Padang, http://Eksisjambi.com – Beberapa jam setelah gempa besar berkekuatan 7,6 magnitudo mengguncang Kota Padang dan sejumlah wilayah di Sumatera Barat pada 30 September 2009, internet sempat di hebohkan dengan beredarnya foto dan video yang menampilkan formasi awan unik di langit.
Dalam gambar yang viral saat itu, awan tampak membentuk pola menyerupai sepasang mata raksasa yang seolah sedang memandang ke arah bumi. Kemunculan foto tersebut memicu beragam reaksi di blog, forum internet, hingga media sosial pada masanya.
Sebagian warganet mengaitkan fenomena tersebut dengan makna spiritual maupun pertanda tertentu karena di sebut muncul tidak lama setelah bencana besar terjadi.
Namun, tidak sedikit pula yang menilai bentuk awan tersebut hanyalah fenomena alam yang kebetulan terlihat unik.
Hingga kini, tidak ada laporan resmi dari lembaga ilmiah maupun media arus utama yang dapat memastikan bahwa foto atau video tersebut benar-benar di ambil di lokasi dan waktu yang sesuai dengan klaim yang beredar. Karena itu, kebenaran asal-usul gambar tersebut masih belum dapat di verifikasi secara independen.
Para ahli meteorologi menjelaskan bahwa awan dengan bentuk menyerupai wajah, mata, hewan, atau objek tertentu merupakan fenomena yang dapat terjadi secara alami. Bentuk tersebut di pengaruhi oleh berbagai faktor, seperti proses pembentukan awan, arah cahaya matahari, kondisi atmosfer, serta sudut pandang pengamat.
Sementara itu, dalam ilmu psikologi di kenal istilah pareidolia, yaitu kecenderungan otak manusia untuk mengenali pola yang familiar terutama wajah pada objek yang sebenarnya acak. Fenomena ini telah lama di teliti dan sering di gunakan untuk menjelaskan berbagai foto viral yang memperlihatkan bentuk-bentuk menyerupai manusia, hewan, maupun simbol tertentu di alam.
Meski belum pernah terbukti secara ilmiah sebagai fenomena yang berkaitan dengan gempa bumi, kisah awan menyerupai sepasang mata tersebut tetap menjadi salah satu cerita internet yang paling banyak di perbincangkan setelah tragedi gempa Padang 2009.
Fenomena ini sekaligus menjadi pengingat bahwa persepsi manusia terhadap suatu gambar dapat di pengaruhi oleh cara otak mengolah informasi visual, sehingga tidak semua bentuk yang tampak memiliki makna atau hubungan dengan suatu peristiwa tertentu.**







