JAKARTA – Nama Josaphat Tetuko Sri Sumantyo kembali menjadi sorotan publik sebagai salah satu ilmuwan Indonesia yang berhasil menciptakan teknologi radar satelit mutakhir bernama CP-SAR (Circularly Polarized Synthetic Aperture Radar).
Teknologi ini di nilai revolusioner karena memiliki kemampuan tinggi dalam pengamatan bumi. Radar CP-SAR mampu menembus awan tebal, kabut asap, hingga memetakan objek yang berada di bawah permukaan tanah. Kemampuan tersebut menjadikannya sangat penting dalam berbagai sektor strategis, mulai dari mitigasi bencana alam, navigasi penerbangan, hingga kepentingan pertahanan dan keamanan.
Sebagai ilmuwan yang memiliki komitmen kuat terhadap tanah air, Josaphat di ketahui sempat berkeinginan untuk mengembangkan teknologi tersebut di Indonesia. Ia berharap inovasi tersebut dapat di manfaatkan untuk memperkuat kedaulatan dan kemandirian teknologi nasional.
Namun, harapan tersebut di hadapkan pada berbagai kendala, terutama terkait birokrasi serta keterbatasan dukungan terhadap riset dan pengembangan. Minimnya fasilitas dan pendanaan membuat pengembangan teknologi ini tidak berjalan optimal di dalam negeri.
Di tengah situasi tersebut, Jepang melihat potensi besar dari inovasi yang di kembangkan Josaphat. Ia kemudian direkrut dan di percaya menjadi profesor di Chiba University. Di sana, ia mendapatkan dukungan penuh berupa fasilitas laboratorium modern serta pendanaan riset yang memadai untuk mengembangkan teknologi CP-SAR secara lebih luas.
Kini, teknologi radar hasil karya anak bangsa tersebut justru berkembang pesat di luar negeri dan di manfaatkan oleh berbagai institusi, termasuk lembaga antariksa dan sektor pertahanan negara lain.
Kondisi ini memunculkan ironi, di mana Indonesia sebagai negara asal sang ilmuwan masih bergantung pada teknologi impor dengan biaya tinggi, sementara inovatornya sendiri harus mengembangkan karyanya di luar negeri.
Pengamat menilai, kasus ini menjadi cerminan pentingnya peningkatan dukungan terhadap riset dan inovasi dalam negeri. Tanpa ekosistem yang kuat, potensi sumber daya manusia unggul di khawatirkan akan terus berpindah ke negara lain yang mampu memberikan ruang dan fasilitas yang lebih baik.**







