GlobalCoffee, Eksisjambi.com – Pasar kopi global memasuki awal November 2026 dengan sejumlah perkembangan penting. Harga kopi dunia masih berada di bawah tekanan seiring membaiknya prospek pasokan dari negara-negara produsen utama seperti Brasil, Vietnam, dan Indonesia. Di sisi lain, perusahaan kopi global seperti Starbucks dan Nestlé terus memperkuat ekspansi bisnis, sementara Uni Eropa bersiap menerapkan aturan baru terkait ketertelusuran produk bebas deforestasi.
Harga Kopi Dunia Tertekan, Pasokan Di perkirakan Melimpah
Harga kopi internasional masih menghadapi tekanan karena ekspektasi pasokan global yang semakin membaik. Kondisi cuaca yang lebih mendukung di Brasil, Vietnam, dan Indonesia, ditambah perkiraan meningkatnya ekspor Brasil, membuat pelaku pasar mulai memperkirakan surplus pasokan serta pemulihan stok global.
Brasil mencatat ekspor kopi sebanyak 4,15 juta karung berukuran 60 kilogram pada Agustus 2026, meningkat sekitar 31 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Meski demikian, kondisi pasokan tetap dipengaruhi oleh faktor cuaca, kelancaran logistik, serta perkembangan tanaman kopi, baik jenis arabika maupun robusta.
Panen Kopi Vietnam Dimulai, Harga Petani Masih Menjadi Tantangan
Vietnam, sebagai salah satu produsen kopi terbesar dunia, mulai memasuki musim panen baru yang diperkirakan mencapai puncaknya pada akhir Oktober hingga awal November 2026.
Musim panen berlangsung setelah sejumlah wilayah sentra produksi mengalami cuaca panas dan kondisi kering. Selama sembilan bulan pertama tahun 2026, nilai ekspor kopi Vietnam mencapai US$6,54 miliar.
Namun, peningkatan volume ekspor tersebut belum sepenuhnya mampu meningkatkan pendapatan petani karena harga kopi dunia mengalami pelemahan dalam beberapa bulan terakhir.
Starbucks Catat Penjualan Global Meningkat
Di sektor ritel, Starbucks melaporkan kinerja yang cukup positif pada kuartal keempat tahun fiskalnya.
Perusahaan mencatat pertumbuhan penjualan toko sebanding (same-store sales) secara global sebesar 7,2 persen, melampaui perkiraan analis. Permintaan di pasar Amerika Serikat masih menjadi motor utama pertumbuhan.
Meski demikian, pendapatan konsolidasi kuartalan Starbucks turun sekitar 4 persen menjadi US$9,1 miliar. Penurunan tersebut dipengaruhi perubahan struktur bisnis ritel perusahaan di China yang kini dijalankan melalui skema usaha patungan berlisensi (licensed joint venture).
Nestlé Bangun Pabrik Nescafé Baru di Thailand
Nestlé juga memperkuat investasinya di kawasan Asia Tenggara dengan mengalokasikan dana sebesar 563 juta franc Swiss (CHF) untuk membangun fasilitas produksi Nescafé baru di Thailand.
Perusahaan memperkirakan nilai pasar kopi Thailand mencapai sekitar CHF1 miliar. Investasi tersebut diharapkan mampu memenuhi permintaan domestik sekaligus memperluas peluang ekspor.
Selain meningkatkan kapasitas produksi, proyek ini juga menjadi bagian dari program Nestlé dalam mendukung petani kopi melalui penerapan pertanian regeneratif dan peningkatan ketahanan terhadap perubahan iklim.
Uni Eropa Siapkan Aturan Baru Produk Kopi Bebas Deforestasi
Di bidang perdagangan internasional, importir kopi di Uni Eropa mulai mempersiapkan penerapan EU Deforestation Regulation (EUDR).
Regulasi tersebut mewajibkan perusahaan melakukan uji tuntas (due diligence) untuk memastikan produk kopi yang dipasarkan berasal dari rantai pasok yang tidak terkait dengan deforestasi.
Aturan tersebut mulai berlaku bagi perusahaan besar dan menengah pada 30 Desember 2026, sedangkan pelaku usaha mikro dan kecil diberikan masa transisi hingga 30 Juni 2027.
Italia Dorong Investasi Industri Kopi Berkelanjutan
Pemerintah Italia turut meluncurkan strategi internasional baru untuk mendukung keberlanjutan industri kopi global.
Strategi tersebut menitikberatkan pada investasi rantai pasok yang berkelanjutan serta kemitraan dengan negara-negara produsen kopi.
Melalui program ACT Coffee, Italia bekerja sama dengan United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) dan International Coffee Organization (ICO) untuk mendorong transformasi sektor kopi di Afrika.
Selain itu, Italia bersama World Bank Group dan lembaga pembiayaan CDP juga mengembangkan Global Coffee Initiative yang bertujuan membantu penyusunan proyek serta memperluas akses investasi bagi sektor kopi di berbagai negara produsen.(*)







