EksisJambi.com – Pasar kopi global pada Jumat, 21 Agustus 2026, masih menunjukkan pergerakan yang dinamis. Di satu sisi, harga kopi arabika mendapat dukungan dari menipisnya stok bersertifikat di bursa serta lambatnya panen di Brasil. Namun di sisi lain, proyeksi produksi kopi dunia yang diperkirakan mencetak rekor pada musim 2026/2027 menahan kenaikan harga lebih lanjut.
Selain faktor produksi, gangguan logistik di Kolombia, peningkatan ekspor Vietnam, kebijakan harga minimum Fairtrade, hingga ekspansi jaringan kedai kopi Café Amazon turut menjadi perhatian pelaku industri.
Stok Arabika Menyusut, Panen Brasil Masih Tertinggal
Harga kopi arabika kembali menguat setelah persediaan bersertifikat di Intercontinental Exchange (ICE) turun menjadi sekitar 242.673 karung, mendekati level terendah sejak akhir 2023.
Penurunan stok fisik tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap ketersediaan kopi dalam jangka pendek.
Di sisi lain, proses panen kopi Brasil untuk musim 2026/2027 baru mencapai sekitar 64 persen hingga pertengahan Juli, lebih lambat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 77 persen, serta masih berada di bawah rata-rata lima tahun sebesar 70 persen.
Kondisi tersebut membuat pasar tetap bergejolak karena pasokan fisik masih relatif ketat meskipun prospek produksi global diperkirakan membaik.
USDA Prediksi Produksi Kopi Dunia Pecah Rekor
Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) memperkirakan produksi kopi dunia pada musim 2026/2027 akan meningkat sekitar 10,8 juta karung menjadi 189,7 juta karung berukuran 60 kilogram.
Kenaikan produksi tersebut terutama didorong oleh membaiknya kondisi cuaca dan hasil panen di Brasil sebagai produsen kopi terbesar dunia.
USDA juga memperkirakan stok akhir kopi dunia mencapai sekitar 26,3 juta karung, sehingga prospek pasokan yang lebih besar menjadi faktor yang membatasi kenaikan harga kopi di pasar berjangka.
Gempa Kolombia Ganggu Jalur Ekspor Kopi
Sementara itu, gempa bumi berkekuatan 7,4 magnitudo yang mengguncang wilayah barat Kolombia sempat mengganggu aktivitas ekspor kopi melalui Pelabuhan Buenaventura, pelabuhan utama negara tersebut di pesisir Pasifik.
Pemeriksaan terminal serta hambatan di sejumlah akses jalan menyebabkan pengiriman kargo kopi mengalami keterlambatan. Gangguan logistik ini menambah risiko pasokan kopi arabika dari Kolombia yang merupakan salah satu produsen utama dunia.
Ekspor Vietnam Naik Tajam, Pasokan Robusta Bertambah
Berbeda dengan Kolombia, Vietnam justru mencatat peningkatan ekspor kopi yang cukup signifikan.
Dalam sepuluh bulan pertama musim panen 2025/2026, Vietnam mengekspor sekitar 26,34 juta karung kopi atau meningkat 23,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan ekspor tersebut semakin memperkuat posisi Vietnam sebagai pemasok utama kopi robusta dunia. Bertambahnya pasokan robusta diperkirakan dapat memberikan tekanan terhadap harga robusta, meskipun harga arabika masih ditopang oleh terbatasnya stok di pasar.
Fairtrade Naikkan Harga Minimum Kopi
Dari sisi perdagangan berkelanjutan, Fairtrade International mengumumkan kenaikan harga minimum kopi arabika washed dari US$1,80 menjadi US$2,00 per pon yang mulai berlaku pada 1 Desember 2026.
Kenaikan sekitar 11 persen tersebut didasarkan pada evaluasi biaya produksi dari 57 koperasi di 13 negara.
Kebijakan ini bertujuan memberikan perlindungan pendapatan yang lebih baik bagi petani ketika harga pasar berada di bawah biaya produksi yang berkelanjutan.
Café Amazon Ekspansi ke Bangladesh
Di sektor ritel, jaringan kedai kopi asal Thailand Café Amazon resmi memulai operasionalnya di Bangladesh.
Gerai pertama dibuka di kawasan Bashundhara Residential Area dan Bashundhara City Shopping Mall di Dhaka melalui kerja sama antara Bashundhara Group dan PTT Oil and Retail Business.
Saat ini Café Amazon mengoperasikan lebih dari 4.700 gerai di Thailand serta memiliki lebih dari 30 gerai internasional yang tersebar di delapan negara, menandai semakin pesatnya ekspansi bisnis kopi di kawasan Asia.
Prospek Pasar
Pergerakan pasar kopi global dalam beberapa bulan ke depan diperkirakan masih dipengaruhi oleh keseimbangan antara pasokan fisik yang ketat di pasar arabika dan ekspektasi peningkatan produksi dunia.
Pelaku industri juga akan terus mencermati perkembangan cuaca di negara-negara produsen utama, kondisi logistik ekspor, serta permintaan konsumen yang masih menjadi penentu arah harga kopi global.*







