Home / Advertorial / Daerah / Internasional / Nasional / Nasional / News / Peristiwa / Sosbud

Selasa, 22 Juli 2025 - 09:29 WIB

Kerajaan Yang Hilang Dari Peta Sejarah

Eksisjambi.com,INDRAPURA – Kota Cahaya yang nyaris dilupakan, tapi sinarnya masih berpendar di hati anak negeri.

Di ujung selatan Ranah Minang, tempat ombak Samudra Hindia memukul karang dan angin asin membawa kisah-kisah lama, berdirilah sebuah kerajaan maritim yang nyaris hilang dari ingatan: Kerajaan Inderapura. Kini, ia hanya tersisa dalam tambo, petuah orang tua, dan jejak-jejak samar di Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Inderapura: Gerbang Cahaya Nusantara, Nama Inderapura sendiri berarti “Kota Cahaya”. Terletak strategis di pesisir Sumatera, dekat dengan perbatasan Bengkulu, Inderapura menjadi simpul penting dalam jalur perdagangan Nusantara. Rempah, emas, kapur barus, dan hasil bumi dari pedalaman Minangkabau dibawa menuju pelabuhan ini untuk kemudian berlayar ke negeri-negeri jauh: ke Arab, Gujarat, bahkan hingga Eropa.

Di sinilah budaya bertemu. Bahasa dagang bercampur dengan bahasa doa. Para saudagar dari berbagai bangsa menapakkan kaki, berdagang, berbaur, bahkan menikah dengan penduduk setempat. Maka lahirlah Inderapura sebagai kerajaan kecil, tapi berpengaruh. Ia bukan raksasa politik, tapi gerbang emas dalam sejarah maritim Minangkabau.

Ratu yang Memimpin dengan Hikmah, Satu hal yang membuat Inderapura berbeda: ia pernah dipimpin oleh seorang perempuan. Dalam sejarah Minangkabau yang matrilineal, ini bukan hal aneh. Namun di tengah dunia kerajaan yang didominasi laki-laki, keberadaan pemimpin wanita di Inderapura adalah simbol keberanian dan kearifan.

Baca Juga :  Burung Dipper, Satu-satunya Burung Pengicau yang Mampu Menyelam di Sungai Deras

Ratu ini – yang namanya kini mungkin tinggal desas-desus di lidah orang tua – dikenal memimpin dengan musyawarah. Tidak dengan pedang, tapi dengan akal. Tidak dengan penaklukan, tapi dengan adat dan syarak yang berjalan seiring.

Satu prinsip yang dipegang kuat: Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Prinsip ini menjadikan kerajaan ini bukan hanya berdaulat secara politik, tapi juga bermartabat secara spiritual.

Benteng Terakhir Pesisir Barat Minangkabau, Tatkala Portugis, Inggris, dan akhirnya Belanda mengincar pantai barat Sumatra, Inderapura tidak menyerah begitu saja. Meski kecil, kerajaan ini menjadi benteng terakhir Minangkabau di pesisir. Ia berdiri dengan dukungan adat dari Pagaruyung dan kekuatan lautnya sendiri.

Aliansi adat dan hubungan darah dengan pusat Minangkabau menjadikannya sulit ditaklukkan secara langsung. Kolonialisme datang dengan tipu daya, bukan perang terbuka. Sedikit demi sedikit, pengaruh kerajaan memudar, pelabuhan direbut, dan akhirnya Inderapura pun hilang dari peta.

Menghilang, Tapi Tak Pernah Mati, Berbeda dengan banyak kerajaan yang runtuh karena pertempuran, Inderapura lenyap secara perlahan, tergerus oleh gelombang kolonial dan modernitas. Namun nama itu – Inderapura – tak pernah benar-benar hilang.

Baca Juga :  Tangis Rasulullah SAW di Abwa, Rindu Sang Ibu Tercinta

Ia hidup dalam darah dan tutur urang awak di Pesisir Selatan. Dalam cerita-cerita yang disampaikan saat malam turun, dalam pantun, dalam nama kampung, bahkan mungkin dalam nama-nama keturunan yang masih tinggal di sana.

Inderapura adalah kerajaan yang tak dikenal buku sejarah sekolah, tapi dikenal oleh hati orang Minang.

Kini Saatnya Menghidupkan Lagi, Generasi muda mungkin tak pernah membaca tentang Inderapura. Tapi jika kamu pernah dengar cerita dari nenekmu, atau melihat jejaknya saat pulang kampung – itulah warisan yang tak ternilai.

Kisah ini bukan hanya tentang masa lalu. Ini tentang jati diri. Tentang keberanian, adat, dan kehormatan. Tentang sebuah kerajaan kecil yang menolak tunduk, dan memilih jalan sendiri.

Inderapura bukan sekadar kerajaan. Ia adalah cermin Minangkabau yang sejati, Kalau kamu pernah dengar nama ini dari mamak, datuk, atau guru lama… ceritakan di kolom komentar. Mari kita hidupkan kembali sejarah yang hampir tenggelam.

 “Sejarah bukan hanya tentang yang tertulis. Tapi tentang yang tetap hidup… dalam darah, dalam kata, dalam jiwa. (*)

 

Share :

Baca Juga

Satgas PKH

Daerah

Presiden Cabut Izin 28 Perusahaan dan Tertibkan 4,09 Juta Hektare Sawit

Bangko

Dandim 0420/Sarko Menjabat Dansub Satgas RSUD Rupit Dalam Rangka Kunker Presiden RI

Advertorial

Peduli Zakat, Gubernur Alharis Diundang Presiden Ke Istana

Advertorial

Pedagang Lokal di Pasar Beduk Kecamatan Geragai Ketibang Rezeki,Bupati Tanjab Timur Dillah Borong Takjil
Kopi rakyat LBH Padang

Daerah

Kopi Rakyat LBH Padang, Usaha Sosial Dukung Pembiayaan Bantuan Hukum

Daerah

Pokdarkamtibmas Sektor Rimbo Ilir Himbau Dan Ajak Masyarakat Jaga Kamtibmas Di Malam Takbir

Advertorial

DPRD Tanjab Barat Gelar Rapat Paripurna Namun Wabup Tidak Hadir
Rawa Bento

Daerah

Rawa Bento, Surga Tersembunyi di Kaki Gunung Kerinci