Home / Daerah / Internasional / Nasional / News / Religi

Kamis, 15 Januari 2026 - 21:04 WIB

Makna Filosofis Isra dan Mi’raj: Perjalanan Spiritual Menuju Kesempurnaan Hidup

Makna Filosofis Isra Mi’raj

Makna Filosofis Isra Mi’raj

http://Eksisjambi.com– Isra dan Mi’raj merupakan salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah Islam. Isra adalah perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem, Palestina.

Sementara Mi’raj adalah kenaikan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Aqsa menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha, untuk menerima perintah salat lima waktu secara langsung dari Allah SWT.

Lebih dari sekadar peristiwa historis dan mukjizat kenabian, Isra dan Mi’raj mengandung pesan filosofis yang sangat dalam. Peristiwa ini menjadi simbol perjalanan eksistensial manusia menuju kesempurnaan hidup, baik secara spiritual, moral, maupun kesadaran batin.

Lalu, apa makna filosofi Isra dan Mi’raj bagi kehidupan manusia?

1. Perjalanan dari Materi Menuju Makna

Isra yang berlangsung di bumi, lalu berlanjut dengan Mi’raj ke langit, melambangkan peralihan dari kehidupan yang bersifat material menuju kesadaran spiritual. Secara filosofis, hal ini menggambarkan bahwa manusia tidak di ciptakan hanya untuk mengejar aspek duniawi semata, tetapi juga untuk menemukan makna hidup yang lebih tinggi.

Isra–Mi’raj mengajarkan bahwa keseimbangan hidup hanya dapat di capai ketika manusia mampu melampaui keterikatan materi dan mulai mengarahkan jiwanya pada nilai-nilai ilahiah.

2. Kesatuan Akal, Hati, dan Iman

Baca Juga :  Keutamaan Shalat di Tiga Masjid Suci: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Al Aqsa

Akal manusia memiliki batas dalam memahami realitas, sementara iman melampaui keterbatasan akal. Di antara keduanya, hati berperan sebagai jembatan yang menyatukan logika dan keyakinan.

Secara filosofis, Isra dan Mi’raj mengajarkan bahwa kebenaran tertinggi tidak selalu dapat di jelaskan secara rasional, tetapi bisa di hayati dan di rasakan melalui iman yang hidup. Peristiwa ini menegaskan bahwa di mensi spiritual manusia tidak dapat di pisahkan dari peran akal dan hati yang selaras.

3. Salat sebagai Titik Temu Manusia dan Tuhan

Dalam peristiwa Mi’raj, perintah salat di sampaikan langsung oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW tanpa perantara Malaikat Jibril. Hal ini menegaskan kedudukan salat sebagai ibadah paling fundamental dalam Islam.

Secara filosofis, salat adalah “mi’rajnya orang beriman”. Setiap salat merupakan upaya manusia untuk naik secara spiritual, meskipun tubuhnya tetap berpijak di bumi. Pesan yang terkandung di dalamnya adalah bahwa kedekatan dengan Tuhan tidak di tentukan oleh tempat yang tinggi, melainkan oleh kesadaran jiwa yang tinggi.

4. Manusia sebagai Makhluk yang Dapat ‘Naik’ Derajatnya

Isra dan Mi’raj mengajarkan bahwa manusia bukan makhluk yang statis. Ia memiliki potensi untuk naik atau jatuh derajatnya. Kenaikan sejati bukanlah kenaikan fisik atau sosial, melainkan peningkatan akhlak, kesadaran moral, dan kualitas batin.

Baca Juga :  Potensi Emas 2.500 Ton Ditemukan di Kalumpang, Mamuju

Filosofi ini menegaskan bahwa kemuliaan manusia di hadapan Tuhan tidak di ukur dari status, kekayaan, atau kekuasaan, tetapi dari kebersihan hati dan ketakwaannya.

5. Penderitaan sebagai Gerbang Pencerahan

Peristiwa Isra dan Mi’raj terjadi setelah Nabi Muhammad SAW melewati ‘Amul Huzn atau tahun kesedihan, yakni masa penuh ujian setelah wafatnya Khadijah RA dan Abu Thalib.

Secara filosofis, hal ini mengajarkan bahwa krisis dan penderitaan sering kali menjadi titik balik menuju kesadaran yang lebih tinggi. Luka, ujian, dan kesedihan bukan akhir dari perjalanan, melainkan gerbang menuju pencerahan dan kekuatan baru. Jalan menuju puncak kemuliaan sering kali di awali dengan kesabaran dalam menghadapi cobaan.

Isra dan Mi’raj bukan hanya kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW, tetapi cermin perjalanan batin manusia. Ia mengajarkan bahwa hidup sejatinya adalah proses naik dari materi menuju makna, dari ego menuju kesadaran, dan dari keterbatasan menuju kedekatan dengan Sang Pencipta.

Melalui peristiwa ini, umat Islam di ajak untuk terus melakukan “mi’raj spiritual” dalam kehidupan sehari-hari, dengan memperbaiki akhlak, memperdalam iman, dan menjadikan salat sebagai pusat kesadaran hidup.**

Share :

Baca Juga

Daerah

Mengenal Lebih Dekat Rumah Kebangsaan Siginjai Provinsi Jambi Ruang Diskusi Publik Bagi Semua Elemen
Wakil Bupati Kerinci H. Murison

Advertorial

Wabup  H. Murison Pimpin Upacara dan Sampaikan Apresiasi untuk PPPK Baru

Advertorial

Ketua DPRD Prov. Jambi Dorong Pemerintah Konsepkan Solusi Jangka Panjang

Nasional

Presiden Prabowo Akan Pangkas Jumlah Komisaris di Bank BUMN
Letnan Komarudin

Artikel

Kisah Letnan Komarudin Prajurit Kebal Peluru 

Advertorial

Ketua DPRD Lendra Wijaya Ikuti Anjangsana di Panti Asuhan Putra
Max Dowman mencetak sejarah sebagai pencetak gol termuda dalam sejarah Premier League

Daerah

Max Dowman Pecahkan Rekor Pencetak Gol Termuda Liga Inggris

Advertorial

Wako Alfin Usulkan BBI dan Optimalisasi Lahan RKE