya masih dapat diketahui berkaitan dengan pendirian arca Bodhisattwa Manjusri atas perintah Raja Indra yang bergelar Sri Sanggramadhananjaya.
Dalam prasasti tersebut juga terdapat penyebutan mengenai “permata keluarga Cailendra (Sailendra).”
Dari isi prasasti tersebut dapat diketahui bahwa:
Nama Wangsa Sailendra kembali disebut secara jelas.
Prasasti memberikan informasi mengenai keluarga atau garis keturunan Sailendra.
Tidak terdapat penyebutan nama Mataram maupun kalimat yang secara eksplisit menyatakan Raja Indra sebagai Raja Mataram.
Masih Menjadi Perdebatan Akademik
Meski kedua prasasti menjadi bukti kuat mengenai keberadaan dan pengaruh Wangsa Sailendra di Jawa pada abad ke-8, hubungan politik antara Wangsa Sailendra dan Kerajaan Medang atau Mataram Kuno hingga kini masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan.
Sebagian ahli berpendapat Wangsa Sailendra merupakan dinasti yang memerintah Kerajaan Medang/Mataram pada periode tertentu, sementara pendapat lain menyatakan Sailendra merupakan wangsa yang berbeda namun memiliki pengaruh besar di Jawa melalui hubungan politik, kekuasaan, maupun keagamaan.
Karena itu, kesimpulan bahwa Sailendra “bukan raja Mataram Kuno” atau sebaliknya masih merupakan salah satu interpretasi sejarah yang belum menjadi kesepakatan mutlak di kalangan akademisi.*







