Alasan Muhammadiyah Menggunakan Metode Hisab dalam Penentuan Awal Bulan Hijriah
JAKARTA, – Penentuan awal bulan Hijriah, khususnya 1 Ramadan, 1 Syawal, dan 10 Zulhijah, selalu menjadi perhatian umat Islam di Indonesia. Muhammadiyah secara konsisten menggunakan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal dalam menetapkan awal bulan kamariah.
Pilihan ini di dasarkan pada pertimbangan teologis, ilmiah, dan praktis, serta visi besar mewujudkan kalender Islam global yang unifikatif.
Metode hisab di nilai mampu memberikan kepastian waktu ibadah jauh hari sebelumnya, sekaligus menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
1. Kepastian dan Kemudahan (Aspek Praktis)
Salah satu alasan utama penggunaan hisab adalah memberikan kepastian tanggal ibadah penting seperti Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha sejak jauh hari.
Dengan kepastian tersebut, masyarakat dapat:
- Merencanakan libur dan perjalanan mudik,
- Mengatur jadwal pendidikan dan pekerjaan,
- Menyusun agenda sosial dan keagamaan secara lebih tertib.
Muhammadiyah menilai prinsip ini sejalan dengan ajaran Islam yang menghendaki kemudahan dan tidak memberatkan umat.
2. Dasar Teologis: Al-Qur’an dan Hadis
Secara teologis, Muhammadiyah merujuk pada sejumlah ayat Al-Qur’an yang memberi isyarat tentang pentingnya perhitungan astronomis, seperti:
- QS. Ar-Rahman ayat 5: “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.”
- QS. Yunus ayat 5: Penegasan bahwa peredaran bulan menjadi dasar perhitungan waktu.
Muhammadiyah memahami hadis tentang rukyat (melihat hilal) sebagai perintah yang memiliki illat (alasan hukum), yakni kondisi umat pada masa Nabi yang belum menguasai baca-tulis dan ilmu astronomi. Karena itu, metode rukyat tidak dipandang sebagai satu-satunya cara permanen, melainkan sarana yang relevan pada zamannya.
3. Konsep Hisab Hakiki Wujudul Hilal
Dalam metode Wujudul Hilal, awal bulan kamariah di tetapkan apabila memenuhi dua syarat:
Telah terjadi ijtima’ (konjungsi) sebelum matahari terbenam. Pada saat matahari terbenam, posisi bulan berada di atas ufuk (bernilai positif), meskipun tidak harus terlihat secara kasat mata.
Artinya, keberadaan hilal di tentukan secara matematis dan astronomis, bukan semata-mata berdasarkan pengamatan visual.
4. Mendorong Unifikasi Kalender Islam Global
Muhammadiyah memandang hisab sebagai solusi untuk mewujudkan kalender Islam global yang seragam.
Metode rukyat di nilai sulit menyatukan awal bulan secara internasional karena:
- Perbedaan letak geografis,
- Variasi ketinggian hilal di setiap wilayah,
- Kendala cuaca yang berbeda-beda.
Dengan hisab, penanggalan Hijriah dapat di susun secara sistematis dan berlaku lintas negara, sehingga umat Islam di berbagai belahan dunia memiliki standar waktu yang sama.
5. Akurasi Astronomis dan Perkembangan Sains
Metode hisab menggunakan pendekatan ilmu astronomi modern yang memiliki tingkat akurasi tinggi. Perhitungan posisi bulan dan matahari dapat di ketahui secara presisi hingga hitungan detik.
Berbeda dengan rukyat yang dapat terhalang faktor cuaca seperti mendung atau kabut, hisab tetap memberikan hasil pasti tanpa di pengaruhi kondisi alam.
Pendekatan ini di anggap lebih konsisten, ilmiah, dan sesuai dengan perkembangan teknologi observasi antariksa.
Penggunaan Hisab Hakiki Wujudul Hilal oleh Muhammadiyah mencerminkan upaya mengintegrasikan dalil keagamaan dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Fokusnya bukan pada terlihat atau tidaknya hilal, melainkan pada keberadaannya secara matematis.
Dengan pendekatan tersebut, Muhammadiyah berharap penentuan awal bulan Hijriah tidak lagi menjadi sumber perbedaan yang berkepanjangan, melainkan menjadi bagian dari sistem kalender Islam yang lebih tertib, ilmiah, dan menyatukan umat.**







