JAKARTA, Eksisjambi.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa tampilan warna merah pekat hingga jingga pada peta citra satelit NASA tidak serta-merta menunjukkan kualitas udara di permukaan bumi berada pada tingkat yang berbahaya bagi masyarakat.
Penjelasan tersebut di sampaikan untuk meluruskan kekhawatiran publik setelah beredarnya citra dari aplikasi NASA’s Eyes on the Earth yang memperlihatkan wilayah Indonesia didominasi warna merah hingga jingga.
Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, Marjuki, menjelaskan bahwa citra tersebut menggambarkan konsentrasi gas karbon monoksida (CO) pada lapisan atmosfer sekitar 500 milibar, atau berada di ketinggian sekitar 5 hingga 6 kilometer di atas permukaan bumi.
Menurutnya, polutan yang terdeteksi pada lapisan atmosfer tersebut belum tentu telah turun atau bercampur dengan udara di permukaan tanah yang setiap hari dihirup masyarakat.
“Karena itu, warna merah pada peta tersebut tidak bisa langsung diartikan sebagai kondisi udara berbahaya di permukaan,” jelasnya.
BMKG juga menerangkan bahwa gradasi warna merah hingga jingga pada citra satelit hanya menunjukkan adanya akumulasi gas karbon monoksida yang relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah lain pada lapisan atmosfer atas, bukan sebagai indikator langsung tingkat risiko kesehatan bagi manusia.
Selain itu, karbon monoksida merupakan gas yang memiliki waktu bertahan cukup lama di atmosfer. Sifat tersebut membuat gas CO mudah terbawa angin kencang di lapisan atas hingga menempuh jarak ribuan kilometer dari sumber emisinya.
Akibatnya, sebaran warna merah yang terlihat luas pada peta satelit tidak selalu berarti seluruh wilayah tersebut memiliki konsentrasi karbon monoksida yang tinggi di permukaan bumi.
Terkait hubungan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), BMKG mengakui bahwa pada pertengahan Oktober 2026 memang terpantau adanya asap akibat karhutla serta ratusan titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah Sumatra, Kalimantan, hingga Papua.
Meski demikian, emisi karbon monoksida di atmosfer tidak hanya berasal dari kebakaran hutan. Berbagai aktivitas manusia seperti transportasi, industri, hingga pembangkit listrik juga menjadi sumber emisi gas tersebut.
BMKG mengimbau masyarakat agar tidak panik menyikapi citra satelit yang beredar. Untuk mengetahui kondisi udara yang benar-benar berpengaruh terhadap kesehatan pernapasan, masyarakat disarankan memantau parameter kualitas udara yang lebih relevan, terutama partikel halus PM2,5, melalui aplikasi resmi BMKG maupun Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang diterbitkan Kementerian Lingkungan Hidup.
Dengan demikian, informasi kualitas udara yang digunakan masyarakat dalam beraktivitas sehari-hari tetap mengacu pada data pemantauan di permukaan bumi, bukan hanya berdasarkan visualisasi konsentrasi gas di lapisan atmosfer atas.*







