Home / News

Selasa, 26 Mei 2026 - 11:13 WIB

Kisah Ujian Terberat Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail: Bukti Ketaatan kepada Allah SWT

Oplus_131072

Oplus_131072

http://Eksisjambi.com– Kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya Nabi Ismail AS menjadi salah satu peristiwa paling bersejarah dalam ajaran Islam. Perjalanan penuh ujian, pengorbanan, serta ketaatan kepada Allah SWT ini hingga kini di kenang umat Islam setiap Hari Raya Idul Adha.

Setelah beberapa tahun meninggalkan istri dan anaknya, Hajar dan Ismail, di padang pasir tandus Makkah, Nabi Ibrahim AS selalu mengirim utusan untuk mengetahui keadaan mereka. Dari para utusan tersebut, Ibrahim mendapat kabar bahwa Hajar dan Ismail hidup dalam keadaan baik serta menjadi penghuni pertama yang menetap di wilayah Makkah.

Kerinduan yang selama ini di pendam akhirnya membuat Nabi Ibrahim memutuskan berangkat menuju Makkah. Ia bertemu dengan Hajar dan Ismail di Padang Arafah. Saat itu, Ismail telah tumbuh menjadi pemuda yang membantu ibunya menggembalakan ternak.

Melihat kehidupan anak dan istrinya yang berkecukupan, hati Ibrahim merasa lega sekaligus haru. Dalam perjalanan pulang menuju Makkah, mereka beristirahat di Muzdalifah karena kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh dari Palestina.

Di tempat itulah Nabi Ibrahim mendapatkan mimpi yang menjadi wahyu dari Allah SWT. Dalam mimpinya, ia di perintahkan untuk menyembelih putranya sendiri, Nabi Ismail AS, sebagai bukti ketundukan dan ketaatan kepada Allah.

Perintah tersebut membuat hati Ibrahim berdebar hebat. Ismail adalah anak yang sangat di cintainya dan telah lama di nanti kehadirannya. Sebelumnya, Ibrahim dan istrinya Sarah belum juga di karuniai anak hingga usia mereka lanjut.

Baca Juga :  Bupati Adi Rozal Datangi RSUD Mayjen HA Thalib.

Meski berat, Nabi Ibrahim akhirnya menguatkan hati demi menjalankan perintah Allah SWT. Dengan penuh keteguhan, ia menyampaikan mimpi tersebut kepada putranya.

“Wahai Ismail, aku di perintahkan Allah untuk menyembelihmu. Bagaimanakah pendapatmu, Nak?” tanya Ibrahim.

Dengan penuh keikhlasan, Nabi Ismail menjawab, “Wahai ayah, jika itu perintah Allah, maka laksanakanlah. Insya Allah aku termasuk orang-orang yang sabar dan ikhlas.”

Kisah ini juga menceritakan bagaimana Iblis berusaha menggoda Ibrahim, Hajar, dan Ismail agar membatalkan perintah Allah tersebut. Namun ketiganya tetap teguh dalam keimanan dan tidak tergoyahkan oleh bujuk rayu Iblis.

Saat proses penyembelihan akan di lakukan di Mina pada 10 Dzulhijjah, Nabi Ibrahim membaringkan Ismail dan menutup wajahnya dengan kain putih. Ketika pedang hampir menyentuh leher Ismail, Allah SWT memerintahkan Malaikat Jibril menggantikan Ismail dengan seekor kambing yang besar dan gemuk.

Peristiwa itu menjadi bukti bahwa Nabi Ibrahim telah lulus dari ujian besar. Allah SWT kemudian berfirman bahwa pengorbanan tersebut menjadi tanda keikhlasan dan ketakwaan hamba-Nya.

Peristiwa bersejarah itu kemudian di peringati umat Islam sebagai Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban. Hingga kini, umat Islam di seluruh dunia melaksanakan ibadah kurban sebagai bentuk penghormatan terhadap keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.

Baca Juga :  Wabup Tanjab Barat Safari Ramadan Di Mesjid Tanmiyatul Iman Kelurahan Mekar Jaya Kecamatan Betara

Petunjuk Nabi Ibrahim dalam Memilih Istri untuk Ismail

Selain kisah pengorbanan, Nabi Ibrahim juga memberikan pelajaran penting kepada putranya tentang memilih pasangan hidup.

Ketika Nabi Ismail telah dewasa, ia menikah dengan seorang wanita dari kaum Jurhum. Suatu hari Nabi Ibrahim datang mengunjungi rumah Ismail saat putranya sedang pergi berburu.

Istri Ismail menyambut Ibrahim, namun ia mengeluhkan keadaan rumah tangganya dan menceritakan kekurangan suaminya. Bahkan ia mengaku tidak memiliki makanan maupun minuman untuk menjamu tamu.

Mendengar hal tersebut, Nabi Ibrahim merasa kecewa. Sebelum pergi, ia berpesan agar Ismail “mengganti ambang pintu rumahnya.”

Ketika Ismail pulang dan mendengar pesan itu, ia memahami bahwa ayahnya meminta dirinya menceraikan istrinya. Akhirnya, Ismail pun berpisah dengan wanita tersebut.

Setelah itu, Nabi Ismail menikah lagi dengan wanita lain yang memiliki akhlak mulia, ramah, serta menjaga kehormatan suaminya. Saat Nabi Ibrahim kembali berkunjung, ia disambut dengan baik tanpa mendengar keluhan maupun keburukan tentang Ismail.

Sebelum pulang, Ibrahim berpesan agar “ambang pintu rumah tidak diganti.” Ismail memahami bahwa ayahnya merestui pernikahan tersebut.

Dari keturunan Nabi Ismail AS inilah kemudian lahir Nabi terakhir umat Islam, yaitu Nabi Muhammad SAW.

Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menjadi teladan tentang keikhlasan, kesabaran, ketaatan kepada Allah SWT, serta pentingnya menjaga akhlak dalam kehidupan keluarga.**

Share :

Baca Juga

Bangko

Bupati M. Syukur Imbau Seluruh Lapisan Masyarakat untuk Proaktif Dalam Menghadapi Ancaman Bencana

Advertorial

Pembahasan Akhir RANPERDA Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Kota Sungai Penuh Tahun 2023

Daerah

Wawako Azhar Hamzah Hadiri Bimtek ASWAKADA 2026
Dugaan Korupsi di Dinas Pendidikan provinsi Jatim

Daerah

Dugaan Korupsi Rp102,975 miliar di Dinas Pendidikan Provinsi Jatim Terus Bergulir, Kejati Jatim Tahan 2 Direktur Perusahaan

Daerah

Walikota Alfin Terima Kunjungan Panitia Shalat Idul Adha 1447 H, Pastikan Pelaksanaan Berjalan Lancar
Foto Tangkapan Layar Kode Redeem Free Fire Terbaru

Daerah

Kode Redeem Free Fire Terbaru 22 Agustus 2026: Klaim Hadiah 
Ilustrasi ASN Dharmasraya

Daerah

ASN Dharmasraya yang Dipecat Tanpa Penjelasan, Kini Cari Keadilan 

Advertorial

Dinas PUPR Kabupaten Kerinci Gelar Sosialisasi KLHS