Home / Daerah / Internasional / Nasional / News / Provinsi Jambi / Sosbud

Sabtu, 25 Juli 2026 - 20:49 WIB

Gua Tiangko Panjang: Hunian Prasejarah Tertua Jambi yang Angkanya Tak Pernah Sama Dua Kali

Oplus_131072

Oplus_131072

Oleh: Mohammad Basyir Zubair (EMBAS)

Jambi, http://Eksisjambi.com  – Jika membahas sejarah prasejarah Provinsi Jambi, nama Gua Tiangko Panjang di Kecamatan Sungai Manau, Kabupaten Merangin, hampir selalu menjadi rujukan utama. Situs ini dikenal sebagai salah satu bukti tertua keberadaan manusia prasejarah di wilayah Jambi. Namun, di balik ketenarannya, terdapat persoalan mendasar yang hingga kini terus berulang: angka usia situs tersebut tidak pernah benar-benar sama setiap kali diceritakan kembali.

Di berbagai artikel, laman wisata, media daring, hingga situs pemerintah daerah, usia Gua Tiangko Panjang disebut beragam. Ada yang menuliskan 9.000 tahun, 10.000 tahun, bahkan 35.000 tahun sebelum Masehi. Ketiga angka tersebut jelas tidak mungkin sama-sama benar. Perbedaan inilah yang menjadi alasan penting untuk menelusuri kembali sumber-sumber ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Alih-alih menambah klaim baru, artikel ini mencoba mengurai asal-usul berbagai angka tersebut sekaligus membedakan mana yang bersumber dari penelitian arkeologi dan mana yang berkembang sebagai narasi populer tanpa dukungan rujukan akademik yang jelas.

Penelitian mengenai kawasan Tiangko sebenarnya telah dimulai sejak awal abad ke-20. Pada dekade 1910–1920-an, peneliti J. Zwierzycki mencatat keberadaan artefak litik berbahan obsidian dari kawasan Gua Ulu Tiangko. Temuan tersebut kemudian dikutip oleh arkeolog Belanda H.R. van Heekeren dalam kajiannya mengenai Zaman Batu di Indonesia. Nama A. Tobler juga tercatat pernah melakukan eksplorasi awal di kawasan tersebut.

Meski demikian, penelitian ilmiah dengan metode arkeologi modern baru dilakukan pada 1974. Ekskavasi dipimpin oleh Bennet Bronson dari Field Museum of Natural History dan University of Pennsylvania Museum bersama Teguh Asmar dari Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional.

Hasil penelitian mereka dipublikasikan dalam jurnal internasional Asian Perspectives edisi 1975/1976 melalui artikel berjudul Prehistoric Investigations at Tianko Panjang Cave, Sumatra: An Interim Report.

Ekskavasi ini menjadi tonggak penting karena merupakan salah satu penelitian gua prasejarah pertama di Sumatra yang menggunakan metode stratigrafi secara sistematis, sehingga setiap lapisan budaya dapat dianalisis berdasarkan urutan kronologinya.

Dari hasil penggalian, Bronson dan Asmar menemukan industri alat serpih berbahan obsidian yang berasal dari lapisan budaya masa transisi akhir Pleistosen menuju awal Holosen.

Berdasarkan analisis mereka, lapisan tersebut diperkirakan berumur sekitar 10.000 tahun Before Present (BP).

Istilah Before Present (BP) memiliki arti sekitar 10.000 tahun sebelum tahun 1950, yang merupakan standar penanggalan arkeologi internasional. Istilah ini berbeda dengan 10.000 tahun sebelum Masehi (SM), meskipun dalam berbagai tulisan populer keduanya sering kali disamakan.

Kesalahan memahami istilah BP inilah yang diduga menjadi salah satu penyebab munculnya berbagai angka usia yang berbeda-beda di masyarakat.

Ekskavasi ilmiah Gua Tiangko Panjang dilakukan oleh Bennet Bronson dan Teguh Asmar pada tahun 1974 dan dipublikasikan dalam jurnal Asian Perspectives (1975/1976).

Baca Juga :  Pada Rapat Paripurna Terbuka HUT Merangin ke- 76 Terselip Kabar Baik

Temuan utamanya berupa industri alat serpih obsidian yang berasal dari masa akhir Pleistosen–awal Holosen, sekitar 10.000 tahun BP, bukan berasal dari zaman logam maupun tradisi megalitik.

Sebagian besar situs pemerintah maupun media wisata menyebut usia Gua Tiangko Panjang sekitar 9.000 tahun, angka yang sebenarnya masih mendekati hasil penelitian Bronson dan Asmar meskipun telah di sederhanakan.

Namun, muncul pula narasi lain yang menyebut manusia purba “Kecik Wok Gedang Wok” telah hidup di Kerinci sejak 35.000 SM, bahkan mengaitkannya langsung dengan Gua Tiangko Panjang.

Setelah di telusuri pada berbagai publikasi ilmiah yang dapat diverifikasi, tidak ditemukan penelitian arkeologi yang mendukung klaim tersebut.

Nama peneliti yang sering disebut sebagai “J. Whitten” juga tidak ditemukan sebagai pelaksana ekskavasi Gua Tiangko Panjang dalam laporan-laporan ilmiah yang tersedia. Sebaliknya, seluruh rujukan akademik yang konsisten selalu mengarah kepada penelitian Bronson dan Asmar.

Hingga kini, klaim mengenai usia 35.000 SM maupun atribusi penelitian kepada J. Whitten belum memiliki rujukan primer yang dapat diverifikasi.

Karena itu, angka tersebut lebih tepat di pandang sebagai klaim populer yang belum terverifikasi, bukan fakta ilmiah yang setara dengan hasil ekskavasi arkeologi.

Kesalahan lain yang cukup sering di temukan adalah mencampurkan Gua Tiangko Panjang dengan tradisi batu silindrik megalitik di Kerinci dan Merangin,Padahal keduanya berasal dari horizon budaya yang sangat berbeda.

Batu silindrik dengan pahatan manusia, hewan buruan, serta motif geometris merupakan peninggalan masyarakat Austronesia, yang menurut kajian Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah V dan penelitian Tri Marhaeni S. Budisantosa, berkembang sekitar 3.500 tahun yang lalu.

Sebaliknya, penghuni Gua Tiangko Panjang hidup ribuan tahun lebih awal dan meninggalkan alat serpih obsidian yang jauh lebih sederhana.

Dengan demikian, masyarakat pembuat batu silindrik bukanlah kelompok yang sama dengan penghuni awal Gua Tiangko Panjang.

Keduanya di pisahkan oleh rentang waktu yang sangat panjang dalam sejarah manusia.

Narasi populer lain menyebut bahwa masyarakat penghuni Gua Tiangko Panjang “lebih tua daripada suku Inca di Amerika”.

Secara kronologis, perbandingan tersebut memang benar bahwa lapisan prasejarah Gua Tiangko Panjang jauh lebih tua daripada berdirinya Kekaisaran Inca.

Namun secara metodologis, perbandingan itu tidak tepat karena membandingkan dua kategori sejarah yang berbeda.

Gua Tiangko Panjang merupakan situs hunian prasejarah, sedangkan Inca adalah sebuah kerajaan yang berkembang sekitar abad ke-13 Masehi.

Karena itu, perbandingan tersebut tidak memiliki nilai ilmiah yang kuat sebagai alat pembuktian.

Kecik Wok Gedang Wok: Tradisi Lisan dan Arkeologi Berjalan di Jalur Berbeda

Nama Kecik Wok Gedang Wok di kenal luas dalam tambo dan tradisi lisan masyarakat Kerinci sebagai tokoh awal penghuni alam Kerinci.

Baca Juga :  polres Merangin Gelar Apel Siaga Hadapi Ancaman

Namun hingga kini, tokoh tersebut belum memiliki keterkaitan langsung dengan data ekskavasi Gua Tiangko Panjang.

Tradisi lisan merupakan bagian penting dari warisan budaya masyarakat dan memiliki nilai historis tersendiri.

Sementara itu, arkeologi bekerja melalui bukti material seperti artefak, stratigrafi, dan penanggalan ilmiah.

Kedua jenis sumber tersebut saling melengkapi, tetapi tidak dapat diperlakukan sebagai bukti yang sama.

Nilai ilmiah Gua Tiangko Panjang tidak bergantung pada klaim usia yang semakin tua ataupun perbandingan dengan peradaban lain.

Sebagai situs hunian manusia sekitar 10.000 tahun BP, Gua Tiangko Panjang sudah merupakan salah satu bukti terpenting mengenai sejarah awal manusia di Provinsi Jambi.

Yang justru perlu di hindari adalah penyebaran informasi yang saling bertentangan tanpa merujuk pada penelitian asli.

Jika kesalahan tersebut terus di wariskan, masyarakat akan mewarisi kebingungan, bukan pengetahuan.

Meluruskan kronologi bukan berarti mengurangi nilai sejarah situs ini, tetapi justru memperkuat penghargaan terhadap warisan budaya berdasarkan bukti ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Masih di perlukan publikasi yang lebih luas terhadap hasil penelitian Bronson dan Asmar, termasuk kajian lanjutan Teguh Asmar (1989) mengenai artefak obsidian Gua Ulu Tiangko.

Dengan semakin mudahnya akses masyarakat terhadap hasil penelitian tersebut, diharapkan narasi mengenai Gua Tiangko Panjang tidak lagi bergantung pada salinan informasi yang berulang di internet, melainkan kembali merujuk kepada sumber ilmiah primer.

Gua Tiangko Panjang merupakan salah satu situs prasejarah terpenting di Jambi yang menunjukkan keberadaan hunian manusia sejak sekitar 10.000 tahun BP. Bukti tersebut di dasarkan pada penelitian arkeologi modern yang di lakukan oleh Bennet Bronson dan Teguh Asmar pada 1974.

Berbagai klaim mengenai usia 35.000 SM, keterkaitan langsung dengan Kecik Wok Gedang Wok, maupun penyamaan dengan tradisi batu silindrik megalitik, hingga kini belum di dukung oleh bukti ilmiah yang setara.

Memahami perbedaan antara data arkeologi, tradisi lisan, dan narasi populer menjadi langkah penting agar sejarah purbakala Jambi dapat di pahami secara lebih akurat serta menjadi dasar kebanggaan yang bertumpu pada penelitian ilmiah.

Sumber Rujukan

Bronson, B. & Asmar, T. (1975/1976). Prehistoric Investigations at Tianko Panjang Cave, Sumatra: An Interim Report. Asian Perspectives, 18(2): 128–145.

  • Asmar, T. (1989). Catatan atas Alat Serpih Obsidian Gua Ulu Tiangko. Pertemuan Ilmiah Arkeologi V.
  • Budisantosa, T.M.S. (2009). Kompleks Megalitik Dataran Tinggi Jambi: Sebaran Motif Relief dalam Konteks Sosial. Jurnal Arkeologi Siddhayatra.
  • Bonatz, D. (2004). Kerinci—Archaeological Research in the Highland of Jambi on Sumatra.
  • Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah V (Kemdikbud).
  • Hurahura – Majalah Arkeologi Indonesia.*

Share :

Baca Juga

Polda Jambi

Daerah

Polda Jambi berhasil mengungkap 116 kasus narkoba dengan 247 tersangka

Daerah

Sekolah SMPN 9 Kota Sungai Penuh Laksanakan Belajar Daring, Guna Atisipasi Penyebaran Covid-19.

Daerah

Tetap Tegakkan Prokes Covid-19, Wako AJB sampaikan Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2020
Badai Emas Pengadaian

Daerah

Badai Emas Pegadaian 2025 Periode II Sukses Digelar
Kejaksaan Agung RI

Daerah

Kejaksaan Agung Terima Kunjungan Delegasi CUPL, Bahas Pusat Riset Hukum dan Investasi China-Indonesia
Niat Puasa Ramadhan

Daerah

Niat Puasa Ramadhan yang Perlu Diketahui
Paripurna DPRD HUT Ke-17 Kota Sungai penuh

Advertorial

Paripurna Istimewa Dalam Rangka HUT Kota Sungai Penuh ke-17 Tahun 2025

Advertorial

Pansus IV DPRD Provinsi Jambi  Sidak Rumah Sakit Jiwa