KARIMUN KEPRI,http://Eksisjambi.com – Di tengah kawasan perbukitan granit di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, tersimpan sebuah peninggalan sejarah penting yang menjadi bukti perkembangan agama Buddha di wilayah maritim Nusantara masa lampau.
Peninggalan tersebut adalah Prasasti Pasir Panjang, sebuah prasasti batu yang dipahat langsung pada dinding bukit granit dan diperkirakan berasal dari sekitar abad IX-X Masehi.
Prasasti Pasir Panjang berada di areal pertambangan PT Granite Karimun, Jalan Meral, Desa Meral, Kabupaten Karimun. Namun secara historis, prasasti ini dikenal berasal dari kawasan Desa Pasir Panjang, tepatnya berada di lereng bukit batu granit yang menjadi lokasi pemahatan tulisan kuno tersebut.
Keberadaan Prasasti Pasir Panjang pertama kali diketahui oleh K.F. Holle pada tahun 1873. Setelah ditemukan, prasasti ini kemudian menarik perhatian para peneliti epigrafi karena memuat tulisan kuno yang berkaitan dengan perkembangan agama Buddha.
Pada Juni 1887, Letnan Ashwath melakukan dokumentasi dan membuat sketsa prasasti untuk dikirimkan kepada British Museum dan Bataviaasch Genootschap di Batavia (kini Jakarta). Dokumentasi tersebut dikirim melalui Natalan, Konsul Jenderal Belanda yang berada di Singapura.
Selanjutnya, dokumen dan tulisan pada prasasti tersebut ditranskripsikan serta diterjemahkan oleh Brandes. Penelitian terhadap prasasti ini kemudian dilanjutkan oleh sejumlah ahli, antara lain Van Caldwel (1900), F.M. Schnitger (1938), dan Machi Suhadi (1999).
Berdasarkan kajian para ahli, fungsi awal Prasasti Pasir Panjang berkaitan dengan kegiatan pemujaan agama Buddha, khususnya aliran Mahayana. Tulisan yang terpahat pada batu tersebut menunjukkan adanya penghormatan terhadap Sang Buddha melalui simbol tapak kaki.
Seiring perjalanan waktu, prasasti ini tidak hanya menjadi objek sejarah, tetapi juga memiliki nilai spiritual bagi umat Buddha. Saat ini, lokasi tersebut masih digunakan sebagai tempat keramat untuk berziarah, memanjatkan doa, serta memohon keselamatan dan keberkahan.
Karena nilai sejarah dan budayanya, Prasasti Pasir Panjang telah resmi ditetapkan sebagai cagar budaya di Tanjungbalai Karimun.
Prasasti Pasir Panjang memiliki ukuran sekitar 100 cm x 173 cm dan dipahatkan pada permukaan dinding bukit batu granit. Untuk melindungi prasasti dari kerusakan akibat faktor alam, pada tahun 1996 dibangun sebuah cungkup dengan ukuran 208 cm x 267 cm.
Tulisan pada prasasti terdiri dari tiga baris dengan ukuran masing-masing:
- Baris pertama: 140 cm x 37 cm
- Baris kedua: 145 cm x 36 cm
- Baris ketiga: 160 cm x 37 cm
Prasasti ini menggunakan aksara Pre-Nagari dengan bahasa Sanskerta, yang menunjukkan pengaruh kebudayaan India dalam perkembangan agama dan intelektual di kawasan Kepulauan Riau pada masa lampau.
Hasil pembacaan dan transliterasi terhadap tulisan Prasasti Pasir Panjang dilakukan oleh beberapa ahli. Berdasarkan pembacaan Brandes dan Caldwel, tulisan tersebut dibaca:
“Mahayanika golayantritasri gautamasripada”
Sementara itu, Machi Suhadi memberikan pembacaan lain:
“Mahayanika golapanditasri gautamasripada”
Meski terdapat perbedaan dalam transliterasi, para ahli sepakat bahwa makna tulisan tersebut berkaitan dengan pemujaan kepada Sang Buddha melalui tapak kaki-Nya.
Tapak kaki Buddha merupakan salah satu simbol penting dalam tradisi Buddhisme awal, yang menggambarkan penghormatan terhadap kehadiran spiritual Sang Buddha.
Para ahli memperkirakan Prasasti Pasir Panjang berasal dari sekitar abad IX-X Masehi, meskipun terdapat pendapat lain yang menyebutkan kemungkinan berasal dari abad XI hingga XII Masehi.
Perbedaan perkiraan masa tersebut muncul karena kajian dilakukan berdasarkan bentuk aksara, bahasa, serta perbandingan dengan peninggalan Buddha lainnya di kawasan Asia Tenggara.
Keberadaan Prasasti Pasir Panjang menjadi bukti bahwa wilayah Kepulauan Riau, khususnya Karimun, telah menjadi bagian penting dalam jaringan perdagangan dan penyebaran budaya serta agama di Asia Tenggara sejak masa kuno.
Prasasti ini tidak hanya memperlihatkan kemampuan masyarakat masa lalu dalam bidang seni pahat dan aksara, tetapi juga menggambarkan hubungan erat antara wilayah kepulauan Nusantara dengan perkembangan agama Buddha Mahayana.
Hingga kini, Prasasti Pasir Panjang menjadi salah satu warisan budaya penting yang memperkaya sejarah Kepulauan Riau dan menjadi saksi perjalanan panjang peradaban Nusantara.*







