Eksisjambi.com — Bangko — Kemeriahan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 di Kecamatan Tabir Ulu, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi, ternyata disisipi catatan yang kurang menyenangkan. Suasana perayaan yang seharusnya penuh kebahagiaan justru diwarnai kondisi jalan yang berlubang serta debu yang beterbangan di sepanjang rute kegiatan.
Pada Sabtu, 15 Agustus 2026, Camat Tabir Ulu Aprizal menetapkan hari tersebut sebagai hari pertama rangkaian perayaan HUT RI ke-81 di wilayah yang dipimpinnya. Kegiatan dibuka dengan pelaksanaan pawai gerak jalan yang diikuti oleh seluruh satuan pendidikan yang ada di Kecamatan Tabir Ulu, mulai dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (TK/PAUD), Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, hingga Sekolah Menengah Atas.
Kegiatan yang menjadi agenda tahunan ini disambut antusiasme tinggi oleh pihak sekolah maupun masyarakat. Berbagai sekolah mengirimkan para peserta didiknya untuk turut berbaris dalam pawai tersebut, sehingga sepanjang jalan terlihat pemandangan indah berupa barisan peserta yang bergerak dengan penuh semangat.
Namun, di balik semangat yang terpancar dari para peserta yang melangkah tegap dan berbaris kompak, muncul hal yang kurang menguntungkan. Setiap langkah yang diayunkan justru mengangkat debu-debu halus yang melayang-layang di udara. Debu itu beterbangan cukup tebal hingga menghalangi pandangan, bahkan dikhawatirkan dapat terhirup dan mengganggu saluran pernapasan para peserta maupun warga yang menyaksikan acara.
Kondisi ini terasa sangat ironis. Di pusat ibu kota kecamatan, tepatnya di lokasi perayaan momen kemerdekaan bangsa, para peserta pawai—sebagian besar adalah anak-anak—harus melewati jalan yang kondisinya masih sangat memprihatinkan, seolah belum tersentuh pembangunan yang layak.
Rute yang dilalui peserta pawai membentang dari persimpangan dekat TK Desa Muara Jernih hingga titik finis di halaman depan Kantor Kecamatan Tabir Ulu. Sepanjang jalur tersebut, permukaan jalan banyak yang berlubang dan belum dipadatkan atau dilapisi dengan baik, sehingga mudah berdebu saat dilewati. Kenyataan ini tentu menyayat hati siapa pun yang melihatnya, terutama para orang tua yang mengantar dan menyaksikan anak-anak mereka berpartisipasi.
Seperti yang diungkapkan salah satu orang tua peserta di tengah keramaian acara, perasaannya terbagi antara rasa bangga dan cemas. “Di samping rasa bangga melihat anak-anak kami ikut berpartisipasi dalam pawai ini, terselip juga rasa khawatir yang mendalam karena mereka harus berjalan melewati jalan yang berdebu begini,” ucap ibu tersebut dengan nada cemas.
*Bas R*







