Bukittinggi, http://Eksisjambi.com– Banun Kinantan, harimau Sumatra betina yang lahir di Taman Marga Satwa Budaya Kinantan (TMSBK) Bukittinggi, kini genap berusia satu tahun. Anak harimau hasil perkawinan Mantagi dan Bujang Mandeh ini lahir pada 28 Desember 2024 dan tumbuh menjadi satwa yang sehat, aktif, serta menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap lingkungan sekitarnya.
Perjalanan hidup Banun sejak lahir tidak sepenuhnya mudah. Ia hanya mendapatkan air susu induknya selama sekitar satu minggu. Setelah itu, tim medis dan keeper TMSBK mengambil peran penting dalam perawatannya melalui penanganan intensif. Banun di berikan susu pengganti khusus satwa karnivora, di sertai pemantauan kesehatan secara rutin untuk memastikan tumbuh kembangnya tetap optimal.
Seiring bertambahnya usia, pola makan Banun pun mengalami penyesuaian. Kini, daging sapi dan ayam menjadi asupan utama yang menunjang pertumbuhan fisik dan naluri alaminya sebagai predator. Perkembangan tersebut terlihat dari kelincahan geraknya, kekuatan tubuhnya, serta respons aktif saat berinteraksi dengan lingkungan kandang.
Keberadaan Banun Kinantan menjadi magnet tersendiri bagi pengunjung TMSBK Bukittinggi. Banyak wisatawan yang datang khusus untuk melihat langsung harimau Sumatra muda ini, sekaligus mendapatkan edukasi tentang pentingnya menjaga satwa liar yang kini kian terancam.
Lebih dari sekadar daya tarik wisata, Banun merupakan simbol keberhasilan TMSBK sebagai lembaga konservasi eks-situ. Kelahirannya menjadi bukti nyata bahwa upaya pengelolaan satwa langka, jika di lakukan dengan standar perawatan yang baik dan dukungan tenaga profesional, mampu memberikan hasil positif.
Harimau Sumatra sendiri merupakan satwa endemik Indonesia yang berstatus kritis akibat perburuan liar dan menyusutnya habitat alami. Oleh karena itu, keberhasilan membesarkan Banun hingga usia satu tahun di nilai sebagai pencapaian penting dalam mendukung program pelestarian jangka panjang.
Dengan tumbuhnya Banun Kinantan sebagai individu yang sehat dan adaptif, TMSBK Bukittinggi tidak hanya menjaga keberlangsungan satu ekor satwa, tetapi juga menyalakan harapan baru bagi masa depan konservasi harimau Sumatra, khususnya di Sumatera Barat.***







