Kerinci, Eksisjambi.com – Di sudut tenang Desa Bunga Tanjung, hidup seorang ibu paruh baya bernama Khutmah Setiap hari, ia menghabiskan waktunya di sawah, menapaki lumpur dan panas matahari demi sesuap nasi, Khutmah bukan sekadar petani, ia adalah tulang punggung keluarga yang berjuang di tengah kerasnya hidup pedesaan.
Namun, di balik kerja kerasnya, ada kenyataan getir yang baru-baru ini menimpa diri nya, Beberapa hari lalu, saat pulang dari sawah, ibuk Khutmah mendapati rumahnya gelap gulita. Amper listrik rumahnya di cabut petugas PLN karena tunggakan selama dua bulan dan Bukan karena ia tak mau membayar, melainkan karena penghasilannya yang pas-pasan tak mampu menutup kebutuhan sehari-hari dan tagihan listrik sekaligus.
Kisah ini bukan sekadar tentang listrik yang padam, Ini tentang potret kepedulian yang juga mulai meredup, di mana pemerintah desa ketika warganya hidup dalam kesulitan? Bagaimana bisa seorang kepala desa yang di gaji negara, dengan dukungan Dana Desa setiap tahun, tak mengetahui penderitaan yang di alami oleh salah satu warganya sendiri?
Kepemimpinan sejati tak hanya di ukur dari banyaknya proyek yang berdiri atau jalan yang di aspal, Pemimpin sejati adalah mereka yang hadir ketika rakyatnya kesulitan dan Dana Desa sejatinya bukan hanya angka dalam laporan, melainkan amanah untuk menghadirkan kesejahteraan dan kepedulian nyata hingga ke rumah paling sederhana.
Kini, rumah Khutmah tak hanya kehilangan cahaya listrik, tapi juga cahaya perhatian di tengah gencarnya pembangunan fisik di berbagai pelosok, kisah seorang ibu yang kehilangan penerangan karena dua bulan menunggak tagihan menjadi tamparan bagi nurani.
Karena pembangunan sejati bukan hanya tentang beton dan aspal, tapi tentang memastikan setiap rakyat kecil tetap punya cahaya – baik di rumahnya maupun di hatinya.(*)







