Payakumbuh,eksisjambi.com – Kebakaran besar melanda pusat pertokoan Pasar Payakumbuh, tepatnya di Blok B, pada Selasa (26/8) dini hari.
Api yang membesar dengan cepat membuat armada pemadam kebakaran Kota Payakumbuh kewalahan, sehingga bantuan dari berbagai daerah sekitar pun dikerahkan.
Tak kurang dari sembilan daerah tetangga mengirimkan armada damkar untuk membantu menjinakkan si jago merah. Daerah tersebut antara lain Kota Bukittinggi, Kota Padang, Kota Pariaman, Kota Padang Panjang, Kabupaten Limapuluh Kota, Kabupaten Agam, Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Padang Pariaman, serta Kabupaten Sijunjung.
Puluhan mobil pemadam tampak berjibaku sejak subuh hingga pagi hari untuk mencegah api merembet ke blok pertokoan lainnya. Kepulan asap hitam pekat membumbung tinggi dan terlihat dari radius beberapa kilometer.
“Api cukup sulit dikendalikan karena bangunan sebagian besar terbuat dari bahan mudah terbakar. Kami terus berupaya memadamkan bersama tim dari berbagai daerah,” kata Tim damkar.
Selain kerugian material yang besar, sejumlah petugas dan relawan mengalami luka saat berusaha membantu pedagang menyelamatkan barang dagangan mereka. Berdasarkan data sementara, terdapat beberapa korban luka ringan, yaitu:
1 anggota TNI mengalami luka di kening dan hidung akibat tertimpa kayu jatuh, 1 anggota PMI mengalami luka robek di tangan akibat terkena pecahan kaca dan 1 petugas BPBD mengalami luka ringan di jari karena terkena kaca serta 3 orang relawan mengalami luka robek akibat terkena pecahan kaca.
Seluruh korban saat ini sudah mendapatkan penanganan medis darurat oleh tim kesehatan di posko yang didirikan di depan salah satu toko dekat lokasi kebakaran.
Hingga berita ini diturunkan, petugas damkar bersama relawan masih berupaya melakukan pendinginan di area kebakaran. Aparat kepolisian dan pemerintah daerah juga telah menutup sementara akses ke kawasan pasar untuk mencegah masyarakat masuk ke area berbahaya.
Jumlah kerugian serta penyebab pasti kebakaran masih dalam proses penyelidikan. Namun, kebakaran ini dipastikan menjadi salah satu musibah terbesar yang menimpa pusat perdagangan di Kota Payakumbuh dalam beberapa tahun terakhir.







