BEIJING,Eksisjambi.com – China kembali menarik perhatian dunia setelah memamerkan generasi terbaru kapal perang permukaan nirawak (Unmanned Surface Vessel/USV) dalam parade militer Hari Kemenangan 2025, (3/9/2025).
Kehadiran kapal tanpa awak ini menandai langkah maju Beijing dalam mengembangkan sistem tempur maritim otonom dan menjadi sinyal kuat terkait strategi masa depan di kawasan perairan yang di sengketakan.
Menurut keterangan resmi yang ditampilkan pada acara tersebut, USV terbaru itu di rancang untuk berbagai misi mulai dari pengerahan rahasia, blokade laut, deteksi target, identifikasi otonom, hingga serangan gerombolan yang saling terhubung dalam jaringan tempur.
Kemampuan ini di yakini akan memberikan keunggulan signifikan bagi Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLAN) dalam menghadapi tantangan peperangan modern.
Media pemerintah China menyebutkan bahwa sistem tersebut telah menjalani uji coba laut dengan hasil yang sukses.
Saat ini, kapal-kapal nirawak itu sedang di persiapkan untuk di tempatkan di apa yang disebut sebagai “zona kepentingan China”, istilah yang di pahami luas sebagai wilayah maritim yang masih diperebutkan, terutama di Laut China Selatan dan sekitarnya.
USV ini di perkenalkan sebagai platform multi-peran. Selain menjalankan misi pengintaian dan pengawasan, kapal nirawak tersebut juga mampu melaksanakan serangan presisi. Lebih jauh lagi, teknologi kecerdasan buatan memungkinkan USV beroperasi dalam formasi kelompok terkoordinasi.
Hal ini membuka peluang bagi mereka untuk berbagi data penargetan secara real-time serta menekan pertahanan musuh melalui serangan berlapis.
Para analis pertahanan menilai, keberadaan USV memberi keuntungan besar bagi China.
Dengan sifatnya yang dapat beroperasi lama di laut tanpa awak, kapal ini mampu memberikan pemantauan berkelanjutan tanpa menanggung risiko korban personel. Dalam skenario konflik, USV bahkan bisa di gunakan sebagai “garda terdepan” untuk menembus blokade atau memancing pertahanan lawan, sementara kapal berawak tetap berada pada jarak aman.
Langkah Beijing memperkenalkan kapal nirawak dalam parade nasional tidak hanya di maksudkan untuk unjuk kekuatan teknologi, tetapi juga sebagai pesan strategis.
Integrasi armada nirawak dengan kapal perang tradisional menunjukkan bahwa China tengah mempersiapkan model operasi gabungan berawak dan nirawak di masa depan.
Hingga kini, belum ada informasi resmi mengenai jumlah unit yang di produksi maupun jadwal penempatan penuh USV tersebut.
Namun, fakta bahwa kapal ini di pamerkan di hadapan publik menunjukkan bahwa proyek ini sudah melampaui tahap eksperimental dan memasuki fase awal integrasi operasional.
Debut kapal nirawak ini sekaligus mempertegas ambisi China untuk memperkuat kehadiran militernya di kawasan strategis, serta menegaskan pesan bahwa pengawasan maritim 24 jam sehari di wilayah yang di sengketakan kini menjadi prioritas utama Beijing.(“)







