Autopolis, Jepang – Ajang balap Super GT Jepang akhir pekan ini kembali di gelar di Sirkuit Autopolis, Prefektur Ōita, namun atmosfer pra-balapan kali ini terasa berbeda.
Banyak penggemar dan pengamat motorsport menyebut pertarungan musim ini sebagai “least entertaining battle” alias salah satu seri paling minim aksi menarik dalam beberapa tahun terakhir.
Meski Super GT di kenal sebagai salah satu kejuaraan balap paling kompetitif di Asia, beberapa putaran terakhir di anggap kehilangan intensitas duel antar pembalap papan atas.
Minimnya overtaking dan strategi pit stop yang monoton membuat sebagian fans kecewa dan berharap seri Autopolis bisa kembali memanaskan persaingan.
Kelas GT500 masih di pimpin oleh tim-tim besar seperti Toyota Team TOM’S, Honda ARTA, dan Nissan NISMO, namun dominasi strategi dan efisiensi bahan bakar membuat balapan lebih banyak di tentukan oleh taktik, bukan aksi wheel-to-wheel seperti musim-musim sebelumnya.
“Mobil-mobil sangat cepat dan seimbang, tapi kami kehilangan drama di lintasan,” ujar salah satu pengamat motorsport Jepang kepada media lokal.
Sirkuit Autopolis di kenal dengan karakteristik teknisnya berbukit, penuh tikungan cepat, dan menantang konsistensi pembalap.
Kondisi cuaca di akhir pekan juga bisa menjadi faktor kejutan. Jika hujan turun, pertarungan bisa berubah total, memberi peluang bagi tim underdog untuk mencuri podium.
Meski kritik datang dari berbagai pihak, animo penonton tetap tinggi. Tiket nonton langsung di Autopolis hampir habis terjual, sementara siaran langsung Super GT Live juga siap di siarkan secara global untuk para penggemar yang tak bisa hadir di sirkuit.
“Apapun hasilnya, kami ingin melihat pertarungan sejati bukan parade mobil,” tulis salah satu komentar di forum penggemar Super GT di Jepang.
Dengan dua seri tersisa, balapan di Autopolis bisa menjadi titik balik dalam perebutan gelar juara.
Semua mata kini tertuju pada tim-tim besar apakah mereka akan tampil lebih agresif, atau kembali bermain aman dengan strategi konservatif? (*)







