Jawa Timur, http://Eksisjambi.com – Nama Raja Airlangga menempati posisi penting dalam sejarah Nusantara sebagai pemimpin yang berhasil memulihkan kejayaan Kerajaan Medang setelah bencana politik besar yang dikenal sebagai Mahapralaya pada awal abad ke-11.
Dengan kepemimpinan yang visioner, Airlangga tidak hanya menyatukan kembali wilayah Jawa, tetapi juga membangun fondasi pemerintahan yang stabil, memperkuat ekonomi, serta meninggalkan warisan budaya yang bertahan hingga kini.
Salah satu sumber utama yang merekam perjalanan hidup dan pemerintahan Airlangga adalah Prasasti Pucangan atau Batu Kalkuta (Calcutta Stone), yang menjadi bukti penting sejarah Jawa Kuno.
Prasasti Pucangan merupakan prasasti batu yang dibuat pada tahun 963 Saka atau 1041 Masehi pada masa pemerintahan Raja Airlangga. Prasasti tersebut ditemukan di lereng Gunung Penanggungan, Jawa Timur, dan kini disimpan di Indian Museum, Kolkata, India.
Keistimewaan prasasti ini terletak pada penggunaan dua bahasa, yaitu Sanskerta dan Jawa Kuno, yang ditulis menggunakan aksara Kawi.
Bagian berbahasa Sanskerta memuat pujian kepada para dewa, silsilah Airlangga dari Wangsa Isyana, kisah kehancuran Kerajaan Medang akibat serangan Raja Wurawari, hingga kebangkitan Airlangga sebagai raja.
Sementara bagian berbahasa Jawa Kuno berisi keputusan administratif mengenai penetapan wilayah Pucangan, Barahem, dan Sapuri sebagai tanah sima untuk mendukung pertapaan yang didirikan Airlangga sebagai bentuk nazar setelah berhasil memulihkan kerajaan.
Airlangga lahir di Bali pada tahun 990 M sebagai putra Raja Udayana dari Wangsa Warmadewa dan Mahendradatta, putri Wangsa Isyana dari Kerajaan Medang.
Perpaduan dua dinasti besar tersebut menjadikan Airlangga memiliki legitimasi politik yang kuat sebagai pewaris sah kekuasaan di Jawa sekaligus Bali.
Peristiwa Mahapralaya terjadi pada 1016 M, ketika ibu kota Kerajaan Medang di Wwatan diserang oleh Haji Wurawari dari Lwaram yang bersekutu dengan Sriwijaya.
Serangan tersebut menewaskan Raja Dharmawangsa Teguh beserta sebagian besar keluarga kerajaan serta menghancurkan pusat pemerintahan Medang.
Saat itu Airlangga yang berusia sekitar 26 tahun berhasil meloloskan diri bersama Mpu Narotama ke wilayah pegunungan. Selama beberapa tahun berikutnya, ia hidup sebagai pertapa sambil menunggu kesempatan untuk membangun kembali kerajaan.
Pada tahun 1019 M, para brahmana dan bangsawan yang masih setia kepada Wangsa Isyana meminta Airlangga untuk memulihkan pemerintahan.
Airlangga kemudian dinobatkan sebagai raja dengan gelar panjang:
- Sri Maharaja Rakai Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa.
- Penobatan tersebut menjadi awal kebangkitan kembali Kerajaan Medang yang kemudian dikenal sebagai Kerajaan Kahuripan.
- Setelah naik takhta, Airlangga membangun pusat pemerintahan di Watan Mas sebelum memindahkannya ke Kahuripan.
Melalui berbagai ekspedisi militer, ia berhasil menaklukkan para penguasa yang memecah belah Jawa, termasuk Haji Wurawari, Bhismaprabhawa, Adhamapanuda, Raja Wijaya, serta sejumlah penguasa daerah lainnya.
Keberhasilan tersebut juga didukung oleh melemahnya Sriwijaya akibat serangan Kerajaan Chola dari India Selatan.
Dalam waktu relatif singkat, Airlangga berhasil mengembalikan stabilitas politik di Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah.
Selain dikenal sebagai panglima perang, Airlangga juga merupakan raja yang memberi perhatian besar terhadap kesejahteraan rakyat.
Berbagai pembangunan dilakukan, di antaranya:
- Membangun Bendungan Waringin Sapta untuk mengendalikan banjir dan mendukung irigasi pertanian.
- Mengembangkan Pelabuhan Hujung Galuh sebagai pusat perdagangan internasional.
- Membuka jalur transportasi darat antardaerah.
- Mendirikan pertapaan dan pusat pendidikan keagamaan.
- Mendukung perkembangan sastra dengan memerintahkan Mpu Kanwa menggubah Kakawin Arjunawiwaha.
Kebijakan tersebut mendorong kemajuan ekonomi sekaligus memperkuat kehidupan sosial dan budaya masyarakat.
Menjelang akhir masa pemerintahannya pada 1042 M, Airlangga mengambil keputusan penting dengan membagi wilayah kerajaannya menjadi dua, yaitu:
- Kerajaan Panjalu (Kadiri) dengan ibu kota di Daha.
- Kerajaan Janggala dengan ibu kota di Kahuripan.
Pembagian kerajaan dilakukan oleh Mpu Bharada untuk menghindari konflik perebutan takhta di antara para pewaris kerajaan.
Setelah itu, Airlangga memilih turun takhta dan menjalani kehidupan sebagai pendeta dengan gelar Resi Aji Paduka Mpungku hingga akhir hayatnya pada 1049 M.
Airlangga dikenang sebagai salah satu raja terbesar dalam sejarah Nusantara karena berhasil membangun kembali peradaban Jawa setelah masa kehancuran.
Keberhasilannya tidak hanya tercermin dari kemenangan militer, tetapi juga melalui pembangunan infrastruktur, penguatan ekonomi, pengembangan sastra, dan terciptanya stabilitas politik yang menjadi fondasi lahirnya kerajaan-kerajaan besar di Jawa pada masa berikutnya.
Hingga kini, nama Airlangga tetap dikenang sebagai simbol kepemimpinan yang bijaksana, visioner, dan mampu mempersatukan negeri di tengah krisis besar.
Lokasi-Lokasi Bersejarah pada Masa Airlangga
- Wwatan (Watan): sekitar Nganjuk–Jombang, Jawa Timur, ibu kota Kerajaan Medang pada masa Dharmawangsa Teguh.
- Watan Mas: sekitar Mojokerto–Sidoarjo, ibu kota awal Airlangga.
- Kahuripan: kawasan Sidoarjo–Surabaya, ibu kota utama Kerajaan Airlangga.
- Daha: Kota Kediri, ibu kota Kerajaan Panjalu.
- Hujung Galuh: Surabaya, pelabuhan utama Kerajaan Airlangga.
- Gunung Penanggungan: wilayah Mojokerto, lokasi ditemukannya Prasasti Pucangan.
Sumber: Disusun berdasarkan kajian sejarah MA Panjul dengan rujukan utama Prasasti Pucangan (963 Saka/1041 M) serta kajian mengenai pemerintahan Raja Airlangga pada masa Jawa Kuno.*







