Eksisjambi.com – Selama lebih dari empat tahun pandemi, jutaan orang di berbagai belahan dunia masih bergulat dengan dampak jangka panjang COVID-19, Gejala seperti kelelahan ekstrem, kabut otak, hingga nyeri otot terus membayangi kehidupan sehari-hari sebagian pasien, meski infeksi awal sudah lama berlalu, Namun kini, sebuah terobosan ilmiah memberi secercah harapan.
Tim peneliti dari Translational Genomics Research Institute (TGen) di Amerika Serikat dan Lundquist Institute berhasil mengidentifikasi fragmen protein virus SARS-CoV-2 yang tersisa dalam darah pasien penderita COVID panjang. Fragmen tersebut di temukan di dalam vesikel ekstraselular (EVs), yakni paket mikroskopis yang berfungsi membawa molekul antar sel.
Penemuan ini dianggap penting karena untuk pertama kalinya para ilmuwan menemukan biomarker terukur yang dapat menjadi dasar diagnosis COVID panjang, Selama ini, identifikasi kondisi tersebut lebih banyak bergantung pada keluhan pasien yang kerap berbeda-beda dan sulit di petakan.
“Kehadiran fragmen virus dalam EVs menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 dapat bertahan di tubuh jauh setelah fase infeksi akut berakhir,” ungkap tim peneliti dalam laporan awalnya.
Fakta ini sekaligus memberi penjelasan ilmiah mengapa sebagian orang mengalami gejala kronis berkepanjangan, Dampaknya cukup luas, Dengan adanya biomarker ini, dokter dapat mendeteksi COVID panjang secara lebih akurat, sekaligus membuka peluang pengembangan terapi yang lebih terarah untuk meredakan gejala pasien.
Penelitian ini juga memberi pijakan baru bagi komunitas medis untuk memahami mekanisme di balik sindrom yang selama ini membingungkan banyak pihak, Meski riset masih berlanjut, temuan tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan memahami COVID panjang.
Harapannya, langkah ini akan mengantarkan pada perawatan yang lebih efektif dan memberi kelegaan bagi jutaan orang, Yang hingga kini masih berjuang dalam “pertempuran sunyi” melawan sisa jejak virus di tubuh mereka.)*)







