Jakarta,Ekaisjambi.com – Pertanyaan besar mengenai asal-usul alam semesta kembali mencuat setelah sejumlah temuan baru dari James Webb Space Telescope (JWST) .
membuka ruang bagi teori yang terdengar seperti fiksi ilmiah: kemungkinan bahwa alam semesta kita berada di dalam lubang hitam raksasa.
Gagasan ini bukan hal baru di kalangan kosmolog dengan sebutan Kosmologi Lubang Hitam atau Schwarzschild Cosmology.
Dan teori tersebut menyatakan bahwa apa yang kita sebut alam semesta hanyalah bagian dalam dari sebuah lubang hitam yang berada di alam semesta induk yang lebih besar.
Pengamatan terbaru JWST menunjukkan fenomena mengejutkan: sekitar dua pertiga galaksi yang di amati tampak berputar ke arah searah jarum jam.
Hasil ini bertentangan dengan prediksi sebelumnya bahwa rotasi galaksi seharusnya acak dan merata ke segala arah.
Asimetri rotasi ini memicu spekulasi bahwa alam semesta mungkin mewarisi “arah putar” dari lubang hitam induk tempat ia terbentuk.
Jika benar, temuan ini bisa menjadi salah satu petunjuk penting yang mendukung gagasan bahwa lubang hitam tidak hanya menjadi pemusnah materi, tetapi juga pintu lahirnya alam semesta baru.
Fisikawan asal Polandia, Nikodem Poplawski, sudah lama mengajukan hipotesis bahwa lubang hitam dapat bertindak sebagai “jembatan kosmik”.
Dalam pandangannya, materi yang tersedot ke dalam lubang hitam tidak lenyap begitu saja, melainkan “dilahirkan kembali”.
dalam bentuk alam semesta baru di sisi lain. Dengan demikian, setiap lubang hitam berpotensi menjadi cikal bakal kosmos.
Meski terdengar memikat, para ilmuwan menegaskan bahwa teori ini masih jauh dari pembuktian.
Bukti-bukti observasi yang ditawarkan JWST memang memberikan anomali menarik, namun belum cukup untuk di jadikan dasar kesimpulan.
Sebagian besar komunitas astrofisika masih berpegang pada model kosmologi standar, yakni Teori Big Bang, sebagai penjelasan utama lahirnya alam semesta.
Namun demikian, perdebatan ini menyoroti betapa masih banyak misteri yang belum terungkap. Apakah kita hidup di dalam sebuah lubang hitam? Ataukah fenomena yang di amati hanyalah kebetulan kosmik?
Jawabannya mungkin membutuhkan waktu puluhan tahun penelitian lebih lanjut, tetapi satu hal jelas: semakin dalam manusia menatap bintang-bintang, semakin banyak pula rahasia semesta yang menantang untuk dijawab.(*)







