Home / Daerah / Internasional / Nasional / News

Selasa, 31 Maret 2026 - 13:20 WIB

Ancaman El Nino 2026, BRIN Imbau Antisipasi Dini Meski Risiko Ekstrem Masih Rendah

Kemarau Panjang 2026

Kemarau Panjang 2026

JAKARTA,  http://Eksisjambi.com– Potensi kemarau panjang pada 2026 mulai menjadi perhatian para peneliti iklim. Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, mengungkapkan bahwa fenomena El Nino yang beriringan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif berpotensi memicu musim kemarau lebih panjang dari biasanya.

Menurutnya, kondisi tersebut diperkirakan berlangsung mulai April hingga Oktober 2026. Wilayah Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur (NTT) disebut sebagai daerah yang paling awal merasakan dampak kekeringan, terutama pada sektor pertanian yang sangat bergantung pada ketersediaan air.

“Jika El Nino terjadi bersamaan dengan IOD positif, maka risiko kekeringan akan meningkat dan berpotensi mengganggu produksi pertanian di sejumlah wilayah,” ujarnya.

Namun demikian, Pengamat Pertanian Khudori mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan kondisi terburuk. Ia menilai istilah “El Nino Godzilla” yang sempat beredar masih bersifat spekulatif dan belum didukung data kuat.

Baca Juga :  BMKG :  Gempa M 7,7 di Laut Filipina, Sejumlah Wilayah Indonesia Berpotensi Terdampak

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), peluang terjadinya El Nino ekstrem saat ini diperkirakan hanya berada pada kisaran 15 hingga 20 persen. Sementara itu, probabilitas terbesar menunjukkan fenomena El Nino kemungkinan hanya berada pada level moderat.

Khudori juga menekankan bahwa tingkat akurasi prediksi El Nino–Southern Oscillation (ENSO) umumnya hanya dapat diandalkan hingga tiga bulan ke depan. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap waspada tanpa perlu panik berlebihan.

“Perlu kehati-hatian dalam menyikapi prediksi jangka panjang. Kesiapsiagaan penting, tapi jangan sampai memicu kepanikan,” katanya.

Sebagai langkah mitigasi, BRIN merekomendasikan sejumlah upaya antisipatif. Di antaranya adalah pemantauan kebutuhan air untuk pertanian, optimalisasi sistem irigasi, penguatan cadangan pangan, serta diversifikasi jenis tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering. Selain itu, penyesuaian jadwal tanam juga dinilai penting untuk meminimalkan risiko gagal panen.

Baca Juga :  Asia Tenggara Dilanda Banjir Luas Akibat Serangan Monsun & Siklon Tropis

Menariknya, dampak El Nino diperkirakan tidak akan merata di seluruh wilayah Indonesia. Sejumlah daerah di kawasan timur seperti Sulawesi, Maluku, dan Halmahera justru diprediksi masih akan mengalami curah hujan relatif tinggi.

Hal ini menunjukkan bahwa karakteristik iklim Indonesia yang kompleks membuat dampak fenomena global seperti El Nino tidak bersifat homogen.

Masyarakat dan pelaku sektor pertanian diimbau untuk terus memantau perkembangan informasi resmi dari BRIN dan BMKG. Selain itu, koordinasi dengan Kementerian Pertanian serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga dinilai penting dalam menghadapi potensi kekeringan ekstrem tahun ini.**

Share :

Baca Juga

Bangko

Kapolres AKBP Kiki Bersama Bhayangkari Merangin Beri Bantuan Sembako dan Seperangkat Alat Sholat Kepada Lansia di Panti Jompo
Presiden Prabowo Subianto

Internasional

Presiden Prabowo Lantik Kepala dan Wakil Kepala BRIN

Advertorial

DPRD Provinsi Jambi Desak OJK dan Polda Bertindak Cepat Berantas Pinjol Ilegal

Bangko

Pembukaan MTQ ke-51 Merangin Berlangsung Spektakuler

Daerah

Walikota Ahmadi Berhasil Sulap Alun-alun Jadi Objek Wisata Andalan

Advertorial

Pemkab Merangin Jalin Kerjasama Perbendaharaan Prov.Jambi

Advertorial

Ketua dan Anggota DPRD Kota Sungai Penuh menerima Kunjungan dari Ketua DPRD Kota Solok beserta rombongan

Daerah

Ketua dan Anggota DPRD Terima Pedagang MKS ( Makan Kawo Square)