Eksisjambi.com,Gunung Raya, Kerinci – Di balik keindahan alamnya, Hutan Gunung Raya yang merupakan bagian dari kawasan Gunung Kerinci menyimpan cerita-cerita mistis yang telah hidup lama dalam ingatan masyarakat setempat dan para pendaki. Cerita-cerita ini menjadi bagian dari warisan tak tertulis yang turut membentuk kearifan lokal dan kepercayaan terhadap kekuatan alam dan makhluk gaib.
Salah satu kisah yang paling populer adalah tentang Uhang Pandak, makhluk kecil berbulu dengan tinggi sekitar satu meter, wajah menyerupai manusia purba, dan tubuh yang ditumbuhi rambut lebat. Konon, makhluk ini hidup jauh di dalam hutan dan hanya akan muncul pada waktu-waktu tertentu.
Tak kalah menyeramkan, ada pula legenda Cindaku, sosok manusia harimau yang diyakini sebagai penjaga hutan. Ia dipercaya memiliki kekuatan supranatural dan hanya muncul ketika keseimbangan hutan terganggu oleh ulah manusia.
Kisah lainnya datang dari pengalaman para pendaki yang merasa tasnya tiba-tiba menjadi sangat berat tanpa sebab yang jelas. Fenomena ini dikaitkan dengan keberadaan Hantu Gendong, sosok gaib yang dipercaya menumpang di tas pendaki tanpa permisi. Untuk itu, para pendaki disarankan untuk meminta maaf dengan sopan jika mengalami hal tersebut.
Di jalur pendakian Gunung Raya juga terdapat Pohon Bolong, sebuah pohon besar berlubang yang diyakini dihuni oleh makhluk halus seperti nenek tua dan genderuwo. Masyarakat melarang keras pendaki untuk berhenti, makan, buang air, apalagi berfoto di dekat pohon tersebut, guna menghindari gangguan dari penunggunya.
Pintu Rimba, sebuah titik perbatasan antara ladang warga dan kawasan hutan lebat, juga tidak lepas dari cerita gaib, Selain dipercaya sebagai batas dunia kasat mata dan tak kasat mata, tempat ini kerap dikaitkan dengan kemunculan sosok perempuan berpakaian putih yang sering terlihat berdiri diam tanpa memperlihatkan wajah.
Masyarakat setempat juga meyakini adanya larangan mandi atau bermain air pada pukul 12 siang di kawasan tersebut, terutama di sekitar Pintu Rimba. Waktu tersebut disebut sebagai waktu “bergiliran” makhluk gaib menggunakan sumber air, sehingga gangguan bisa terjadi pada manusia yang melanggar.
Meski cerita-cerita ini terkesan mistis, banyak warga dan pendaki percaya bahwa kisah-kisah tersebut bukan sekadar dongeng pengantar tidur. Mereka mengandung pesan moral untuk menjaga etika, kesopanan, dan kelestarian hutan.
Bagi sebagian orang, cerita ini mungkin hanya mitos. Namun bagi masyarakat sekitar Gunung Kerinci, kisah-kisah ini adalah bagian dari budaya dan warisan leluhur yang mengajarkan bahwa alam bukan hanya tempat, melainkan rumah bagi berbagai kehidupan, baik yang tampak maupun yang tak terlihat.(*)







