Home / Daerah / Internasional / Nasional / News

Kamis, 28 Mei 2026 - 08:24 WIB

Ilmuwan Ungkap Pemicu El Nino 2026 Menguat

Oplus_131072

Oplus_131072

Jakarta,http://Eksisjambi.com  – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama sejumlah lembaga iklim dunia terus memantau potensi kemunculan fenomena El Niño pada semester kedua tahun 2026. Fenomena iklim global tersebut di perkirakan dapat memengaruhi pola cuaca di berbagai wilayah, termasuk Indonesia.

Berdasarkan hasil pemantauan sementara, intensitas El Niño 2026 di prediksi berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang sekitar 50 hingga 80 persen. Meski demikian, para ilmuwan juga mencatat masih ada kemungkinan kecil di bawah 20 persen bahwa El Niño berkembang menjadi lebih kuat.

El Niño merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Kondisi tersebut memicu perubahan pola angin, tekanan udara, hingga distribusi curah hujan global.

Para ilmuwan menyebut terdapat beberapa faktor utama yang dapat membuat El Niño 2026 menguat. Salah satunya adalah anomali suhu laut di kawasan Pasifik yang terus meningkat lebih cepat di banding kondisi normal.

Baca Juga :  Wawako Azhar Buka Sosialisasi Merek Kolektif bagi Koperasi Merah Putih

Jika suhu laut terus mengalami pemanasan, sistem atmosfer global juga ikut berubah sehingga memperbesar pengaruh El Niño terhadap cuaca dunia.

Selain itu, interaksi multi-faktor iklim turut berperan dalam memperkuat fenomena tersebut. Faktor seperti angin pasat, tekanan udara, serta kondisi atmosfer lapisan atas saling memengaruhi dan menentukan perkembangan El Niño.

Perubahan iklim global juga di nilai menjadi tantangan baru dalam proses prediksi. Pemanasan bumi yang terus meningkat membuat pola El Niño saat ini berbeda di banding data historis sebelumnya, sehingga dampaknya berpotensi lebih sulit di perkirakan.

BMKG menjelaskan bahwa prediksi El Niño pada periode Maret hingga Mei masih di lakukan secara hati-hati. Hal itu di sebabkan adanya fenomena yang di kenal sebagai spring predictability barrier atau hambatan prediksi musim semi.

Pada periode tersebut, akurasi model iklim biasanya menurun sehingga prakiraan cuaca jangka panjang menjadi lebih sulit di pastikan.

Karena itu, prediksi yang di rilis pada Mei hingga Juni 2026 di perkirakan memiliki tingkat keandalan lebih tinggi untuk melihat perkembangan El Niño enam bulan berikutnya.

Baca Juga :  Gempa Magnitudo 6,7 Guncang Tenggara Palu

Apabila El Niño berkembang lebih kuat, Indonesia berpotensi mengalami musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering di banding kondisi normal.

Fenomena ini memang bukan penyebab langsung terjadinya bencana, namun dapat meningkatkan peluang terjadinya kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, hingga gagal panen di sejumlah daerah.

Di tingkat global, El Niño juga dapat memengaruhi aktivitas cuaca ekstrem lainnya. Fenomena tersebut di ketahui mampu menekan pembentukan badai di kawasan Atlantik, namun di sisi lain meningkatkan aktivitas topan di Pasifik Barat.

Saat ini, ilmuwan dan lembaga meteorologi internasional masih terus memantau perkembangan data atmosfer dan suhu laut secara berkala. Pembaruan prediksi akan di lakukan setiap dasarian guna memastikan tingkat akurasi yang lebih tinggi menjelang akhir tahun 2026.**

Share :

Baca Juga

Daerah

Peristiwa Bencana Hidrometeorologi Terjadi Saat Ini

Daerah

Pemkab Kerinci Gelar Operasi Yustisi, Ratusan Warga Terjaring Razia Tak Pakai Masker
Kode redeem Mobile Legends terbaru 20 April 2026 lengkap

Daerah

Kode Redeem Mobile Legends Terbaru 20 April 2026, Klaim Hadiah 

Internasional

KKB Papua Berondong Tembakan Rombongan PT Freeport, 3 Orang Jadi Korban, 1 Prajurit Gugur

Advertorial

Dumisake Pendidikan Dan Merdeka Belajar: Visi Progresif Untuk Pendidikan Inklusif

Daerah

Kapolda Jambi Terima Audiensi SKK Migas dan PetroChina

Advertorial

Wabup Ami Taher Hadiri Pencanangan Zona Integritas WBK dan WBBM Polres Kerinci

Advertorial

Bupati Tanjab Barat Safari Subuh Di Mesjid Ridhwaniyah