Artikel,http://Eksisjambi.com – “Fatimah adalah bagian dari diriku. Ia cahaya mataku, buah hatiku, dan belahan jiwaku. Ia adalah bidadari yang tampak dalam rupa manusia.” Rasulullah saw
Pada tahun kelima setelah bi‘tsah, saat risalah Islam masih berada pada fase awal perjuangan, Kota Mekah diselimuti suasana kelam. Kemusyrikan merajalela, penyembahan berhala menjadi tradisi, dan kebodohan meracuni sendi-sendi kehidupan sosial. Rasulullah saw dan para pengikutnya berada dalam tekanan berat dimusuhi, diasingkan, bahkan disakiti.
Di tengah situasi penuh ujian itu, Allah menghadirkan peneguhan spiritual melalui peristiwa besar Isra’ dan Mi’raj. Rasulullah saw diperjalankan menembus langit, menyaksikan keagungan alam malakut, dan kembali ke bumi dengan ruh yang semakin kokoh untuk memikul amanah kenabian.
Dalam sejumlah riwayat yang dikenal luas di kalangan Ahlusunah dan Syiah, disebutkan bahwa pada malam Mi’raj, Malaikat Jibril as memberikan buah dari pohon Thuba salah satu pohon surga kepada Rasulullah saw. Sepulang dari peristiwa agung tersebut, buah itu menjadi sebab ruhani bagi kelahiran seorang putri suci: Sayyidah Fatimah al-Zahra as. Karena itulah Rasulullah saw kerap mencium putrinya. Ketika Aisyah bertanya tentang hal itu, beliau menjawab, “Setiap kali aku merindukan surga, aku mencium Fatimah.”
Sayyidah Fatimah al-Zahra as lahir pada 20 Jumada al-Tsaniyah. Ia terlahir dari ayah termulia, Rasulullah saw, dan ibu paling agung, Sayyidah Khadijah al-Kubra—wanita mulia yang mengorbankan harta, kedudukan, dan kenyamanan demi Islam.
Kelahiran Fatimah menjadi jawaban ilahiah atas ejekan kaum musyrik yang menuduh Nabi tidak memiliki keturunan. Allah membantah tudingan itu melalui Surah al-Kautsar, menegaskan bahwa justru dari Fatimahlah keturunan Rasulullah saw akan terus berlanjut, sementara para pembenci beliaulah yang terputus.
Dari rahim suci Khadijah dan cahaya surga, lahirlah sosok yang kelak menjadi mata air keberlanjutan risalah kenabian dan sumber lahirnya para imam pembimbing umat hingga akhir zaman.
Sayyidah Fatimah dikenal dengan sembilan nama penuh makna: Fatimah, al-Shiddiqah, al-Thahirah, al-Mubarakah, al-Zakiyyah, al-Radhiyyah, al-Mardhiyyah, al-Muhaddatsah, dan al-Zahra. Setiap nama mencerminkan kemuliaan akhlak, kesucian jiwa, serta kedudukannya yang tinggi di sisi Allah.
Rasulullah saw menjelaskan bahwa ia dinamakan Fatimah karena Allah memutuskan dirinya, keturunannya, dan para pecintanya dari api neraka. Sementara gelar al-Zahra bermakna “cahaya”. Imam Ja’far al-Shadiq as meriwayatkan bahwa ketika Fatimah berdiri dalam mihrab ibadah, cahaya dari dirinya memancar dan menerangi langit, sebagaimana bintang menerangi bumi.
Pernikahan Khadijah dengan Rasulullah saw membuatnya dijauhi oleh para wanita Quraisy. Mereka memutuskan hubungan sosial, mencemooh, dan meninggalkannya dalam kesendirian bahkan saat Khadijah mengandung Fatimah.
Ketika waktu melahirkan tiba, Khadijah meminta bantuan wanita-wanita Mekah. Namun permintaan itu ditolak dengan kasar. Ia pun menghadapi proses persalinan seorang diri, tanpa keluarga dan sahabat. Dalam kesunyian itu, ia hanya bersandar pada keimanan dan keyakinan bahwa Allah tidak akan meninggalkannya.
Di saat rasa sakit dan kesedihan memuncak, Khadijah menyaksikan kehadiran empat wanita bercahaya. Mereka memperkenalkan diri sebagai Sarah istri Nabi Ibrahim, Asiyah istri Firaun, Maryam binti Imran, dan Kultsum putri Nabi Musa. Mereka datang atas perintah Allah untuk menemani dan membantu Khadijah.
Dalam suasana penuh cahaya itu, Sayyidah Fatimah al-Zahra as dilahirkan. Riwayat menyebutkan, bayi suci tersebut langsung bersujud sebagai tanda kesucian fitrah dan kemuliaan ilahiah.
Peristiwa ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Fushshilat ayat 30, tentang turunnya malaikat kepada orang-orang yang teguh dalam iman, membawa ketenangan dan kabar gembira.
Kelahiran Fatimah adalah nikmat besar yang ditegaskan Allah dalam Surah al-Kautsar. Dari dirinya lahir generasi suci Ahlulbait Imam Hasan, Imam Husein, dan para imam penerus hingga Imam Mahdi afs yang menjadi penjaga risalah dan penuntun umat.
Fatimah bukan sekadar putri Nabi, melainkan poros keberlanjutan spiritual Islam hingga hari kiamat.
Kelahiran Sayyidah Fatimah al-Zahra as bukan hanya catatan sejarah, tetapi peristiwa agung yang mengandung pesan abadi. Ia lahir di tengah kegelapan jahiliah, namun justru menjadi cahaya yang menandai datangnya harapan baru bagi umat manusia.
Di tengah dunia yang masih bergulat dengan ketidakadilan dan kezaliman, kisah kelahiran Fatimah mengingatkan bahwa cahaya ilahi selalu hadir pada saat kegelapan mencapai puncaknya. Cahaya itu membimbing, menguatkan, dan menuntun manusia menuju Allah.
Inilah kisah “Cahaya yang Lahir di Masa Jahiliah”, sebuah hikmah abadi bagi setiap pecinta Ahlulbait.
Disadur dari buku karya Ayatullah Makarim Syirazi, Biografi Wanita Agung Fatimah Zahra. (*)







