KERINCI, http://Eksisjambi.com– Hutan di kawasan kaki Gunung Kerinci kembali menghadapi ancaman serius. Sejak tahun 2022, sekitar 2,3 hektare kawasan hutan di laporkan telah mengalami perambahan.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran berbagai pihak karena kawasan tersebut memiliki peran penting sebagai penyangga ekosistem dan sumber kehidupan masyarakat sekitar.
Gunung Kerinci yang di kenal sebagai gunung tertinggi di Sumatra bukan hanya ikon alam, tetapi juga rumah bagi beragam flora dan fauna endemik.
Perambahan hutan di kawasan ini di nilai berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang, mulai dari rusaknya keseimbangan ekosistem, meningkatnya risiko bencana alam seperti banjir dan longsor, hingga hilangnya sumber mata air.
Aktivitas pembukaan lahan yang di duga di lakukan secara ilegal ini menjadi sorotan, mengingat kawasan kaki Gunung Kerinci termasuk wilayah yang seharusnya di lindungi.
Kerusakan hutan yang terjadi tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati, tetapi juga masa depan lingkungan dan generasi mendatang.
Sejumlah pemerhati lingkungan menyebutkan bahwa perambahan hutan kerap di picu oleh lemahnya pengawasan serta minimnya kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian alam. Jika tidak segera di tangani, kerusakan di khawatirkan akan meluas dan semakin sulit di pulihkan.
Oleh karena itu, masyarakat dan aktivis mendesak agar pemerintah daerah, aparat penegak hukum, serta pengelola kawasan konservasi bertindak tegas, Langkah-langkah seperti peningkatan patroli, penegakan hukum terhadap pelaku perambahan, serta edukasi kepada masyarakat di nilai sangat penting untuk menghentikan laju kerusakan hutan.
“Gunung Kerinci adalah paru-paru alam yang harus kita jaga bersama. Jika hutan terus di rusak, maka dampaknya akan kembali di rasakan oleh manusia itu sendiri,” ujar Kusnadi aktivis lingkungan .
Saat ini, harapan besar tertumpu pada kolaborasi semua pihak untuk menyelamatkan hutan di kaki Gunung Kerinci. Menjaga alam bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga kewajiban bersama demi keberlanjutan lingkungan dan kehidupan di masa depan. (*)







