Jakarta, http://Eksisjambi.com – Perusahaan otomotif Jepang, Honda, untuk pertama kalinya mencatat kerugian tahunan sejak berdiri pada 1955. Dalam laporan tahun fiskal yang berakhir Maret 2026, Honda membukukan rugi bersih sebesar 423,9 miliar yen atau sekitar US$2,6 miliar.
Kerugian tersebut terutama dipicu oleh besarnya biaya restrukturisasi bisnis kendaraan listrik atau electric vehicle (EV). Honda menggelontorkan biaya hingga 1,57 triliun yen atau setara sekitar US$10 miliar untuk menata ulang strategi elektrifikasi perusahaan.
Beban itu mencakup penurunan nilai aset, penghentian sejumlah model kendaraan listrik, hingga penyesuaian investasi di sektor EV. Akibatnya, laba operasional Honda berubah menjadi rugi sebesar 414,3 miliar yen.
Margin operasional perusahaan juga ikut tertekan hingga berada di level minus 1,9 persen. Kondisi ini menjadi salah satu tantangan terbesar Honda dalam menghadapi transisi industri otomotif global menuju kendaraan ramah lingkungan.
Segmen otomotif menjadi penyumbang utama pelemahan kinerja perusahaan. Selain biaya restrukturisasi EV, Honda juga terdampak tarif perdagangan senilai 346,9 miliar yen.
Penjualan mobil Honda secara global turut mengalami penurunan. Sepanjang tahun fiskal 2025/2026, penjualan kendaraan roda empat tercatat sebanyak 3,38 juta unit.
Di tengah tekanan bisnis mobil, divisi sepeda motor justru menjadi penopang utama kinerja perusahaan. Honda mencatat laba operasional dari bisnis motor mencapai 731,9 miliar yen.
Penjualan sepeda motor Honda di pasar global juga mengalami peningkatan menjadi 22,1 juta unit. Permintaan yang kuat di negara berkembang disebut menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan tersebut.
Untuk tahun fiskal berikutnya, Honda memproyeksikan laba operasional sekitar 500 miliar yen. Namun, perusahaan masih memperkirakan tambahan beban terkait restrukturisasi bisnis EV sebesar kurang lebih 500 miliar yen.
Honda kini menghadapi tantangan besar untuk menjaga profitabilitas di tengah persaingan kendaraan listrik yang semakin ketat serta tingginya biaya transformasi industri otomotif global.**







