Home / Daerah / Internasional / Nasional / News / Provinsi Jambi

Kamis, 23 April 2026 - 21:43 WIB

Mangrove, Benteng Alami Pesisir yang Menopang Ekonomi dan Lingkungan di Jambi

Oplus_131072

Oplus_131072

Jambi,http://Eksisjambi.com  –  Ekosistem mangrove yang tumbuh di wilayah pesisir, khususnya di kawasan berlumpur yang di pengaruhi pasang surut air laut, memiliki peran strategis bagi lingkungan dan kehidupan masyarakat. Di balik tampilannya yang sederhana, mangrove menyimpan fungsi vital sebagai pelindung alami pantai sekaligus penopang ekonomi masyarakat pesisir.

Mangrove di kenal sebagai “benteng alami” karena kemampuannya melindungi garis pantai dari abrasi, gelombang besar, hingga potensi tsunami. Akar mangrove yang kuat dan kompleks mampu menahan tanah agar tidak mudah terkikis, sekaligus meredam energi gelombang laut hingga 50–99 persen.

Selain itu, hutan mangrove menjadi habitat penting bagi berbagai jenis biota laut seperti ikan, udang, dan kepiting. Kawasan ini juga berfungsi sebagai tempat berkembang biak (nursery ground) yang sangat menentukan keberlanjutan sumber daya perikanan.

Keunikan mangrove terletak pada kemampuannya bertahan di lingkungan ekstrem, seperti air asin, tanah berlumpur, dan kondisi pasang surut yang dinamis. Tidak hanya itu, mangrove juga memiliki peran penting dalam mitigasi perubahan iklim karena mampu menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah besar, bahkan lebih tinggi dibandingkan hutan daratan. Peran ini menjadikan mangrove bagian penting dalam konsep ekonomi biru, yakni pembangunan ekonomi yang tetap menjaga kelestarian lingkungan laut dan pesisir.

Di Provinsi Jambi, luas mangrove tercatat sekitar 12.583 hektare. Sebagian besar atau sekitar 80 persen berada di wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur, sementara sisanya berada di Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Dari total tersebut, sekitar 77 persen mangrove masih dalam kondisi baik, namun 22 persen lainnya mengalami kerusakan berat.

Baca Juga :  Ketika Longsor di Tracy Arm Memicu Megatsunami Setinggi 481 Meter

Kerusakan ini di sebabkan oleh berbagai faktor, seperti abrasi pantai, penebangan, alih fungsi lahan menjadi tambak, serta pembangunan permukiman. Abrasi menjadi salah satu ancaman utama akibat ketidakseimbangan antara proses alami dan perlindungan vegetasi mangrove. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka risiko bencana di wilayah pesisir akan semakin meningkat.

Dari sisi manfaat, mangrove tidak hanya penting bagi lingkungan, tetapi juga berdampak langsung terhadap ekonomi masyarakat. Keberadaan mangrove sangat mempengaruhi hasil tangkapan nelayan, karena banyak ikan yang bergantung pada ekosistem ini saat fase awal kehidupannya. Selain itu, akar mangrove mampu menyaring zat berbahaya seperti limbah dan logam berat, sehingga menjaga kualitas air laut tetap baik.

Potensi lain yang dapat dikembangkan adalah sektor ekowisata berbasis mangrove serta produk olahan hasil hutan mangrove. Namun demikian, masyarakat pesisir di Jambi masih menghadapi sejumlah tantangan ekonomi.

Data menunjukkan tingkat kemiskinan di wilayah pesisir masih relatif tinggi, yakni mencapai 9,54 persen di Tanjung Jabung Barat dan 10,14 persen di Tanjung Jabung Timur, lebih tinggi dibandingkan rata-rata Provinsi Jambi sebesar 7,19 persen. Kondisi ini dipengaruhi oleh pemanfaatan sumber daya mangrove yang belum optimal, terutama di sektor perikanan.

Baca Juga :  Kalimantan Timur Catat Deforestasi Tertinggi Kehilangan Hutan Capai 175 Ribu Hektare

Meski tingkat pengangguran relatif rendah, sebagian besar masyarakat bekerja di sektor informal seperti nelayan tradisional dengan pendapatan yang tidak menentu. Dari sisi pembangunan manusia, wilayah pesisir juga masih tertinggal. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tercatat sebesar 69,93 dan 67,54, jauh di bawah rata-rata provinsi yang mencapai 73,43.

Keterbatasan akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan menjadi tantangan tersendiri. Masalah kesehatan seperti stunting juga masih ditemukan, khususnya di wilayah pesisir Tanjung Jabung Timur, meskipun daerah tersebut memiliki potensi sumber protein dari hasil laut yang melimpah.

Melihat kondisi tersebut, pengelolaan mangrove secara terpadu menjadi kebutuhan mendesak. Upaya yang dapat dilakukan antara lain rehabilitasi mangrove, pengembangan ekonomi berbasis mangrove seperti ekowisata, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan.

Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait menjadi kunci dalam menjaga kelestarian mangrove. Dengan pengelolaan yang tepat, mangrove tidak hanya akan tetap lestari sebagai pelindung lingkungan, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir secara berkelanjutan.**

Share :

Baca Juga

Daerah

Menjelang Kenduri Sko Depati IV Kumun Debai, Panitia Gelar Penyembelihan Kerbau dan Sapi

Bangko

Ini Alasan H. Mashuri Memenangkan Nalim Nilwan
Presiden Prabowo Subianto bahas strategi penghematan energi nasional bersama menteri Kabinet Merah Putih di Istana

Daerah

Presiden Bahas Strategi Penghematan Energi, Antisipasi Dampak Geopolitik Timur Tengah
Pasar Modal Indonesia

Daerah

DPR RI Soroti Trading Halt Berulang, Desak Respons Kebijakan Terukur dan Transparan

Bungo

Kapolda Jambi Kunker ke Polres Bungo

Advertorial

Sekda Zainal Efendi Hadiri Pelepasan Jamaah Haji Kabupaten Kerinci

Daerah

Diskominfo Kota Sungai Penuh Rutin Gelar Program 3S

Internasional

Satria Kumbara Luka Parah Diserang Mortir dan Drone Ukraina