Home / Daerah / Internasional / Nasional / News / Sosbud

Senin, 20 April 2026 - 06:36 WIB

Kulit Kidang Kencono: Perpaduan Kearifan Lokal, Seni Rajah, dan Tradisi Metafisika Jawa

Mengulas Kulit Kidang Kencono secara mendalam

Mengulas Kulit Kidang Kencono secara mendalam

Jawa, Eksisjambi.com –  Kulit Kidang Kencono atau yang kerap disebut sebagai Kulit Kijang Emas merupakan salah satu benda yang sarat nilai budaya dan spiritual dalam tradisi Jawa. Benda ini tidak sekadar dipandang sebagai artefak, melainkan sebagai simbol perpaduan antara kearifan lokal, seni rajah, serta keyakinan metafisika yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Istilah “Kencono” yang berarti emas tidak merujuk pada warna fisik kulit kijang, melainkan simbol kemuliaan, keindahan, dan nilai tinggi. Dalam tradisi pewayangan Jawa, Kijang Kencana digambarkan sebagai sosok yang anggun, lincah, dan sulit ditangkap melambangkan keberuntungan, derajat, dan sesuatu yang bernilai langka.

Filosofi ini kemudian melekat pada Kulit Kidang Kencono sebagai simbol harapan akan keberuntungan dan kewibawaan bagi pemiliknya.

Kulit Kidang Kencono tidak di buat secara sembarangan. Prosesnya melalui tahapan panjang yang sering dikaitkan dengan laku tirakat atau disiplin spiritual.

Di mulai dari pemilihan kulit kijang, biasanya diambil dari bagian tertentu seperti punggung. Dalam kepercayaan lama, kulit yang digunakan berasal dari kijang yang mati secara alami atau melalui cara tradisional.

Selanjutnya, kulit tersebut melalui proses penyucian dan pengeringan khusus agar tetap awet dan tidak berbau. Tahap paling penting adalah pemberian rajah, yaitu penulisan simbol-simbol tertentu oleh sesepuh atau guru spiritual. Rajah ini biasanya menggunakan tinta khusus, seperti za’faron atau tinta mistik, dengan pola berupa huruf Hijaiyah atau aksara Jawa kuno.

Baca Juga :  Mustika Delima Nunggal, Antara Kepercayaan Spiritual dan Nilai Budaya di Tengah Masyarakat

Dalam pakem metafisika Jawa, Kulit Kidang Kencono termasuk dalam kategori jimat “pengasihan” atau “sari-sari”. Masyarakat yang mempercayainya meyakini beberapa manfaat, antara lain:

  • Kewibawaan: Memberikan aura karisma sehingga pemiliknya lebih disegani.
  • Kelancaran rezeki: Digunakan sebagai sarana penglaris usaha atau dagangan.
  • Perlindungan diri: Diyakini mampu menangkal niat buruk saat bepergian jauh.
  • Namun demikian, kepercayaan ini bersifat kultural dan tidak memiliki dasar ilmiah.

Penggunaan Kulit Kidang Kencono juga memiliki tata cara tersendiri. Beberapa di antaranya:

  • Di simpan dalam sabuk atau ikat pinggang berbahan kain
  • Di letakkan di dalam dompet, biasanya dibungkus kain mori putih
  • Di jadikan kalung dengan dimasukkan ke dalam tabung kecil (pendul)

Setiap metode penyimpanan diyakini memiliki tujuan dan efek yang berbeda sesuai kebutuhan pemiliknya.

Dalam tradisi Jawa, benda yang dianggap memiliki nilai spiritual biasanya disertai dengan pantangan atau “wewaler”. Kulit Kidang Kencono pun tidak lepas dari aturan ini.

Pemilik dilarang meletakkan jimat di tempat rendah atau melangkahinya. Selain itu, benda ini umumnya tidak dibawa ke tempat yang dianggap kotor secara spiritual, seperti kamar mandi, kecuali sudah dilapisi dengan pelindung khusus.

Baca Juga :  Tradisi Hari Raya Puasa 6 Syawal di Kerinci Provinsi Jambi 

Sikap rendah hati juga menjadi bagian penting. Dalam kepercayaan setempat, sifat sombong atau pamer diyakini dapat menghilangkan “energi” yang terkandung dalam jimat tersebut.

Masyarakat yang berkecimpung dalam dunia koleksi benda tradisional biasanya mengenali Kulit Kidang Kencono kuno melalui beberapa karakteristik:

  1. Tekstur: Tipis, kuat, dan terkadang tampak semi-transparan saat terkena cahaya
  2. Aroma: Memiliki bau khas kulit tua yang bercampur dengan aroma minyak tradisional
  3. Rajah: Tinta meresap ke dalam pori-pori kulit, bukan hanya di permukaan

Kulit Kidang Kencono hingga kini masih menjadi bagian dari diskursus budaya dan spiritual masyarakat Jawa. Bagi sebagian orang, benda ini adalah simbol tradisi dan warisan leluhur. Sementara bagi yang lain, ia dipandang sebagai bagian dari kepercayaan yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.

Terlepas dari pro dan kontra, keberadaan Kulit Kidang Kencono mencerminkan kekayaan budaya Nusantara yang sarat makna, simbol, dan filosofi yang terus hidup di tengah masyarakat hingga saat ini.**

Share :

Baca Juga

Gubernur Riau Di Tahan KPK

Daerah

Gubernur Riau Abdul Wahid Pakai Rompi Oranye dan Diborgol, Resmi Ditahan KPK

Daerah

Sekda Alpian Buka Rakorda Regsosek 2022

Advertorial

Wagub Sani: LVRI dan PPM Motor Penggerak Tingkatkan Cinta Tanah Air

Daerah

Ahmadi Zubir Mohon Maaf Atas Kemacetan Lalin, Saat Daftar Ke KPU
Media Gathering TVRI,

Advertorial

Pemkab Kerinci Terima Piagam Penghargaan Mitra Terbaik Kerja Sama PNBP TVRI Jambi

Advertorial

Pjs Bupati Tanjab Barat Mengikuti Upacara HUT TNI Ke – 79

News

IAIN Kerinci dan  Bank 9 Jambi Jalin Sinergitas dan Penandatanganan MOU 

News

Gubernur Al Haris : Sikap Toleran dan Menghargai Perbedaan Membuat Indonesia Diakui Dunia