Home / Daerah / Internasional / Nasional / News / Sosbud

Minggu, 18 Oktober 2026 - 06:10 WIB

Dua Prasasti Dinilai Jadi Bukti Kuat Keberadaan Wangsa Sailendra, Benarkah Bukan Raja Mataram Kuno?

Foto Istimewa

Foto Istimewa

JAKARTA, Eksisjambi.com – Perdebatan mengenai hubungan Wangsa Sailendra dengan Kerajaan Mataram Kuno kembali menjadi perhatian kalangan pemerhati sejarah Nusantara. Dua prasasti peninggalan abad ke-8, yakni Prasasti Kalasan (778 M) dan Prasasti Kelurak (782 M), kerap dijadikan rujukan dalam pembahasan mengenai posisi politik Wangsa Sailendra di Jawa.

Kedua prasasti tersebut sama-sama ditulis menggunakan bahasa Sanskerta dengan aksara Prenagari dan menjadi sumber sejarah penting untuk memahami perkembangan kerajaan-kerajaan di Jawa pada masa klasik.

Prasasti Kalasan 778 M

Prasasti Kalasan memuat frasa “śailendra-vaṃśa-tilakasya” yang secara umum diterjemahkan sebagai “permata Wangsa Sailendra.”

Prasasti itu juga menyebut Maharaja Dyah Pañcapaṇa Panamkaraṇa, para guru kerajaan dari Sailendra, serta pembangunan bangunan suci yang dipersembahkan untuk Dewi Tara.

Berdasarkan isi prasasti tersebut, terdapat beberapa poin penting yang menjadi perhatian para peneliti, antara lain:

Baca Juga :  Jejak Buddhisme Mahayana di Kepulauan Riau Abad Kuno

Nama Wangsa Sailendra disebut secara eksplisit.

Raja Panamkaraṇa dikaitkan dengan pembangunan bangunan suci tersebut.

Tidak terdapat kalimat yang secara langsung menyatakan bahwa Wangsa Sailendra adalah “Kerajaan Mataram.”

Sebagian penafsiran menyimpulkan bahwa pada masa pemerintahan Panamkaraṇa, Wangsa Sailendra memiliki peran penting dalam kehidupan politik dan keagamaan di Jawa.

Prasasti Kelurak 782 M

Empat tahun kemudian muncul Prasasti Kelurak yang juga menggunakan bahasa Sanskerta dan aksara Prenagari. Meski sebagian batu prasasti telah aus, isinya masih dapat diketahui berkaitan dengan pendirian arca Bodhisattwa Manjusri atas perintah Raja Indra yang bergelar Sri Sanggramadhananjaya.

Dalam prasasti tersebut juga terdapat penyebutan mengenai “permata keluarga Cailendra (Sailendra).”

Dari isi prasasti tersebut dapat diketahui bahwa:

Nama Wangsa Sailendra kembali disebut secara jelas.

Prasasti memberikan informasi mengenai keluarga atau garis keturunan Sailendra.

Baca Juga :  Menteri PU Hadiri Rakor Pemulihan Pasca Bencana di Aceh, Fokus Infrastruktur dan Mitigasi

Tidak terdapat penyebutan nama Mataram maupun kalimat yang secara eksplisit menyatakan Raja Indra sebagai Raja Mataram.

Masih Menjadi Perdebatan Akademik

Meski kedua prasasti menjadi bukti kuat mengenai keberadaan dan pengaruh Wangsa Sailendra di Jawa pada abad ke-8, hubungan politik antara Wangsa Sailendra dan Kerajaan Medang atau Mataram Kuno hingga kini masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan.

Sebagian ahli berpendapat Wangsa Sailendra merupakan dinasti yang memerintah Kerajaan Medang/Mataram pada periode tertentu, sementara pendapat lain menyatakan Sailendra merupakan wangsa yang berbeda namun memiliki pengaruh besar di Jawa melalui hubungan politik, kekuasaan, maupun keagamaan.

Karena itu, kesimpulan bahwa Sailendra “bukan raja Mataram Kuno” atau sebaliknya masih merupakan salah satu interpretasi sejarah yang belum menjadi kesepakatan mutlak di kalangan akademisi.*

Share :

Baca Juga

Internasional

Subdenpom Periksa 4 Senior Penganiayaan Prada Luky 

Daerah

Kota Sungai Penuh dan Kerinci Sambut Kunjungan Kerja Menko PMK

Daerah

Wako Alfin Serahkan Bantuan CSR Rp5 Juta saat Safari Jumat di Desa Dujung Sakti
Perlindungan anak

Daerah

Kasus Kekerasan Anak di Kota Sungai Penuh Turun Signifikan 

Advertorial

Bupati Tanjab Barat Hadiri Pameran Satu Hari Di Anjungan Mall Sarina

Advertorial

Putra Terbaik Kota Sungai Penuh Hanif Hijriyan Harumkan Nama Provinsi Jambi  di Kancah Nasional

Advertorial

Wako Ahmadi Paparkan Persiapan Sungai Penuh menuju Kota Sehat Tahun 2023

Advertorial

Aslori Ilham : Banjir Kerinci dan Kota Sungai Penuh Tidak Ada Hubungan Dengan Projects PLTA