Home / Daerah / Internasional / Nasional / News / Sosbud

Minggu, 26 April 2026 - 09:24 WIB

OPINI.. KENDURI SKO HAMPARAN RAWANG HANYALAH GEJALA, DEMOKRASI KITALAH YANG MATI

Oplus_131072

Oplus_131072

Oleh: Harul Mukri Ananta
Mahasiswa Pendidikan Sejarah UNP

​Ramainya perbincangan di jagat digital mengenai vakumnya Kenduri Sko selama 25 tahun di Hamparan Rawang seharusnya tidak berhenti pada perdebatan teknis tentang dana atau seremoni. Bagi saya, Kenduri Sko itu hal sepele. Ia hanyalah sebuah perhelatan. Persoalan yang jauh lebih fundamental dan mengerikan adalah apa yang menyebabkan ia tiada: Matinya napas demokrasi di Bumi Hamparan.

​Gugatan dari Perantauan

​Postingan IMR-Padang yang belakangan ini di media sosial tidak seharusnya dipandang sebagai serangan kebencian. Sebaliknya, itu adalah upaya paksa untuk menghidupkan kembali nalar kritis kita yang telah lama mati suri. Melalui gerakan digital tersebut, mahasiswa ingin menegaskan satu hal: Bahwa kita juga punya suara. Kita sedang mencoba merebut kembali ruang publik yang selama ini dibungkam.

Kebenaran yang Didikte

​Secara teoretis, sosiolog Jürgen Habermas menekankan pentingnya Public Sphere (Ruang Publik) sebagai prasyarat peradaban yang sehat. Di Hamparan Rawang, ruang ini telah dibajak. Kita terjebak dalam budaya ketakutan (culture of fear); sebuah kondisi di mana kebenaran didikte oleh segelintir tokoh, dan masyarakat dipaksa menelan mentah-mentah setiap bualan sebagai titah yang tak terbantahkan.

Baca Juga :  Akram Tri Rizki Pimpin HIMSAK Periode 2022-2023

​Jika demokrasi kita hidup, kita hanya butuh waktu paling lama dua jam untuk duduk bersama dan membedah urgensi Kenduri Sko. Secara ilmiah, kita bisa membedah: apakah ia masih relevan? Jika hasil kajian menyatakan tidak penting, ya sudah, tiadakan saja. Selesai. Namun, ketidakmampuan kita untuk sekadar memutuskan hal “sepele” ini membuktikan bahwa mekanisme musyawarah kita telah mengalami kelumpuhan total.

​Ilusi Kepemimpinan

​Matinya demokrasi ini terkonfirmasi dari bagaimana masyarakat kita begitu mudah terlena oleh pragmatisme money politic. Suara rakyat, yang seharusnya menjadi manifestasi kedaulatan, kini dihargai dengan harga yang sangat murah.

Baca Juga :  Wako & Wawako Sungai Penuh Hadiri Grand Final Bujang Gadis & Putra Putri Pariwisata Sungai Penuh

​Kita juga terlena oleh bualan pemimpin yang menjanjikan pemberantasan banjir—sebuah janji yang secara etis bersifat manipulatif. Perlu kita sadari bersama bahwa mengatasi banjir adalah kewajiban konstitusional negara dan pemerintah, bukan sebuah “bonus” atau prestasi heroik. Ketika kewajiban dianggap sebagai jasa, di situlah nalar demokratis kita telah mati.

Tangisilah Kedaulatan

​Berhentilah meratapi Kenduri Sko sebagai sebuah kehilangan besar. Yang harus kita tangisi adalah hilangnya keberanian kita untuk berpendapat dan ketidakberdayaan kita di hadapan dominasi kekuasaan yang absolut.

Mari! Rebut kembali ruang bicara kita. Berhentilah menilai segala sesuatu dengan nominal rupiah, karena harga diri Hamparan Rawang jauh lebih mahal daripada recehan transaksional yang membelenggu kita.

HIDUP IMR, JAYA IMR!
CINTA DAN CITA KAMI UNTUKMU HAMPARAN.**

Share :

Baca Juga

Daerah

Kerusuhan Liga Indonesia Kembali Terjadi, DPR Minta PSSI dan Pemerintah Bertindak Tegas

Bangko

Cahaya Anak Yatim Penderita Gagal Ginjal Butuh Uluran Tangan Para Dermawan

Daerah

Dugaan proyek rehabilitasi WC umum di taman wisata aroma pecco Milik Kades Sungai asam, Jumadi di kerja kan asal jadi

Daerah

Rapat Batas Daerah Tanjab Barat–Tanjab Timur Hasilkan Kesepakatan ke TPBD Pusat

Daerah

Pemkab Tebo Gelar Rakor Pembangunan Kawasan Pedesaan

Advertorial

DPRD Kota Sungai Penuh Gelar Paripurna Ke-II Terhadap Ranperda APBD -P

Nasional

Breaking news..!! Bocah 5 Tahun Hilang di Kawasan Perladangan Desa Selangpaung
Yamaha NMAX Turbo hadir dengan warna baru yang lebih stylish dan premium,

Daerah

Tampil Lebih Berkelas, Yamaha NMAX “TURBO” Hadir dengan Warna Baru