Home / Daerah / Internasional / Nasional / News

Senin, 16 Februari 2026 - 09:36 WIB

Memahami Metode Rukyat Lokal, Rukyat Global, dan Hisab Falakiyah Muhammadiyah

Oplus_131072

Oplus_131072

Jakarta, http://Eksisjambi.com – Masuknya bulan suci Ramadhan dan berakhirnya dengan Idulfitri bukan sekadar pergantian tanggal dalam kalender hijriah. Penetapan ini menyangkut ibadah besar umat Islam di seluruh dunia. Sejak zaman Rasulullah ﷺ, umat Islam di ajarkan memperhatikan tanda-tanda alam untuk menentukan awal puasa dan hari raya.

Dalam perkembangannya, para ulama menghadirkan beberapa metode penetapan awal bulan hijriah yang semuanya memiliki dasar syariat sekaligus pertimbangan ilmiah. Di antaranya adalah rukyat lokal, rukyat global, dan metode hisab falakiyah yang di gunakan oleh Muhammadiyah.

1. Metode Rukyat Lokal

Rukyat lokal adalah metode penentuan awal bulan hijriah dengan melihat hilal (bulan sabit pertama) di wilayah masing-masing negara atau daerah.

Metode ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ:

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihat hilal.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam praktiknya, apabila hilal terlihat di suatu wilayah dalam satu negara, maka seluruh wilayah negara tersebut mengikuti hasil rukyat tersebut. Namun jika hilal belum terlihat, bulan Sya’ban disempurnakan menjadi 30 hari (istikmal).

Di Indonesia, metode ini di gunakan pemerintah melalui Kementerian Agama dengan menggabungkan rukyat langsung dan data astronomi modern sebagai pendukung.

  • Kelebihan metode rukyat lokal:
  • Selaras dengan praktik mayoritas negara Muslim
  • Mempertimbangkan kondisi geografis dan astronomis setempat
  • Menggabungkan observasi langsung dengan ilmu astronomi modern
Baca Juga :  Prediksi Idul Adha 1447 H Jatuh pada 27 Mei 2026, Ini Penjelasannya

2. Metode Rukyat Global

Rukyat global menetapkan awal Ramadhan berdasarkan terlihatnya hilal di mana saja di dunia oleh umat Islam yang terpercaya.

Artinya, jika hilal telah terlihat di satu negara Muslim, maka seluruh umat Islam di dunia dapat mengikuti hasil tersebut, tanpa divbatasi wilayah geografis.

Dasarnya adalah keumuman hadis Rasulullah ﷺ yang memerintahkan berpuasa ketika hilal terlihat, tanpa menyebut batas teritorial tertentu.

Kelebihan metode rukyat global:

  • Mendorong persatuan umat Islam secara internasional
  • Tidak terikat batas negara

Namun, metode ini menghadapi tantangan teknis, seperti perbedaan zona waktu, posisi geografis bumi, dan perbedaan kemungkinan visibilitas hilal di berbagai belahan dunia.

3. Metode Hisab Falakiyah Muhammadiyah

Berbeda dengan rukyat yang berbasis pengamatan visual, Muhammadiyah menggunakan metode hisab falakiyah, yaitu perhitungan astronomi untuk menentukan posisi bulan secara ilmiah.

Muhammadiyah menggunakan kriteria Wujudul Hilal, yakni awal bulan di tetapkan jika memenuhi tiga syarat:

  • Telah terjadi ijtimak (konjungsi)
  • Ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam

Saat matahari terbenam, posisi bulan masih berada di atas ufuk (meskipun belum terlihat secara kasat mata)

Dengan metode ini, awal Ramadhan maupun Idulfitri dapat diketahui jauh hari sebelumnya karena berbasis perhitungan astronomis.

Baca Juga :  Wako Alfin Dorong Pemanfaatan Data dan Teknologi untuk Tingkatkan PAD

Kelebihan metode hisab falakiyah:

  • Bersifat ilmiah dan konsisten
  • Tidak bergantung pada cuaca atau pengamatan visual
  • Jadwal dapat ditentukan jauh hari
  • Berakar dari tradisi ilmu falak yang berkembang sejak masa ulama klasik Islam

Perbedaan metode ini bukanlah kesalahan, melainkan bagian dari ijtihad ulama dalam memahami dalil serta memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan.

Semua metode memiliki tujuan yang sama, yakni memastikan waktu ibadah sesuai dengan ketentuan syariat.

Allah SWT berfirman:

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Perbedaan ini menunjukkan keluasan fiqih Islam yang mampu mengakomodasi pendekatan tekstual maupun ilmiah tanpa menghilangkan esensi ibadah.

Dalam menyikapi perbedaan metode penentuan awal dan akhir Ramadhan, sikap terbaik seorang Muslim adalah:

  • Menghormati perbedaan ijtihad
  • Mengikuti keputusan otoritas yang diyakini
  • Tidak menjadikan perbedaan sebagai sumber perpecahan
  • Menjaga ukhuwah Islamiyah

Pada hakikatnya, yang paling penting bukanlah semata kapan kita memulai puasa, tetapi bagaimana kita menjalani Ramadhan dengan iman, takwa, dan keikhlasan.

Karena Ramadhan bukan hanya tentang penanggalan, melainkan tentang peningkatan kualitas ibadah dan kedekatan kepada Allah SWT.**

Share :

Baca Juga

Advertorial

Pjs. Bupati Tanjab Barat: Alhamdulillah, Tanjab Barat Terima 16 Dokter Program Internship Dokter Indonesia
Gubernur Alharis Buka MTQ Ke-54 Tingkat Provinsi Jambi

Advertorial

Gubernur Al Haris Buka MTQ Ke-54 Tingkat Provinsi Jambi 
Xiaomi 15T Series

Daerah

Xiaomi 15T Series, Elegansi Detail dengan Leica Summilux Lens

Daerah

Bupati Kerinci Adirozal Kukuhkan 30 Anggota Paskibraka Kerinci 2021.

Daerah

Rahmad Dzaki Serahkan Langsung Hadiah Pemenang Lomba Dance 3M TikTok Milenial Maron

Daerah

DPR RI Usulkan Gaji PPPK dan PPPK Paruh Waktu Ditanggung APBN

Daerah

Kursi Rajo Bukit Batuang, Jejak Adat Minangkabau

Kota Jambi

Wawako Antos Hadiri High Level Meeting dan Capacity Building TP2DD Provinsi Jambi