Eksisjambi.com- Dulu, gelar sarjana dianggap kunci emas menuju masa depan yang cerah. Sekarang? Lebih mirip tiket antrean panjang ke ruang tunggu bernama “pengangguran terdidik”.
Data BPS nggak bohong. 6ahun 2014, ada hampir setengah juta sarjana yang belum juga “nyantol” kerja. Enam tahun kemudian, angkanya nyaris tembus satu juta. Dan meski sempat turun di 2024 jadi 842 ribuan, tetap aja: itu stadion penuh orang yang udah kuliah 4 tahun, tapi kariernya belum juga jalan.
Pandemi memang bikin dunia kerja megap-megap, tapi masalahnya bukan cuma virus. Pasar kerja makin sempit, saingan makin banyak, dan perusahaan makin cerewet. Ijazah doang gak cukup harus bisa multitasking sambil ngopi, ngoding, nulis caption, dan meeting jam 9 malam.
Selamat datang di era “sarjana sabar dan kuat mental”. Karena kadang, yang lebih dulu dapat kerja bukan yang paling pintar—tapi yang paling tahan digas terus sama keadaan.
“Bukan salah sarjananya, tapi salah penguasa yang berjanji membuka jutaan lapangan kerja tapi yang ada malah PHK dimana-mana”. (*).







