Eksisjambi.com,Jambi – Dalam rangka menyambut helat budaya lima tahunan Kenduri Sko Depati IV Kumun Debai yang akan digelar pada Minggu, 6 Juli 2025, dukungan penuh datang dari perantauan. Himpunan Keluarga Kerinci asal Kumun Debai yang berdomisili di Jambi, yang tergabung dalam Sanggar Puti Kayangan Jambi-Kumun, menyatakan kesiapan mereka untuk ambil bagian secara langsung dalam perhelatan sakral tersebut.
Salah satu bentuk partisipasi yang akan ditampilkan adalah persembahan Tari Rangguk, sebuah seni tari tradisional khas masyarakat Kumun yang sarat nilai spiritual dan kultural. Tari ini akan dipentaskan oleh penari-penari dari perantau Kumun Debai yang berada di Jambi, sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur dan jalinan batin yang tak putus oleh jarak.
Dalam keterangannya, pembina sanggar, Ny. Agustimar, menegaskan komitmen pihaknya dalam melestarikan kesenian daerah, terutama di tengah kehidupan di perantauan.

“Walaupun kami berada jauh di tanah rantau, kami tetap konsisten menjaga dan melestarikan kesenian asli Kumun, khususnya Tari Rangguk. Ini adalah bagian dari jati diri kami sebagai orang Kumun,” ujar Ny. Agustimar.
Ia menambahkan bahwa Sanggar Puti Kayangan Jambi-Kumun telah aktif tampil di berbagai event kebudayaan, baik di dalam maupun luar daerah.
“Kami sudah sering tampil di berbagai kesempatan. Terakhir, pada bulan Desember 2024 lalu, kami membawakan Tari Rangguk di acara ‘Kanti Lamo’ yang digelar di Jakarta. Alhamdulillah, mendapat sambutan hangat. InsyaAllah, kami siap mempersembahkan yang terbaik di acara Kenduri Sko Depati IV nanti,” ungkapnya penuh semangat.
Kehadiran Sanggar Puti Kayangan dari Jambi ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai adat dan budaya Kumun Debai tetap hidup di hati para perantau. Mereka tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menjadi duta budaya yang mengangkat nama baik daerah asalnya ke kancah yang lebih luas.
Kenduri Sko Depati IV Kumun Debai sendiri merupakan ritual adat yang digelar setiap lima tahun sekali, sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur, penguatan tali silaturahmi, serta pemersatu antara anak jantan dan anak batino dalam lingkungan adat Depati IV.
Dukungan dari berbagai elemen, baik dari dalam negeri maupun luar daerah, menambah semarak dan kekhidmatan acara ini, menjadikannya bukan sekadar tradisi, melainkan juga cerminan kekuatan budaya yang menyatukan generasi lintas zaman. (Khairul)







