Home / Daerah / Internasional / Nasional / News

Senin, 3 Agustus 2026 - 10:08 WIB

Harga Kopi Dunia Bangkit di Tengah Ancaman Cuaca

Harga Kopi Dunia

Harga Kopi Dunia

http://Eksisjambi.com –  Pasar kopi dunia kembali menunjukkan penguatan pada awal paruh kedua 2026 setelah sempat melemah. Gangguan cuaca di Brasil, kekhawatiran terhadap potensi Super El Niño, serta dinamika produksi di negara-negara penghasil utama menjadi faktor yang mendorong kenaikan harga kopi di pasar internasional.

Laporan terbaru pasar kopi global per 3 Agustus 2026 menunjukkan bahwa harga kopi mulai pulih meski perdagangan dunia masih menghadapi tekanan dari penurunan ekspor dan ketidakpastian kondisi iklim.

Berdasarkan data International Coffee Organization (ICO), indikator komposit harga kopi rata-rata berada di level 248,90 sen AS per pon sepanjang Juni 2026. Angka tersebut turun sekitar 2,8 persen di bandingkan Mei.

Namun, tren berbalik menjelang akhir bulan. Dari titik terendah pada 9 Juni, harga kopi melonjak sekitar 17,4 persen hingga di tutup di level 272,39 sen AS per pon. Kenaikan ini di picu oleh hujan yang memperlambat panen kopi di Brasil serta meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak fenomena Super El Niño terhadap produksi global.

Di sisi perdagangan, ekspor kopi hijau dunia pada Mei 2026 tercatat sekitar 10,8 juta karung, turun 4,1 persen di bandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, ekspor kopi Arabika mengalami penurunan lebih tajam, yakni 9,3 persen secara tahunan.

Brasil sebagai produsen kopi terbesar dunia di perkirakan tetap mencatat produksi tertinggi pada musim 2026/2027.

Baca Juga :  Market Cap Negara dalam MSCI Global Jadi Sorotan

Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) memproyeksikan produksi kopi Brasil mencapai 71,9 juta karung berukuran 60 kilogram atau meningkat sekitar 14 persen di banding musim sebelumnya.

Meski demikian, prospek tersebut masih di bayangi risiko cuaca ekstrem. Kelompok industri kopi Brasil, Abic, memperingatkan bahwa dampak El Niño dapat memangkas produksi hingga 20 persen apabila suhu tinggi dan curah hujan yang tidak menentu terus berlanjut.

Selain itu, proses panen kopi Arabika Brasil juga berjalan lebih lambat. Hingga 24 Juni 2026, panen baru mencapai 44 persen, lebih rendah di bandingkan 51 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, Vietnam di perkirakan akan meningkatkan produksi kopi pada musim 2026/2027.

USDA memperkirakan produksi kopi Vietnam mencapai 32,5 juta karung, di dukung perluasan produksi setelah harga kopi sempat menyentuh level tinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Produsen, pedagang, dan eksportir di Vietnam juga mulai melepas persediaan kopi seiring meredanya harga dari level puncak, sehingga membantu meningkatkan volume ekspor.

Sebagai pemasok sekitar 40 persen ekspor kopi Robusta dunia, Vietnam tetap memegang peran strategis dalam menjaga keseimbangan pasokan global. Namun, negara tersebut masih menghadapi tantangan berupa perubahan iklim dan ketidakpastian cuaca.

Baca Juga :  Wako Alfin Sidak Kantor Camat Sungai Bungkal, Soroti Disiplin ASN dan Pelayanan Publik

Dalam perkembangan kebijakan perdagangan, Amerika Serikat mulai memberlakukan tarif impor baru sebesar 25 persen terhadap sejumlah produk asal Brasil sejak 22 Juli 2026.

Meski demikian, kopi tidak termasuk dalam daftar produk yang dikenai tarif tersebut. Selain kopi, sejumlah komoditas lain seperti daging sapi dan pesawat juga memperoleh pengecualian.

Keputusan ini di nilai mengurangi risiko kenaikan biaya impor bagi industri pengolahan kopi di Amerika Serikat yang selama ini bergantung pada pasokan biji kopi asal Brasil.

Selain produksi dan perdagangan, isu keberlanjutan juga menjadi perhatian utama pasar kopi dunia.

Perluasan lahan kopi di Vietnam selama beberapa dekade terakhir memunculkan sorotan terhadap deforestasi dan penggunaan sumber daya air.

Luas perkebunan kopi Vietnam meningkat dari sekitar 50 ribu hektare pada 1980-an menjadi lebih dari 700 ribu hektare saat ini, terutama di kawasan Central Highlands.

Pemerintah Vietnam berencana mengurangi luas areal kopi di wilayah tersebut sekitar 57 ribu hektare hingga 2030, sembari mengembangkan sistem budidaya yang lebih intensif dan berkelanjutan guna menjaga produktivitas tanpa memperluas pembukaan lahan baru.

Dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu, kebijakan perdagangan internasional, serta upaya meningkatkan keberlanjutan produksi, pasar kopi global di perkirakan akan tetap bergerak dinamis sepanjang paruh kedua tahun 2026.*

Share :

Baca Juga

Advertorial

Gubernur Alharis Lantik 3 Penjabat Bupati

Advertorial

Gubernur Al Haris Saksikan Sertijab Kepala Kanwil Kemenkumham Jambi

Advertorial

Teken Komitmen SPMB Berintegritas Tahun Ajaran 2025/2026, Gubernur Al Haris: Tak Ada Titipan

Daerah

Ketua DPRD H. Fajran Melaksanakan Shalat IED IDUL Fitri 1443.H Bersama Pemkot Sungai Penuh
Yamaha Indonesia Motor Manufacturing resmi menaikkan harga motor

Daerah

Yamaha Naikkan Harga Motor Mulai April 2026, Imbas Kenaikan Bahan Baku Global

Advertorial

Pj. Asraf dan Pjs. Gubernur Sudirman Hadiri Peringatan Hari Jadi ke-66 Kabupaten Kerinci

Daerah

Fadli Sudria Disambut Warga Depati VII Kerinci

Bangko

Bupati M Syukur Salurkan Bantuan Keramba dan Jaringan Listrik Untuk Warga SAD