Home / Daerah / Internasional / Nasional / News / Religi

Kamis, 25 Desember 2025 - 07:43 WIB

Memahami Makna Ma’rifat, Hakikat, dan Jalan Ruhani Menuju Allah

Religi, http://Eksisjambi.com– Dalam amaliah dzikir, khususnya sebelum melaksanakan dzikir jahar dan dzikir khofi, para salik atau ikhwan tarekat kerap mengawali dengan ungkapan penuh makna: “Ilahi anta maqsudi wa ridhoka mathlubi” (Ya Allah, Engkau tujuanku dan ridha-Mu yang aku cari, karuniakan kepadaku cinta dan ma’rifat kepada-Mu).

Ungkapan ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan doa mendalam yang menggambarkan tujuan tertinggi perjalanan ruhani seorang hamba.

Lantas, apa sebenarnya yang di maksud dengan Ma’rifat? Apakah Ma’rifat harus di capai lebih dahulu sebelum Hakikat, atau sebaliknya? Dan mengapa tidak sedikit orang yang telah merasakan Ma’rifat justru tergelincir dalam perjalanan spiritualnya?

Secara umum, Ma’rifat di maknai sebagai pengenalan seorang hamba kepada Allah. Namun dalam tradisi tasawuf, Ma’rifat bukan hanya sebatas pengetahuan intelektual, melainkan proses berlapis yang berhubungan erat dengan syariat, thariqat, dan hakikat.

Banyak ulama tasawuf menjelaskan bahwa seseorang bisa mengalami Ma’rifat, tetapi belum tentu selamat, apabila belum mencapai Hakikat. Inilah sebabnya mengapa ada orang yang tampak telah “mengenal Allah”, namun kemudian tergelincir karena masih terjebak pada rasa diri, ujub, atau kebanggaan spiritual.

Hakikatlah yang menjadi penopang keselamatan, karena di sanalah hamba benar-benar menyaksikan Allah dengan mata hati yang jernih.

Ma’rifat terbagi menjadi dua, yakni Ma’rifat Dzat dan Ma’rifat Sifat.

Ma’rifat Dzat merupakan pengenalan terhadap Dzat Allah yang hakiki, dan menurut para ulama, hal ini hanya akan terjadi secara sempurna di akhirat. Sementara itu, Ma’rifat Sifat dapat terjadi baik di dunia maupun di akhirat.

Ma’rifat Sifat inilah yang menjadi fokus perjalanan ruhani di dunia, dan ia hadir dalam tiga tahapan besar: syariat, thariqat, dan hakikat.

Baca Juga :  iPhone Fold Dikabarkan Hadir TANPA Slot SIM Fisik! Apple Siap All-in eSIM?

Pada tahapan syariat, Ma’rifat Sifat di kenal sebagai Ma’rifat bil ilmi atau bil ‘aqli, yakni mengenal Allah melalui ilmu. Dalam konteks ini, seorang muslim mempelajari bahwa Allah memiliki 20 sifat wajib, 20 sifat mustahil, dan 1 sifat jaiz. Inilah Ma’rifat yang bersifat dasar dan menjadi fondasi keimanan.

Ma’rifat jenis ini pula yang dimaksud dalam ungkapan para ulama: “Kewajiban pertama dalam agama adalah Ma’rifat kepada Allah.” Tanpa Ma’rifat bil ilmi, ibadah akan kehilangan arah dan pijakan.

Pada tahapan thariqat, Ma’rifat Sifat meningkat menjadi Ma’rifat bil amali atau bil akhlaqi. Di sini, pengenalan kepada Allah tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi di wujudkan dalam amal dan akhlak.

Thariqat adalah jalan menuju Allah, sehingga seorang salik dituntut untuk meneladani sifat dan Asma Allah. Allah Maha Mengetahui, maka pejalan ruhani harus membekali diri dengan ilmu, menumbuhkan semangat belajar, dan terus menuntut ilmu sebagai bagian dari kewajiban fardhu ‘ain. Allah memiliki sifat Iradat (kehendak), maka seorang salik pun harus memiliki kehendak yang kuat, visi yang jelas, dan kesungguhan dalam perjalanan menuju-Nya.

Semua ini merupakan bagian dari Ma’rifat bil amal, yaitu mengenal Allah melalui perbuatan nyata dan pembentukan karakter.

Adapun pada tahapan hakikat, Ma’rifat Sifat mencapai puncaknya dalam bentuk Ma’rifat bil bashiroh, yakni pengenalan kepada Allah melalui mata hati yang penuh iman. Pada tahap ini, seorang hamba mengalami pengalaman spiritual yang mendalam, di mana ia “tidak memandang sesuatu, melainkan memandang Allah di dalamnya”.

Inilah yang di sebut musyahadah, yaitu menyaksikan keagungan (Al-Jalal) dan keindahan (Al-Jamal) Allah dalam setiap ciptaan. Pada titik ini, Ma’rifat benar-benar bersatu dengan Hakikat. Tidak semua Ma’rifat adalah Hakikat, tetapi Ma’rifat bil bashiroh-lah yang mengantarkan seorang hamba kepada Hakikat sejati.

Baca Juga :  Kunci Ilmu Jantung Al-Qur'an Ayat Tengah Diyakini Memiliki Makna Multifungsi 

Para guru tasawuf menegaskan bahwa Ma’rifat, khususnya Ma’rifat bil bashiroh, bukan tujuan yang di kejar dengan ambisi. Ia adalah anugerah Allah, bukan hasil semata dari ilmu ataupun amal. Oleh karena itu, seorang salik tidak di anjurkan untuk mengejar Ma’rifat itu sendiri, melainkan fokus pada ibadah, dzikir, dan penyucian diri dengan ikhlas.

Meski demikian, perlu di pahami bahwa sangat sulit bagi seseorang untuk meraih Ma’rifat bil bashiroh jika dzikir dan khotamannya kurang di amalkan dan di latih secara istiqamah. Dzikir bukanlah jaminan Ma’rifat, tetapi ia adalah pintu dan sarana yang sangat penting dalam perjalanan ruhani.

Dalam tradisi tasawuf, Ma’rifat di ajarkan dari Rasulullah SAW kepada para sahabat melalui sirr (rahasia batin) yang kemudian di wariskan secara berkesinambungan. Proses ini di tempuh melalui empat tahapan utama:

  • Di talqinkan dzikir, sebagai pembukaan jalan ruhani.
  • Membersihkan qalbu dari dosa, agar hati layak menerima cahaya.
  • Mensucikan jiwa dari sifat tercela dan sifat kebinatangan, sebagai proses tazkiyatun nafs.
  • Wushul kepada Allah, meraih kebahagiaan yang suci dan halal.

Keempat tahapan ini seakan menyampaikan pesan tersembunyi bahwa Ma’rifat Sifat bil bashiroh tidak akan terwujud tanpa dzikir yang di amalkan secara sungguh-sungguh dan berkesinambungan.

Dengan demikian, dzikir jahar dan dzikir khofi bukan sekadar ritual, melainkan jalan penyucian diri menuju pengenalan sejati kepada Allah. Ma’rifat bukan tujuan akhir, tetapi karunia yang Allah limpahkan kepada hamba-Nya yang berjalan dengan adab, kesabaran, dan keikhlasan. (*)

Share :

Baca Juga

Advertorial

Kapolres Tebo Pimpin Upacara Penyerahan Jabatan Wakapolres Tebo

Daerah

DPR RI Usulkan Gaji PPPK dan PPPK Paruh Waktu Ditanggung APBN

Advertorial

DPRD  Zakaria: Paslon Monadi Murison  Melebihi Target Didapil 2  Gunung Tujuh dan Kayu Aro Barat 
Kode Redeem MLBB Terbaru

Daerah

Kode Redeem MLBB Terbaru 25 Maret 2026, Klaim Sekarang
Pelaporan LHKPN

Daerah

Kepatuhan LHKPN 2025 Capai 94,89 Persen, KPK Temukan Puluhan Indikasi Korupsi

Advertorial

Kerjasama Petrochina dan Pemkab Terkait Pembangunan Ruas Jalan Geragai Menuju Mendahara Kembali Diluncurkan

Bangko

DWP Merangin Gaungkan Semangat DWPMengajar Menuju Indonesia Emas 2045

Daerah

Diduga Dipicu Perselingkuhan, Keributan Terjadi di Rumah Makan Desa Sungai Liuk