Home / Daerah / Internasional / Kota Sungai Penuh / News / Sosbud

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 11:10 WIB

Misteri Eleumee Keubay, Ilmu Kebal Pejuang Aceh

ilmu kebal Aceh berdasarkan catatan Snouck Hurgronje

ilmu kebal Aceh berdasarkan catatan Snouck Hurgronje

Aceh, Eksisjambi.com –  Dalam catatan sejarah Aceh, terdapat berbagai tradisi keilmuan yang berkembang di tengah masyarakat, salah satunya adalah eleumee keubay atau ilmu kebal. Tradisi ini menjadi bagian dari kepercayaan dan praktik spiritual yang pernah memiliki kedudukan penting, terutama di kalangan penguasa, panglima perang, serta prajurit Aceh pada masa lalu.

Hal tersebut dicatat oleh orientalis Belanda Cristiaan Snouck Hurgronje dalam karyanya Aceh di Mata Kolonialis jilid II. Dalam kajiannya, Snouck menggambarkan bahwa eleumee keubay bukan sekadar ilmu bela diri, melainkan berkaitan erat dengan pandangan filsafat, kosmologi, dan pemahaman spiritual masyarakat Aceh pada masa itu.

Menurut Snouck, dasar pemikiran ilmu kebal Aceh bertumpu pada sebuah kerangka filsafat yang disebut pantheisis. Pandangan ini meyakini adanya hubungan erat antara Tuhan dan seluruh ciptaan-Nya, di mana alam semesta dipandang sebagai bagian dari manifestasi keberadaan Tuhan.

Selain itu, terdapat pula keyakinan bahwa pengetahuan tentang esensi, sifat, atribut, dan nama suatu zat atau benda dapat memberikan penguasaan terhadap benda tersebut. Dengan memahami hakikat suatu benda, manusia dianggap mampu memperoleh kemampuan tertentu terhadap benda itu.

Ma’rifat Beusoe: Memahami Hakikat Besi

Baca Juga :  TAMBO Bukan Sejarah, Melainkan Bahan Dasar Penyusunan Sejarah, Ini Penjelasannya

Salah satu bagian penting dari eleumee keubay adalah konsep ma’rifat beusoe atau pengetahuan tentang hakikat besi.

Dalam kepercayaan tersebut, pemahaman mendalam terhadap sifat dasar besi diyakini dapat memberikan kemampuan untuk menghadapi serangan senjata yang terbuat dari logam. Seseorang yang menguasai ilmu ini dipercaya mampu membuat tubuhnya memiliki daya tahan terhadap senjata tajam maupun peluru.

Pemikiran tersebut didasarkan pada pandangan bahwa manusia merupakan ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Karena manusia dianggap sebagai pengejawantahan paling lengkap dari seluruh unsur alam, maka unsur-unsur yang ada di dunia, termasuk besi, juga diyakini memiliki keterkaitan dengan manusia.

Konsep Meureutabat Tujoh dalam Pandangan Spiritual Aceh

Snouck Hurgronje juga mengaitkan pemahaman tersebut dengan konsep meureutabat tujoh atau tujuh tingkatan martabat dalam pemikiran spiritual.

Dalam konsep ini, seluruh ciptaan dianggap berasal dari Yang Maha Esa dan melalui berbagai tingkatan keberadaan sebelum akhirnya kembali kepada sumbernya. Dengan demikian, semua unsur dalam alam semesta diyakini memiliki hubungan dan dapat saling memengaruhi.

Dari pandangan tersebut lahirlah keyakinan bahwa manusia dapat memahami dan menyelaraskan dirinya dengan unsur-unsur alam, termasuk unsur besi.

Baca Juga :  Keris Sunda dan Banten, Warisan Klasik yang Hampir Terlupakan 

Eleumee Beusoe dan Kepercayaan Kekebalan

Dalam praktiknya, eleumee beusoe dipercaya memiliki kemampuan memberikan perlindungan terhadap tubuh. Bagian tubuh yang terkena serangan besi atau timah diyakini telah memiliki “formulasi” atau kekuatan yang sebanding bahkan lebih kuat dari unsur tersebut, sehingga seseorang menjadi keubay atau kebal.

Bagi masyarakat Aceh masa lalu, terutama para pejuang yang menghadapi peperangan, ilmu seperti ini memiliki nilai psikologis dan spiritual yang besar. Kepercayaan terhadap eleumee keubay dapat meningkatkan keberanian, keyakinan diri, serta semangat menghadapi musuh.

Warisan Sejarah dan Budaya Aceh

Kajian Snouck Hurgronje terhadap eleumee keubay menjadi salah satu catatan penting dalam memahami bagaimana masyarakat Aceh menggabungkan unsur agama, filsafat, dan tradisi lokal dalam kehidupan mereka.

Meskipun ilmu kebal lebih banyak dipahami sebagai bagian dari kepercayaan dan budaya masa lalu, keberadaannya menunjukkan bagaimana masyarakat Aceh membangun sistem keyakinan yang kompleks dalam menghadapi tantangan zaman, termasuk masa peperangan melawan kolonial.

Eleumee keubay akhirnya menjadi bagian dari sejarah intelektual dan budaya Aceh, yang menggambarkan perpaduan antara spiritualitas, filsafat alam, serta semangat perjuangan masyarakat Aceh.*

Share :

Baca Juga

Daerah

Resmi Meluncur, New Honda Vario Evo 160

Advertorial

Pimpin Upacara HUT Ke-33, Bupati Adirozal Apresiasi Kinerja Perumda Tirta Sakti

Internasional

Tradisi Unik Sambut  Bulan Suci Ramadhan di Kota Sungai Penuh Provinsi Jambi

Advertorial

Progres Pembangunan PLTA Kerinci Merangin Hydro Capai 67 Persen
Rantai Babi, jimat tradisional yang dipercaya memiliki kekuatan magis

Daerah

Rantai Babi: Antara Mitos Kekebalan dan Nilai Sejarah yang Diburu Kolektor

Daerah

Polda Jambi Resmi Buka IOF X Bhayangkara 2026
Veda Pratama

Daerah

Crash Highside Veda Pratama: Antara Performa Maksimal dan Risiko Balap

Bangko

Bupati M. Syukur Bahas DBH dan DAU Saat Kunjungi Dirjen Bina Kauda