LReligi, Eksisjambi.com – Ayat Kursi yang terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 255 di kenal sebagai salah satu ayat paling mulia dalam Al-Qur’an. Banyak umat Islam mengamalkannya sebagai doa perlindungan, memohon kemudahan urusan, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dalam sejumlah tradisi keilmuan Islam, terdapat berbagai metode atau kaifiat pengamalan Ayat Kursi yang di ajarkan oleh para ulama. Salah satunya adalah amalan yang di nisbatkan kepada Syekh Ibrahim Alfandi, yang di yakini sebagai salah satu bentuk ikhtiar spiritual untuk memohon pertolongan Allah SWT.
Keutamaan Ayat Kursi
Ayat Kursi memiliki banyak keutamaan yang di jelaskan dalam hadis-hadis sahih. Rasulullah SAW menyebut Ayat Kursi sebagai ayat yang paling agung dalam Al-Qur’an karena berisi penegasan tentang keesaan, kekuasaan, dan sifat-sifat Allah SWT.
Ayat ini juga memuat nama Allah Al-Hayyu dan Al-Qayyum, yang oleh sebagian ulama di sebut termasuk bagian dari Ismullahil A’zam, yakni nama Allah yang apabila di gunakan untuk berdoa, doa tersebut lebih berpeluang di kabulkan atas izin-Nya.
Selain itu, Ayat Kursi juga di kenal sebagai bacaan yang di anjurkan untuk memohon perlindungan dari berbagai keburukan, baik gangguan manusia, jin, maupun berbagai bentuk marabahaya.
Tata Cara Pengamalan
Berdasarkan ijazah yang di nisbatkan kepada Syekh Ibrahim Alfandi, tata cara pengamalannya sebagai berikut:
- Membaca Ayat Kursi hingga sampai pada kalimat “Wala yauduhu hifzhuhuma wa huwal ‘aliyyul ‘adzim.”
- Mengulang kalimat tersebut sebanyak 70 kali.
- Setelah selesai 70 kali, melanjutkan kembali bacaan Ayat Kursi hingga selesai.
Amalan ini di anjurkan di lakukan secara istiqamah atau rutin setiap hari sebagai bentuk ikhtiar dan doa kepada Allah SWT.
Manfaat yang Di yakini
Dalam tradisi pengamalan tersebut, Ayat Kursi juga di gunakan sebagai wasilah untuk berbagai keperluan, di antaranya:
- Untuk pengobatan, bacaan di tiupkan ke dalam air, kemudian air tersebut di minum atau di gunakan untuk mandi selama tiga hari.
- Untuk membersihkan rumah atau tempat usaha, bacaan di tiupkan pada air atau garam yang kemudian di percikkan atau di taburkan di lokasi yang di yakini memerlukan ikhtiar perlindungan.
- Sebagai wasilah dalam memohon berbagai hajat, seperti memohon kemudahan rezeki, perlindungan, jodoh, maupun jalan keluar dari kesulitan, termasuk ketika menghadapi utang yang telah jatuh tempo.
Perlu di pahami bahwa dalam ajaran Islam, segala bentuk amalan dan doa hanyalah ikhtiar serta wasilah. Yang mengabulkan doa dan memberikan pertolongan hanyalah Allah SWT.
Karena itu, setiap amalan hendaknya dilakukan dengan niat yang ikhlas, keyakinan penuh kepada Allah SWT, disertai usaha nyata, serta di akhiri dengan sikap tawakal terhadap segala ketentuan-Nya.
Dengan demikian, seorang Muslim tidak bergantung pada bacaan atau metode tertentu, melainkan sepenuhnya kepada rahmat dan kehendak Allah SWT.*







