Home / Daerah / Internasional / Nasional / Nasional / News / Peristiwa

Kamis, 24 April 2025 - 21:35 WIB

Sesar Besar Sumatra Sepanjang 1.900 Km, Bisakah Bergeser Sekaligus Seperti di Myanmar dan Turki?

Eksisjambi.com- Akhir-akhir ini tingkat kegempaan di wilayah Sumatra cenderung naik, khususnya di Aceh, Sumut dan Sumbar. Gempa M4.6 di Padang Panjang pada 19 April 2025 lalu menjadi sebuah bukti kalau sesar ini masih menjadi bayang-bayang masyarakat Sumatra. Sesar yang membentang sepanjang Pulau Sumatra dan membentuk gugusan pegunungan bukit barisan hingga lembah yang cantik nan memanjakan mata ternyata menyimpan potensi yang besar. Sesar itu tak lain dan tak bukan adalah Sesar Besar Sumatra.

Sesar Besar Sumatra atau dikenal juga sebagai Patahan Semangko merupakan salah satu struktur geologi terpenting dan terkenal di Indonesia. Sesar Besar Sumatra memiliki sistem sesar geser (strike-slip) dekstral (kanan) yang memanjang dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan, dengan panjang sekitar 1.900 km. Sesar ini terbentuk akibat interaksi lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia dan memiliki potensi menimbulkan aktivitas seismik yang tinggi.

Artikel ini akan membahas karakteristik Sesar Besar Sumatra, mekanisme pergerakannya, wilayah yang dilalui sesar ini serta potensi bahaya geologis seperti gempa bumi dan tsunami yang dapat ditimbulkannya.
Sesar Besar Sumatra kurang lebih terbagi menjadi 52 segmen. Segmen ini menyebar dipelosok pulau Sumatra. Pembahasan setiap segmen akan dibahas per provinsi dan akan dimulai dari Provinsi Aceh.

1. Provinsi Aceh
Aceh menjadi provinsi dengan jumlah segmen terbanyak yaitu sekitar 20 segmen (detail segmen ada di foto). Segmen ini menyebar dan membentuk gugusan gunung serta lembah yang menawan. Berdasarkan hasil penelitian untuk segmen terpanjang di Provinsi Aceh yaitu Segmen Seulimeum Utara dengan panjang 143 km. Segmen ini memiliki laju pergeseran sekitar 18-20 mm/tahun (ito,dkk 2012). Sejarah gempa besar yang dihasilkan dari Segmen ini pernah terjadi pada tahun 1964 dengan kekuatan gempa M6.5 – M7.0.

2. Provinsi Sumatra Utara
Gugusan Lembah cantik di Sidikalang dan Padang Sidempuan menjadi bukti keberadaan Sesar ini. Sesar ini memanjang melintasi wilayah Karo, Dairi, Samosir, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Kota Padang Sidempuan dan Mandailing Natal. Segmen Renun A menjadi segmen terpanjang di wilayah Provinsi ini dengan panjang 180 km dengan laju pergeseran sekitar 8-10 mm/tahun (Natawidjaja dan Sieh, 2000). Sejarah gempa besar yang dihasilkan dari Segmen ini pernah terjadi pada tahun 1921 dengan kekuatan gempa M6.7. Namun untuk gempa terbesar yang dihasilkan dari Sesar Besar Sumatra diwilayah Sumut dihasilkan oleh segmen Angkola dengan kekuatan M7.5 tahun 1892. Segmen Angkola ini memiliki panjang sekitar 170 Km.

3. Provinsi Sumatra Barat
Ngarai Sianok tercipta oleh Sesar Besar Sumatra. Sebuah objek geologis yang dapat dilihat secara nyata oleh mata manusia. Beberapa hari tarakhir aktivitas kegempaan di daratan Sumatra barat dihasilkan oleh sesar ini. Di Sumatra Barat sesar besar sumatra terbagi menjadi segmen Barumun, Sumpur, Sianok, Sumani, dan Suliti. Wilayah yang dilintasi segmen ini Pasaman, Pasaman Barat, Agam, Bukittingi, Padang Panjang, Tanah Datar, Solok, Kota Solok, Solok, Solok Selatan dan Pesisir Selatan. Segmen di Sumbar ini cenderung menghasilkan lebih banyak gempa besar, seperti tahun 1926 M6.4 dan 2007 M6.4 yang dihasilkan dari segmen Sianok. Tahun 1926 M6.7 dan 2007 M6.4 Segmen Sumani. Dan tahun 1943 M7.8 dan M7.5 Segmen Suliti.

Baca Juga :  Gua Raksasa Son Doong Vietnam Bikin Takjub Dunia

4. Provinsi Jambi
Wilayah Kerinci dan Sungai Penuh menjadi wilayah yang memiliki potensi gempa tertinggi di Provinsi Jambi. Wilayah ini dilintasi oleh Sesar Besar Sumatra Segmen Siulak yang memiliki panjang sekitar 70 Km. Segmen ini pernah menghasilkan gempa besar pada tahun 1909 M7.3, 1995 M6.8 dan 2009 M6.8. keberadaan segmen ini yang membelah Danau Kerinci menyebabkan potensi Likuefaksi dan Tsunami jika terjadi gempa dari segmen ini.

5. Provinsi Bengkulu
Bengkulu dilintasi oleh 4 segmen Sesar Besar Sumatra, yaitu Segmen Dikit, Ketaun, Musi dan Manna. Keempat segmen ini pernah menghasilkan gempa besar yaitu Dikit (M6.6 2009), Ketaun (M7.4 1973), Musi (M7.0 1900) dan Manna (M7.0 1893).

6. Provinsi Sumatra Selatan
Kabupaten Empat Lawang, Lahat, Muara Enim, Ogan Komering Ulu Selatan dan Kota Pagar Alam menjadi wilayah yang dilintasi Sesar Besar Sumatra yaitu segmen Kumering Utara dan Kumering Selatan. Kedua sesar ini pernah menghasilkan gempa tahun 1933 M7.5 yang bergerak secara bersamaan.

7. Provinsi Lampung
Lampung menjadi provinsi terakhir yang dilintasi oleh Sesar ini. Terbagi menjadi Segmen Semangko Barat A dan B, serta Semangko Timur A dan B. Segmen ini beberapa kali menghasilkan gempa besar seperti tahun 1908 dengan Magnite M7.0

Potensi Bahaya Geologis yang ada disepanjang Sesar Besar Sumatra terbilang cukup tinggi. Semua segmen memiliki potensi maksimal gempa lebih dari M6.5. sehingga menjadi bayang-bayang bagi penduduk di kota-kota besar yang dilintasinya. Terdapat beberapa kota yang dilintasi sesar besar Sumatra yang memiliki penduduk lebih dari 100.000 penduduk, terdiri dari Kota Banda Aceh, Kota Padang Sidempuan, Kota Bukittinggi dan Kota Sungai Penuh.

Setiap segmen memiliki tingkat aktivitas dan mekanisme pergerakan yang berbeda, yang dapat memengaruhi potensi gempa di wilayah sekitarnya. Dan jika diperhatikan lebih lanjut yang didasari oleh riwayat gempa masa lalu melalui catatan dan dokumentasi sejak zaman hindia belanda hingga Pemerintah Indonesia, Segmen Sianok, Suliti dan Siulak menjadi Segmen dengan aktivitas tektonik tertinggi dan pernah menghasilkan gempa besar yang berdampak sangat merugikan di wilayah Sumatra Barat dan Jambi.

Tsunami Lokal juga berpotensi dari adanya pergerakan sesar besar sumatra, pergerakan sesar ini dapat memicu longsor dipinggir danau yang berpotensi menimbulkan tsunami lokal. Danau Singkarak, Kerinci dan Ranau menjadi 3 danau yang berpotensi terjadinya tsunami local. Seperti yang pernah terjadi di Danau Singkarak pada tanggal 28 Juni 1926. Menurut Soteadi 1962, gelombang tsunami ini disebabkan oleh penurunan permukaan tanah di bagian selatan Danau Singkarak. Di beberapa tempat, penurunan permukaan tanah bisa mencapai 10 meter. Penurunan secara tiba-tiba tersebut menyebabkan gelombang tsunami, menjalar dari bagian selatan danau menuju utara danau yang ditempuh dalam waktu 10 menit. Jika diperkirakan jarak yang ditempuh tsunami dari bagian selatan danau menuju bagian utara danau adalah 20.57 kilometer, maka kecepatan tsunami di Danau Singkarak kala itu diperkirakan mencapai 122 kilometer per jam.

Baca Juga :  Program Magister Manajemen Bencana UI Buka Pendaftaran TA 2026/2027

Likuefaksi dan Longsor juga menjadi ancaman disepanjang sesar besar sumatra. Wilayah yang berpotensi terjadinya Likuefaksi dengan Kerentanan tertinggi adalah Kabupaten Pidie, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Karo, Pasaman, Kerinci, Rejang Lebong dan Empat Lawang. Wilayah tersebut tersusun dari tanah aluvial disepanjang Sesar Besar Sumatra, jenis tanah tersebut rentan terhadap likuefaksi saat terjadi gempa kuat. Untuk zona likuefaksi sedang tersebar diwilayah Pesisir Aceh, Sumut, Sumbar dan Bengkulu serta diwilayah yang terdapat Danau besar.

Mitigasi dan Rekomendasi harus dilakukan oleh pemerintah disemua wilayah tersebut. Hal ini bertujuan untuk mengurangi dampak bencana. Berikut beberapa langkah mitigasi yang dapat dilakukan.
1. Pemetaan Zona Rawan Gempa, Identifikasi tepat lokasi sesar aktif untuk perencanaan infrastruktur.
2. Pembangunan Infrastruktur Tahan Gempa, Menerapkan standar bangunan seismik di kota-kota rawan.
3. Sistem Peringatan Dini, Memperkuat jaringan seismograf dan sistem peringatan tsunami.
4. Edukasi Masyarakat, Sosialisasi kesiapsiagaan bencana di daerah rawan.

Sebagian besar daerah telah menjalani penanggulangan bencana terutama di kota-kota Besar seperti Banda Aceh, Padang Sidempuan, Bukittinggi, Padang Panjang, Solok, Sungai Penuh dan Lainnya. Hal ini sangat membutuhkan dukungan dan kesadaran penuh dari masyarakat bahwasanya sesar besar sumatra masih terus mengintai kita. Jadi mulailah banyak membaca tentang mitigasi bencana, apa yang harus disiapkan dan apa yang harus dilakukan saat terjadi bencana serta pasca bencana.

Lalu jika Sesar Besar Sumatra dibandingkan dengan Patahan Sagaing di Myanmar maka bisa dibilang patahan ini agak mirip. Jika Sesar Besar Sumatra memiliki panjang 1.900 Km maka Sagaing memiliki panjang 1.200 Km. Dominasi sesar geser dalam pergerakannya menambah kemiripan kedua sesar ini. Tepapi dalam hal energi sepertinya masih kurang sebanding. Jika Sesar Sagaing membutuhkan 520 km panjang segmen untuk menghasilkan gempa M7.7 maka Sesar besar Sumatra hanya membutuhkan 1 segmen saja untuk menghasilkan gempa dengan kekuatan yang sama yaitu Segmen Suliti menghasilkan gempa kembar pada 8 Juni 1943 dengan kekuatan gempa M7.8 dan M7.5.

Artikel ini di kutip dai laman @infogempadunia #info #gempa #dunia

referensi
– BMKG. (2023). Katalog Gempa Indonesia.
– Ito, T., Gunawan, E., Kimata, F., Tabei, T., Simons, M., Meilano, I., … & Sugiyanto, D. (2012). Isolating along‐ strike variations in the depth extent of shallow creep and fault locking on the northern Great Sumatran Fault. Journal of Geophysical Research: Solid Earth, 117(B6).(*)

 

Share :

Baca Juga

Advertorial

Bupati Adirozal Hadiri Acara Kenduri Sko Kerapatan Adat dan Kenduri Swarnabhumi 13 Desa Kecamatan Gunung Tujuh
PPPK Ke PNS

Daerah

PPPK Akhirnya Bisa Jadi PNS Tanpa Ujian? Begini Rencana Terbaru dari DPR!
Gubernur Jambi Alharis

Advertorial

Gubernur Jambi Alharis Buka Festival Olahraga Tradisional

Kerinci

Ini Tuntutan Aksi Demo Mahasiswa STIA-NUSA

Daerah

Wako Ahmadi : Ajak Sosialisasikan ke Seluruh Penjuru Nusantara

Advertorial

Raih Opini WTP Ke-13 Berturut-turut, Gubernur Al Haris: Pemprov Jambi Komitmen Tata Keuangan Dengan Baik
Menkeu Purbaya

Daerah

Menteri keuangan Purbaya Siap “Hajar” Mafia Migas di Indonesia
update game terbaru

Daerah

Kode Redeem Game Aktif 28 Januari 2026: Blox Fruits, Free Fire, MLBB, HSR hingga Genshin Impact